Sabtu, 07 Juli 2018

MY LIFE JOURNEY – BRIDE TO BE

Bismillahirrahmaanirrahiim

Waktu lamaran :)
Ini H-1 dari tanggal delapan ke-sebelas semenjak ia memintaku untuk menjadi bagian dari rancangan masa depannya. Dan lebih kurang sebulan lagi mimpi besar itu akan mewujud nyata. Alhamdulillah. Waktu berputar sedemikian cepat. Rasanya baru kemarin acara lamarannya digelar. Sekarang sudah hampir mendekati hari H saja. -,-

Tapi kadang suka gak sabar juga sih. Wkwkwk. Soalnya bulan Syawal inikan emang lagi musim nikahan ya. Bolak balik menghandiri undangan pernikahan kawan, kalo lagi di rumah suara kibotan nikahan sahut menyahut, cemanalah ya kan. Kadang2 terbersit jugak dalam hati, “apa gak silap kemaren itu pas nentukan tanggal nikahnya? Kok lama kali?” Wkwkwkwkw

Di postingan kali ini aku mau cerita tentang foto2 sebelum menikah alias prewed. (Yang sebenarnya sih gak boleh dalam islam). Kalo kata muallim Irhas dulu, sesuatu yang salah harus tetap kita bilang salah, sekalipun kita belum sanggup untuk melepaskannya secara keseluruhan. Contohnya musik, atau interaksi dengan lawan jenis yang intensitasnya sering.

Prewed ini sebenernya terlaksana karena kita butuh foto bagus buat dipajang di acara wedding nanti. Kita juga sempat diskusi ringan tentang prewed. Penting nggak ya kita foto lagi. Sementara kita punya stok foto2 bagus waktu ngetrip2 dulu. Jadilah kita bongkar2 file lama, dan ketemu jugalah foto2 bagus itu. Namun apa hendak dikata, aku adalah perempuan yang banyak maunya. -__-

Dari sekian banyak foto, muka gue polos banget. Ya iyalah yaa.. Secara itu kan foto pas nge-trip, masak iya gue dandanan dan pakek bulu mata palsu segala. Wkwkwk. Biar kate view-nya bagus2, angel fotonya bangus2, tapi karena muka gue polos seada2nya, maka gue pun bilang, “kita kayaknya perlu foto lagi, deh.”

Aku ini pecinta pantai dan dia penyuka hutan, air terjun dan gunung. Coba tebak, lantas dimana kita bakal foto prewed?

Yap! Kita mutusin untuk prewed ke tempat kesukaan gue. Dia gak mendebat aku samsek. Dia menuruti saja kemauanku. (Nanti kamu akan tau seperti apa upah sabar). Kita prewed ke pantai. Kemaren gue disuruh milih mau pantai yang mana. Ada beberapa opsi yang ditawarkannya kemaren, kalo gak salah, Pantai Romantis, PantaiCemara Kembar, Pantai Bali Lestari, dan Pantai Mangrove. Dari semua pantai itu yang paling polos tanpa sentuhan dekor meriah hanya Pantai Mangrove. Masih alami. Gak terlalu banyak ornamen dan spot foto hasil karya tangan manusia. Dan aku memilihnya. Aku lebih suka yang alami. Tapi ya ini sih tergantung selera ya. Hehe.






Jadi pas kesana kita cuman bermodalkan baju couple yang kita beli online dan baju yang kita beli buat acara lamaran. Saat itu aku gak kepikiran sama sekali buat prewed pake selayar. Sumfeh. Yang ada di kepalaku hanya foto prewed outdoor. Dan foto outdoor means baju santai dan make up natural.


Kita ke Pantai Mangrove udah dua kali dan prewed kemaren adalah kali ketiga. Jadi pas nyampek sana, kita langsung nyari spot yang sebelumnya belum kita jamah. Kita emang nyari view pasir dan pepohonan. dan taraaaa... ini dia hasil fotonya. Alhamdulillah, hasil fotonya bagus2 banget dan sama sekali gak mengecewakan. Sepulang dari sana, socmed kita dibanjiri foto2 bagus itu dong pastinya. Tapi mungkin banyak yg gak nyangka kalo itu adalah prewed. Ya kali aja baju kita terlalu santai kali ya? Wkwkwkwk.

