Rabu, 10 Juli 2019

UNTOLD STORY BETWEEN US 2


Baca sebelumnya disini UNTOLD STORY BETWEENUS


Jadi karena tak bisa membendung rasa kagum dan kepingin, jadilah aku suatu ketika bilang,

“Sekali-kali ajak gue, dong pret.”

Ini juga adalah cerita awkwark kita. Jadi entah gimana ceritanya dulu, kita gak saling memanggil nama. Awalnya sih blio manggil “ibuk” ya kan secara ibuk guru kan yaa. Aku juga manggil Bapak. Kemudian seiring waktu tetiba jadi panggil lo-gue. Padahal usia kita terpaut jauh loh. Gatau kenapa kalo di sebelah dia tuh rasanya kayak lagi bareng temen sejalan aja. Jadi kayak gak ngerasa lagi ngobrol sama orang yang lebih tua. Pembawaan mas suami ini emang easy going, santai, woles, dan terus terang itu berefek signifikan sama wajahnya. Jadi awet muda gitu. Bukan muji karena blio emang suami gue sih. Tapi that the truth.

Nah, terus, kenapa diujung kalimatku ada ‘pret’ nya? Ini juga entah gimana jadi melekat dipanggilan kita dulu. Kampret. Kasar ya. Berdosa sekali hamba. T_T

Tapi ya begitulah. Dulu itu, kita biasa aja manggil pret. Tapi itu hanya di bahasa chat doang. Kalo pas ketemu beneran di sekolah ya teteuupp Bapak-Ibu. Hehehe.

Nah, jadi suatu ketika, mas suami dan temen-temennya punya rencana mendaki gunung Sibayak. Nah, diajaklah gue. Bayangin gimana girangnya aku saat itu sodara-sodara? Dengan semangat menggebu, aku kemudian ngajakin adikku buat join. Terus terang aja nih, gimana pun juga kumasih lebih merasa aman kalo di perjalanan kita itu ada dia.

Itu hari Sabtu, yang mana aku masih masuk kuliah, dan pulangnya habis dzuhur. Sementara, pada janjian di stasiun Sutra jam 1 siang. Perjalanan dari kampusku kesana makan waktu 1  jam lebih kurang. Dan itu artinya mereka bakal nunggu lama. Mungkin blio juga sangsi kali ya, ni anak beneran jadi ikutan gak sih? Wkwk.

Senyum blio mengembang begitu lensanya menangkap sosokku turun dari angkot. Ciiyeeee.. Dia berharap sekali aku datang. Hahaha. Jadilah kita berangkat menuju kaki gunung Sibayak dengan menaiki bus Sutra. Dengan semangat, blio ngajak aku buat duduk di atap bus.

“Naik buk Lita, saya pegang. Gapapa.”

Ebuset.. Seumur-umur, kalo mudik ke rumah ribu naik Sutra, gak pernah duduk di atas. Lah ini, apa cerita? Aku ngelirik-lirik kawan-kawan yang ciwi-ciwi, semuanya pada tanggap mau naik. Termasuk adekku.

“Ayok kak. Enak di atas.”

Dan itulah kali pertama aku naik bus dan duduk di atas atapnya. Cerita gimana kita di perjalanan ini  udah pernah kutulis disini MENYENTUH PUNCAK SIBAYAK.

Well, perjalanan pertama kita ini benar2 unforgetable. Lantas, kalo perjalanan pertama sangat berkesan, apakah akan ada perjalanan kedua, ketiga dan seterusnya? Of course, bahkan sepanjang hidup kita akan berjalan bersama. Hasseekk.

Btw, kita pernah jalan bareng bukan berarti saat itu ada sesuatu yang lebih diantara kita. Yaa walaupun sebenarnya gossip-gossip tentang kita di sekolah sudah merebak. Mungkin orang-orang gak tau, di sepanjang perjalanan, silih berganti orang mencoba masuk di kehidupna pribadi kita masing-masing.

Di saat yang tidak diduga, teman lama datang kembali ke hidupku dengan maksud tertentu. Gak tau gimana ceritanya, pokoknya kita sempet jalan dan bahkan sempet mengira, ‘apakah ini yang namanya jodoh itu?’

Di lain sisi, blio ya sudah jelas lah yaa, bertemu dengan orang-orang lain yang lebih bermacam-macam jenisnya. Mulai dari penggemar di circle sekolah, entah itu siswanya atau alumni (mas suami ini dulunya selain hobi bertualang juga hobi terbar pesona. Jadi jangan heran kalo di dekatnya ada aja ciwi-ciwi), penggemar di komunitas pecinta alam, kenalan di fesbuk, sampek dijodohin orang. Beragam lah kalo blio mah.

Tapi di sela-sela berkenalan dengan orang lain, komunikasi kami yang memang hanya sekedar teman dekat, terus berjalan. Kita saling menceritakan tentang orang baru yang kita kenal tersebut. Saling meminta pendapat. Saling support. Semacam itulah. Itu terus berlanjut bahkan ketika orang-orang baru yang tersebut berganti.

Kayak suatu ketika, saat kusadari teman masa lalu itu ternyata bukan jodohku, aku bertemu lagi dengan orang lain. Seiring jalan, waktu mengatakan ternyata dia juga bukan jodohku. Sampai kemudian ketemu lagi dengan seseorang yang hampir menjadi masa depanku. Hampir means sedikit lagi ya bakal jadi. Itu sudah kutulis disini


Bahkan sampek ada bagian keduanya,


Begitulah, Allah punya rencana yang lebih baik, yang tepat, dan pantas untuk kita terima. Mereka ternyata bukanlah terjemahan dari ‘jodoh’ yang kucari. Di lain sisi, mas suami juga demikian. Blio berkenalan dengan beberapa wanita (yang kesemuanya) siap untuk menerima lamaran blio. Tinggal pilih, coy! Bukan kaleng-kaleng babang nii. Tapi pemirsa, blio gak memilih satu pun. Aku sih mikirnya, mungkin karena belum nemu aja yang tepat kali ya. Makanya belum mementukan pilihan.