Setelah foto prewed di Pantai Mangrove, kita kemudian menjalani hari2 kita seperti biasa. Waktu berlalu, Maret berganti April. April berganti Mei. Mei berganti Juni. Dan finally, Juni berganti Juli. Kita sama sekali gak kepikiran mau bikin prewed sesi dua apalagi tiga. Sampai kita ketemu perias pengantin yang jasanya nanti akan kita pake. Pas ngeliat gaun2nya, aihmak.. ngileeerrr... cantek2 kaleee.. T_T Ku tak kuasa menahan diri dan bilang, “mas, prewed lagi yuks.” T_T

Inilah upah sabar itu, kawan2. Kemaren, beberapa bulan lalu dia legowo untuk prewed di tempat kesenanganku walaupun sebenernya di lubuk hatinya yang paling dalam dia pasti membayangkan betapa indahnya prewed di Hutan Pinus, atau air terjun, atau bahkan Gunung Sibayak. Tapi karena aku suka banget sama pantai, dia menepikan itu semua. Sampai di suatu moment, kita diskusi ringan kembali.

“Yaudah, mau foto prewed dimana lagi adek?”

“Dimana ya mas? Mas mau dimana?”

Langsung dia jawab semangat, “Air terjun Sikulikap.”

Aku agak drama sih pas dengar itu. Karena agak parno-an aja. Kan kata orang2 tuh ye, udah mau dekat2 hari H jangan lasak2, darah manis. Emang sih kita gak boleh percaya2 kali, takut jadinya syirik. Tapi ya itulah dia, aku parno-an orangnya.

Karena dia terus meyakinkan, aku akhirnya berhasil menepikan rasa khawatir dan keragu2anku. Aku setuju, tapi masih dengan “tapi”.

“Tapi kita juga foto prewed di masjid ya, mas.”

You know what? Dia geleng2 kepala. Mungkin dalam hatinya, “ya Allah dek. Mau berapa banyak rupanya fotonya? Mau berapa biji rupanya yang mau dipajang?” Hahahahhahaha... Tapi yang terucap dari bibirnya adalah : “yaudah, iya.”

What a lucky me!

*Intermezzo. Pernah kita ngobrol soal beruntungnya perempuan yang berjodoh dengan lelaki bersuku jawa. Dia bilang, “lelaki jawa itu penurut, suka menghindari perdebatan. Menurut adek gimana?” Ku hanya tersenyum lebar dan berucap, “ayaflu, mas.”*

Kemaren dia juga menawarkan pilihan beberapa masjid, Masjid Al-Musannif Cemara, Masjid Raya Medan, dan Masjid Kuning Al Osmani Labuhan. Awalnya kita kepingin di Masjid Al-Musannif Cemara. Tapi berhubung Masjid Kuning Al Osmani lebih dekat, jadi kita mampir dulu. Pas dipandang2, cantik masjidnya. Langsung deh izin sama BKM-nya. Hehe. Niat awalnya sih, nanti habis dari Masjid Kuning, kita ke masjid Al-Musannif lagi. Tapi pemirsah, foto2 itu capek rupanya. Karena udah lelah dan pas lihat hasilnya udah bagus2 banget, kita jadi males ke Al-Musannif. Udah ah, ini aja. Nanti banyak2 nampak kali congoknya. Wkwkwkwk.




Dan taraaaa... sampailah kita di hari foto prewed di Air Terjun Sikulikap.

Propertinya lengkap, gaes. Ada balon bentol2 warna warni, ada pipa asap, ada bunga cantik. Perasaan pas foto prewed di pantai propertinya yang udah ada aja. Kayak tenda, sofa angin, hammock, payung warna warni, sama si tampan aja. -__- Eh pas ke Sikulikap, kita belanja duluk. wkwkwkwk. :p



Jalur Sikulikap
Dan yang paling oke adalah, kita pake dua kostum. Baju lapangan daaaann gaun selayar serta jas. Apa gak ntap jiwa kali? Pas di pantai kemaren cuman pakek kaos couple dan gamis duyung serta kemeja doang. Lah ini di tempat kesukaannya mas, kita pakek selayar dan jas. What a ....... Inilah yang kusebut upah sabar. :”)

Karena dia sabar, dia dapatkan lebih dari apa yang dia bayangkan. Alhamdulillah. ^_^

Air Terjun Sikulikap itu tepat berada di bawah Penatapan. Sudah masuk ke wilayah Kabupaten Karo. Air terjunnya besar, tinggi, cantik banget. Tracking ke bawah gak jauh. Paling ada dua puluh menitan. Jalurnya gak ekstrim2 banget. Tapi ya gimana juga tetep harus hati2 ya, gaes. Sebelah kirinya jurang soalnya.

Tapi ini cocok banget disinggahi. Aksesnya mudah. Dari Medan paling ada satu setengah jam. Pintu masuknya di tepi jalan. Persis di Penatapan deh pokoknya. Kali2 aja ada yang mau mampir ya kan. Hehe.

Akhirul kalam, kita jadinya foto prewed di tempat2 yang kita sukai. Di pantai, masjid, dan air terjun. Fabiayyi ‘alaa irobbikuma tukadzibaan. Sunggu tidak ada satu pun nikmat yang pantas untuk didustakan. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Kita menyukai alam, dan alam membuat kita saling menyukai. Aku akhirnya jatuh cinta pada air terjun, ia juga akhirnya jatuh cinta pada pantai. Dan kedua tempat itu membuat kami semakin saling jatuh cinta. Semoga semesta menyatukan dalam ikatan yang dirihoi Tuhan. Insya Allah.

*Intermezzo (lagi). Hubungi Pangeran Photograpy kalo kamu butuh moment untuk diabadikan, ya. Hehe.*

Kamis, 31 Mei 2018

SEDEKAH TERBAIK


#CeritaRamadanKu #Day11

Bismillahirahmanirrahim.

Mumpung masih Bulan Ramadan, bulan dimana Allah akan lipat gandakan ganjaran, sudah berapa kali menebar kebaikan hari ini?

Hari ke-sebelas, alhamdulillah masih diberi kesehatan, sehingga bisa menulis blog ini. Berusaha memberi hal yang berguna melalui tulisan, semoga akan menjadi amal jariyah nantinya. Aamiin.

Sebaik2 manusia adalah ia yang bermanfaat buat orang lain. Aku men-cam-kan benar hadist ini di kepalaku. Selagi Ramadan, menebar manfaatnya juga harus lebih getol. Ngeblog sebulan penuh dengan postingan2 yang bermanfaat, salah satunya.

Sumber : Google
Btw, sudah berapa orang yang kamu berikan senyum tulus hari ini? Sudah berapa banyak orang yang kamu buat lebih ceria hari ini? Ingat, senyum kita yang tulus adalah sedekah. Bayangin aja, senyum doang dihitung pahala. Wow!


Sumber : Google
Berbagi dengan orang lain memang tak melulu tentang uang, menyenangkan orang lain dengan senyuman kita, dengan kesopanan kita, dengan adab dan sikap hormat kita juga adalah berupa sedekah. Maha Pemurah Allah yang gak hitung2an ngasi kita pahala.

Eh, ngomongin soal sedekah, ternyata ada tiga sedekah yang paling utama.

Yang pertama sedekah jariyah. Duh, kalo sedekah yang satu ini, jangan ragu2 deh. Pahalanya ngalir terus sampek kita udah di balik papan, geng! Sedekah model ginian itu bisa kita dapat kalo kita membantu membangun masjid, membuatkan saluran air, atau hal lain yang memberikan manfaat secara berkesinambungan buat orang lain. Selama apa yang kita usahakan itu digunakan, maka selama itu pula pahalanya ngalr ke kita. Apa gak sedap?

Terus, sedekah yang kedua adalah sedekah dengan sembunyi2. Biar gak riya. Biar maksud dari sedekah kita gak bersayap. Iya, biar kita gak merasa kita yang paling dermawan, kita yang paling soleh, kita yang paling peduli sama fakir miskin. Kalo kita pamer sama sedekah kita, bisa jadi pahalanya malah hilang. Oh, no!

Yang terakhir, ternyata, sedekah kita kepada kerabat yang kekurangan juga adalah sedekah yang terbaik. Kenapa demikian? Karena seperti hadist yang diriwayatkan Tirmidzi, “bersedekah kepada orang miskin adalah satu sedekah, dan kepada kerabat ada dua kebaikan; sedekah dan silaturahmi.”

Intinya, kita lihat kerabat dulu. Jangan sampai kita rajin bersedekah kepada fakir miskin atau panti asuhan, atau ke masjid, tapi malah masih ada kerabat kita yang membutuhkan uluran tangan kita. Yuk, lihat siapa kira2 kerabat kita yang butuh kita lihat, kita jenguk, atau kita berikan sedekah.

Seperti apapun bentuk sedekah yang kita lakukan, semoga akan memberikan kebahagiaan buat saudara2 kita yang membutuhkan. Aamiin.

Jadi, sudahkah membuat orang lain tersenyum senang hari ini?

KENAPA ALLAH MEMBENCI PASAR?


#CeritaRamadanKu #Day10

Bismillahirahmanirrahim.

Alhamdulillah, di hari ke-10, masih dalam keadaan mamnu’ dan bisa manfaatin waktu ini buat ke pasar, belanja keperluan hari raya. Kalo dinanti2kan, takut pasarnya keburu padat, dan daku tak akan sanggup berdesak2an disana apalagi kalo udah suci alias udah puasa. Itu pasti berat, jadi biar Dilan aja. Jangan aku. -,-


Btw, ngomongin soal pasar, ternyata pasar adalah tempat yang paling dibenci Allah. dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Muslim berbunyi, “tempat yang paling Allah cintai adalah masjid, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar.”

Sumber : Google
Kok gitu? Bisa jadi karena di pasar banyak sekali keburukan2 yang terjadi. Bisa jadi karena kecurangan, penipuan, riba, dan lain2. Contoh kecil aja, pas lagi tawar menawar nih.

“Kak, segini aja, ya.”

“Haduh, itu harga modal pun belum sampek, kak.”

Padahal bisa jadi kalimat yang dikatakan si penjual mengandung dusta. Ini memang hal kecil, tapi tentu sudah masuk ke dalam kategori keburukan.

Belum lagi kalalaian yang sangat mungkin terjadi di pasar. Saking serunya hunting barang2 keperluan dapur dan kepentingan di hari raya nanti, kita gak sadar udah berjam2 keliling2. Kita bahkan gak tau waktu sekarang masih waktu Dzuhur atau sudah masuk waktu Ashar. Naudzubillah.

Ditambah lagi, di beberapa pasar, tempat sholatnya kecil, di sudut, kadang2 sulit dijangkau saking luasnya pasar tadi, dan mukena yang ada disana itu gadelnya udah kayak kain lap dapur. Kita tau itu, tapi jarang sekali membawa perlengkapan solat kalo belanja. Ujung2nya, dengan sedemikian rupa ke-ribet-an yang akan dihadapi kalo solat di mushola pasar, solat pun menjadi bukan prioritas. Kalo begini ceritanya, ya wajarlah ya Allah paling benci yang namanya pasar. -__-

Belum lagi kalo ke pasar yang banyak ciwi2 pake baju seksi. Biasanya sih di pasar modern nih banyak. Ke pasarnya pake celana pendek, dan kaos ketat. Hadeeeehh. Saran nih, buat para istri, kalo belanja, suaminya ditinggal aja di parkiran. Daripada banyak dosa gegara gak bisa tunduk pandang. -,-

Tapi, anyway, kita gak bisa pungkiri kalo pasar adalah tempat berniaga. Tempat mencari rezeky, tempat untuk berikhtiar mencari ridho Allah juga. Jadi jangan anti sama pasar. Jangan sampek gegara takut  dengan segala keburukan yang ada di pasar, gak jadi belanja. Kita hanya butuh menjaga diri kita dari hal2 yang kira2 dibenci Allah.
Sumber : Google

Sama satu lagi, jangan sampek karena urusan dunia, lantas kita lupa kewajiban kita. Jadi teringat baliho di sebuah masjid,

“Berapa besar gajimu, sampai berani kau tinggalkan sholatmu?!”


Bismillah, semoga kita tetap bisa masuk pasar tanpa terjerumus dalam keburukan pasar tersebut ya. Aamiin.

Eh, btw, pasar masih sepi. Masih enak banget kalo mau belanja. Yuk. ^_^

Minggu, 27 Mei 2018

BUKU IDAMAN

#CeritaRamadanKu #Day9

Bismillahirahmanirrahim.

Sumber : Doc. Pribadi
Aku baru aja ngeberesin rak buku yang berantakan dan langsung kepikiran kira2 buku apa ya yang jadi buku favoritku selama ini. Dulu, aku suka banget baca buku. Kebiasaan ini sudah ada sejak SMA. Kalo gak ada guru, aku lebih senang baca buku. Tapi bukan buku pelajaran, hahaha.

Sumber : Doc. Pribadi
Bacaanku dulu itu komik dan novel. Saat kawan2 heboh dengan hp, aku khusu’ dengan buku. Gak tau deh kalo zaman dulu itu udah ada sosmed, ya. Seingatku, pas masih kelas X, sosmed yang lagi digandrungi itu namanya Friendster. Terus mainnya harus pake PC. Kan zaman dulu belum ada android. Jadi kalo pun kawan2 sibuk dengan Hp, palingan ya dipake buat smsan. Jangan tanya kenapa aku gak smsan, ya. Wkwkwwk.

Dulu, aku termasuk kategori cewek cupu. Duniaku ada di khayalanku. Ini juga yang ngebikin aku suka sama novel2 teenlit, dimana di novel itu pasti akan selalu ada kisah cewek cupu yang kemudian jatuh cinta dengan seorang cowok beken. Hahha. Iya, masa remajaku emang masa2 absurd.

Sumber : Doc. Pribadi
Kesukaanku membaca ini juga yang membuatku memutuskan membuat blog pribadi tahun 2008. Udah lama banget ya usia blog ini. Hehe. Awalnya bikin blog cuman buat laman curhat aja. Kayak tag line di atas, “sekedar melepas kegundahan hati, karena menulis itu relaksasi.” Setelah banyak membaca dan merasakan manfaatnya, aku jadi kepingin nulis biar tulisanku bisa  dibaca orang lain. Bisa bermanfaat buat orang lain. Gak sekedar curhatan, tapi bisa menebar kebermanfaatan.

Tapi semakin kemari, semakin banyak kesibukan, semakin banyak urusan, dan semakin banyak sosmed, buku jadi kurang rajin di sentuh. Koleksi buku2 lama udah jarang banget di pegang. Bahkan ada beberapa buku yang sudah lama kubeli tapi belum tuntas kubaca. Astaghfirullah. -_- Paling banter baca blog orang doang. -,-

Untung saja, aku bukanlah seorang muslim yang bego banget sampe bisa jauh dari satu buku suci, pedoman hidup. Apalagi pas Ramadan, gini. Gak ngaji, rugi. -,- Sebenernya bisa2 aja sih ngajinya pake Hp, tapi kadang2 kalo udah pegang Hp, lain yang dibuka. Kalo pun dibuka aplikasi Al-Quran, pasti bakal terganggu karena begitu ada notif yang masuk, tangan pasti gatel buat buka. Makanya aku lebih mengupayakan ngaji pake Quran langsung. Pake aplikasi cuman kalo ngajinya gak di rumah.

Terus, kembali ke apa yang kupikirkan tadi.

Buku apa ya yang aku pengen tapi belum punya sampek seakrang?

Sumber : Google


Buku yang diinginkan para jomblo. Wkwkwkwkwk. Bukan cuman diinginkan. Kalo ini mah buku idaman. Hahahahhaa. :D

Sumber : Google
Dari sekian banyak buku di rak yang aku punya, yang menjadi buku favorit dan belum dapet sampek sekarang cuman buku itu.  Dimana itu beliknya, ya? -,-

Semoga kita, para jomblo fi sabilillah segera bisa dapetin buku itu ya. Banyakin berdoa, bermunajat kepada Allah, Sang Pengasih dan Penyayang. Juga saling mendoakan. Manatau ya kan, habis lebaran dipinang. Hehehe. Aamiin.

Oia, doakan kami, agar dapat melaksanakan prosesi kepemilikan buku itu dengan baik ya. Aamiin.


SALING, DONG ...


#CeritaRamadanKu #Day8

Bismillahirahmanirrahim.
Sumber : Google
Hari kedua dikasi keistimewaan sama Allah buat gak ikutan berpuasa. Dan dapat keistimewaan juga di rumah buat gak ikutan nyiapin menyajikan makanan sahur hari ini. Hehe. Alhamdulillah ya, pas mau bangkit, mamak bilang, “gak puasa, kan? Mamak aja yang nyiapkan.” Kok senang kali aku ya? Hahaha.. :p

Aku baru bangun jam 6 pagi dengan perut laper, dan langsung melongokkan kepala ke lemari makan. Ada sisa menu sahur yang kumasak pas berbuka semalam, plus telur dadar. Hmm.. kok masih ada sisanya telur dadarnya? Biasanya kalo bikin telur dadar, langsung dihabisin. Karena gak bakal enak kalo sampek sore lagi.

Dengar suara grasak grusuk di dapur, mamak yang lagi nonton tv nyeletuk, “itu ada telur dadar. Mamak suruh disisakan adekmu tadi. Manatau kau mau.”

Ohh.. perintah big boss rupanya. Pantesan. Inilah mungkin indahnya toleransi di dalam rumah. Kalo mamak gak memikirkan aku yang lagi gak puasa, mungkin dibiarinya aja telur dadar itu diembat adik2ku. Toh aku kan bisa masak sendiri nanti. Tapi nggak, gaes. Sengaja disisain. Apa nggak enak. :D

Siangnya, giliran aku yang mengaplikasikan toleransi. Aku berupaya untuk nggak makan dan minum di depan mamak dan adik2ku. Adik2ku udah gede. Udah dewasa. Gak bakal kayak anak2 yang kalo ngeliat orang makan atau minum di siang hari bakal kepingin tempus (tembak puasa). Tapi tentu aku harus menghormati mereka yang sedang berpuasa. Disinilah arti kata saling itu harus diterapkan.
Sumber : Google
Kita nggak bisa loh mengharap untuk dihargai kalo kita sendiri nggak menghargai orang lain. Dan gak bisa juga kalo kita hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti orang lain. Ini contoh simpel dari dalam keluarga. Bayangkan gimana manisnya ukhuwah kita kalo gak perlu lagi bersitegang perihal ‘orang yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa’ atau ‘yang tidak berpuasa harus menghormati yang berpuasa’.

Saling, dong...

*Ibarat kata nih ya, cinta gak akan indah kalo gak ada dua orang yang “saling” di dalamnya. Haaaatttssyyiiimm. Iya. Bayangin kalo cintamu bertepuk sebelah tangan muluk. Sakit, geng! Sakit!*
Sumber : Google

Gitu juga dengan toleransi. Coba kalo sama2 toleransi, sama2 saling menghargai, dan sama2 saling menghormati. Kan pasti bakal nyaman banget ya rasanya. Makanya, yuk, ajarkan toleransi mulai dari dalam rumah. Jangan makan atau minum di depan mereka yang sedang berpuasa, apalagi di depan anak kecil yang sedang belajar berpuasa. Hargai kerja keras mereka untuk taat. Mungkin kalo pun kita makan di depan mereka, mereka mah cuek aja. Karena iman yang kokoh takkan terusik hanya karena air putih segelas di hari yang panas. Yang perlu dipertanyakan adalah, sebegitukah tipisnya rasa malu-mu untuk bersenang2 dengan segelas air ditengah perjuangan orang lain untuk melupakan rasa hausnya?

Demikian aja, semoga bermanfaat. ^_^

BAJU BARU : TRANSMIGRASI JAMAAH


#CeritaRamadanKu #Day7

Bismillahirahmanirrahim.

Halo Ramadan ke-7.. Waaahh.. gak terasa udah seminggu berlalu. Alhamdulillah, lebaran tinggal 23 hari lagi.. Gimana? Sudah lapangkah shaf sholat taraweh di masjid-mu? Semoga masih padat ya. Semoga kita masih setia memakmurkan masjid. Aamiin.
Sumber : Google

Sebentar lagi, jamaah akan tereliminasi oleh waktu. Hanya yang kokoh imannya yang akan tetap kelihatan di masjid melaksanakan sholat taraweh. Tak diyana, sholat taraweh memang adalah salah satu ibadah sunnah yang paling berat. Beragam alasan muncul begitu Ramadan berlalu seminggu. Biasanya kalo masih minggu pertama gini, alasan gak ke masjidnya karena “masih kenyang nih habis buka puasa. Taraweh di rumah aja deh” atau karena buka bersama. Nah, bentar lagi, minggu ke dua dan ketiga, alasannya sudah bukan lagi malas. Tapi berburu baju baru.

Sumber : Google

Kenapa ya, kalo lebaran harus pake baju baru?


Kalo menurutku, ini hanya budaya saja. Dulu, pas masih kecil, aku termotivasi untuk belajar puasa full karena iming2 baju baru. Takut gak dibelikan baju baru kalo gak ikutan puasa. Jadi sampek sekarang rasanya kalo lebaran gak pake baju baru tuh rasanya gimanaa  gitu. Padahal gak lebaran pun, beli baju baru jugaknya ya kan. Biasa2 ajanya rasanya. Tapi ya gitu lah. Udah kayak budaya yang udah erat banget. Jadi susah dilepasnya.

Sumber : Google
Sejatinya, lebaran adalah perayaan karena kita sudah mampu melaksanakan puasa sebulan penuh, dan tekun beribadah. Nah, baju baru itu ibarat reward atas diri kita sendiri. Aku emang suka gitu, sih. Memberi hadiah untuk diriku sendiri. Biar semangat makin menggebu. Jadi untuk baju baru lebaran, itu kuanggap sebagai penghargaan atas pelaksanaan puasa dan amal ibadah lain yang kumaksimalkan di Bulan Ramadan.

Mungkin ini juga yang ada dipikiran kalian.

Tapi... karena baju baru, shaf sholat tarawih di masjid semakin hari semakin menyusut. Yang ada di dalamnya hanya uwak2, atok2, nenek2, dan mereka yang usianya sudah di atas paruh baya. Kemana yang lainnya? Melakukan transmigrasi dari tempat yang padat (masjid) ke pasar dan mall (yang tadinya lapang). Akhirnya, masjid jadi sepi, dan mall malah jadi padat.
Sumber : Google

Coba deh perhatikan di minggu kedua dan ketiga nanti. Masjid semakin lapang, jalanan semakin rame, mall makin padat, dan toko baju nambah karyawan. Semua berburu baju baru untuk di pakai di hari nan fitri.

Aku udah kepikiran sama hal ini dari jauh2 hari. Kemaren malah sempat kepikiran mau beli baju lebaran sebelum masuk Ramadan. Tapi karena satu dan lain hal, jadi belum kesampean. Mungkin kamu juga berpikiran sama. Jadi, kita upayakan yuk, untuk nggak bikin masjid sepi gegara hunting baju baru. Kita upayakan ke mall-nya siang hari. Jadi malamnya sempat taraweh.

Jangan sapek karena baju baru, kita ketinggalan melaksanakan amalan2 yang cuman ada di bulan ini doang. Rugi bandar! Mari manfaatkan Ramadan kita sebaik mungkin. Semoga kita bukan bagian dari pelaksanaan transmigrasi jamaah dari masjid ke mall. Aamiin.

Sabtu, 26 Mei 2018

SIRUP DITIKUNG


#CeritaRamadanKu #Day6

Bismillahirahmanirrahim.

Sudah hampir seminggu berlalu, alhamdulillah, siang hari di bulan puasa kali ini gak terlalu ekstrim panasnya. Cuaca Kota Medan lagi enak banget. Adem, sedikit hujan banyak rindunya. *Eh? Jadi perjalanan ke sekolah sebagai pendamping siswa untuk kegiatan Pesantren Ramadan juga gak terlalu menyiksa. Soalnya pulangnya habis Sholat Dzuhur berjamaah, dan itu artinya sedang tengah hari tho. Dan lagi, jarak sekolah antara sekolah dan rumah lumayan. Ya bayangin ajalah gimana Tanjung Mulia – Belawan. -,-

Syukur alhamdulillah, cuaca sedang berpihak kepadaku dan kepada kita semua yang lagi berpuasa. Jadi gak haus2 banget. Hehe. Jadi billboard sirup di beberapa perempatan yang kulalui juga gak terlalu berpengaruh. Biasa2 aja tuh rasanya ngeliat minuman warna warni yang dikasi es batu, kadang dikasi aksen buah2an, dibikin menarik dengan warna mencolok. *Gak goyang kali la iman akak, dek. Wkwkwk.

Cuaca ini juga yang membuatku menjadikan sirup menjadi opsi ke-sekian untuk buka puasa di Ramadan kali ini. Kalo dulu, masih jam lima sore udah motongin semangka bentuk dadu, terus siram pake sirup, terus masukin kulkas. Begitu bedug, langsung glek.. glek.. glek.. Rasanya kayak surgaaa. *Eh, baru sirup aja berasa surga. Lebay boleh, jangan? -,-

Tapi kalo sekarang, posisi sirup ditikung oleh teh manis hangat.



Iya, kayak minuman orang tua ya. -__-

Apalah hendak dikata. Barangkali usia juga sudah mulai menentukan apa yang cocok untuknya. Sekarang udah gak terlalu tertarik dengan minuman dingin. Rasanya nggak nyaman aja ditenggorokan. Ternyata setelah di search, menurut ahli gizi Dr. Dr. Saptawati Bardonoso M, Sc, saat puasa suhu tubuh akan menurun sehingga dikhawatirkan bila langsung minum es, tubuh akan kaget. (seperti dilansir Liputan6.com)

Berarti, Allah maha baik, ngasi cuaca adeeeemmm banget, sampek bisa menepikan sirup beserta es-nya saat buka puasa. Alhamdulillah.

Biar gak bosen sama teh manis hangat mulu pas buka puasa, aku punya beberapa opsi lain yang bisa dipake. Selain sirup tentunya. Karena sirup ini, kalo gak pake es kayak bukan minum sirup. Jadi apalah daya, Ramadan kali ini, sirup tak terjamah.

Salah satunya, minuman pengganti untuk buka puasa adalah jus. Tentu saja tanpa es. Dengan sedikit gula, dan tekstur yang kental, minuman ini bisa bikin buka puasa jadi istimewa. Bikin sendiri aja. Kalo beli, untuk satu keluarga kan mubazir. Bagusan beli buahnya di pajak, trus blender sendiri. Puas. Jangankan untuk buka, untuk sahur nantipun masih ada stoknya. Wkwkwk. *Kok udah kayak mamak2? Wkwkwkkw*

Opsi lainnya adalah cendol. Bikin sendiri. Manisnya alami karena pakek gula murni plus senyum seikhlas hati. Hihihi. Tapi opsi ini masih jarang banget dipilih karena emang kurang doyan, sih. Kalo pun dibikin, ya aku tetap minum teh manis hangat aja. *Karena aku dan dia sekarang udah susah banget dipisahkan. -,-

Satu lagi, susu hangat. Boleh vanila, boleh cokelat. Aku sih suka dua2nya. Haha. Biar gak bosan di selang selingin aja. Tapi jangan terlalu kental. Nanti rasanya jadi lebay, dan susah nelannya. Jangan juga terlalu encer. Yang sedang2 saja. *Seperti cinta kita, tak perlu membara asal hangat selamanya. Hahahahhaatttsyyiiimmm.*

Nah, jadi beberapa opsi di atas bisa banget kamu pilih untuk jadi menu pengganti sirup selama kota Medan lagi konsisten sama suhunya yang adem. Semoga puasanya tetap lancar ya.. ^_^