Karena kepo, barusan aku tanya langsung ke blio. Barusan banget. Katanya dia gak memilih mereka karena sudah ada aku di hatinya. Hahahahha. Sejak perjalanan ke Sibayak katanya. Mungkin blio terpesona juga kali ya aku sanggup nanjak. Gak kebayang kali ya blio kalo aku yang pake heels dan ber-maskara ini bisa naik gunung. Hahahahahaa.

Tahun berganti. Semakin hari, semakin dekat dan semakin nyaman. Blio jadi orang pertama yang kucari setiap aku kesel, sedih, senang, gabut, bahkan saat patah hati. Dan blio selalu jadi sosok lelaki bijak yang menasehatiku bahwa dunia tak selebar daun kelor. Bunga tak setangkai, kumbang tak seekor. Yaiyalah yaa.. ternyata di balik itu semua, blio mungkin senang pas aku patah hati. Soalnya jadi punya celah. Wkwk.

Setiap kali sedih dan butuh hiburan, aku selalu minta ditemenin kemanaaa gitu. Minta diajakin jalan. Jadi udah banyak banget tempat yang kami kunjungi saat itu. Hampir semua taman di Kota Medan ini udah pernah kami sambangi. Padahal blio gak pernah jalan ke taman kota sebelumnya. My trip my adventure-nya pause dulu. Wkwk.

Harus kuakui, mas suami ini totalitas banget kalo mau mendapatkan sesuatu. Dia gak pernah nolak setiap kali aku ajak. Gak pernah ngeluh walaupun aku ngajakin jalan keluar masuk mall. Padahal kakinya udah nyut2an banget. Selalu ikhlas dan rela jemputin aku di kampus, yang you know-lah, kampusku jauuuh banget dari tempat blio. Gak pernah bilang gak bisa kalo dimintain tolong. Pokoknya baiiikkk banget. payah cakap-lah.

Tapi itu bukan berarti kita gak pernah bertengkar, loh. Ada ajalah pokoknya masalah sepele, seiprit, keciiiikk naudzubillah, tapi bisa bikin kita ribut. Pernah sampek diem-dieman beberapa hari, sampek ngapus pp, biar keliatan lagi kesel. Bahkan pernah juga sampek sempat blokir-blokiran sosmed. Habis berantem gitu, beberapa hari kemudian baik lagi. Ntar ribut lagi, gak lama baik lagi. Hahaha.

Well, setelah sekian lama bareng, sekian lama chit-chat, sekian lama ber-haha-hihi, dan sekian lama memperhatikan ketulusan hati si babang ini, kemudian timbul rasa nyaman dan tak ingin kehilangan. Haseeekk. Itu perasaaan gue aja, gak pernah diungkapin pake kata-kata. Kita hanya saling mengerti aja. mata kita yang bicara. Eaaaakk. Wkwk.

Blio pun sama. Sanggup gitu yaa, mendem perasaan dari pertama kali jalan ke Sibayak sampek sekian tahun setelahnya. Lama-lama aku mulai ngerasa sih, kalo blio ini naksir kayaknya. Tapi kan gak bisa geer2 bangetlah yaa, secara belum diungkapin. Kadang-kadang ngarep ditembak jugak, sih akunya. Haha. Tapi karena si blio ini datar-datar aja, yasudalah. Biar waktu yang bicara.

Akhirnya... Akhirnya sodara-sodara.... Di Agustus 2018, aku ditembak. Ciiieee.. di tembak, coy! Eh muke gileeee... Gue ditembak sama si babang setelah sekian tahun... hahahahhhaaa...

Waktu itu kita habis berantem kayaknya. Lupa juga sih penyebabnya apa. Tapi yang jelas waktu itu aku ke kampus, kuliah. Sementara dia masih ada jam ngajar di sekolah. Jadi ceritanya waktu itu entah apa yang kita ributkan aku lupa. Yang pasti saat itu, aku ngalah. Biasanya kalo ribut-ribut gitu, aku pasti yang paling nyolot, gak mau kalah, pokoknya blio jangankan menang, seri aja susah. Tapi kemaren itu aku memang mengalah.

Tak disangka, blio malah heran kenapa aku mau ngalah. Dan ternyata gak bisa berhenti mikirin itu. Akhirnya permisi dari sekolah buat nyusulin aku ke kampus. Wuahaahhaaa. Ternyata begindang ya kalo cowo itu dibaikin. Mereka lebih nyaman kalo kita merepet panjang daripada ngalah. Tuh buktinya gue disusulin. Wkwk.

Aku pulang kuliah udah maghrib. Mana hujan deras pulak. Jadilah kita akhirnya mampir ke Bakso Mas Ronggo di Jalan Pancing. Ingat kali aku ni. Soalnya itu tempat bersejarah. Hahahhaa.. Jadi sembari makan,  kita membahas masalah kita itu sampek dengan nada tinggi. Entah memang karena hujan deras, atau karena memang emosi kita sama-sama naik. Kenyang makan bakso tambah kenyang merepet, lama-lama capek jugak. Akhirnya aku diam. Kita sama-sama diam. Mungkin karena sudah lelah berdebat.

“Adek mau ya jadi pacar mas.”

Tanpa tedeng aling-aling si babang nembak. Habis berantem loh ya ini. Habis berantem, habis ribut2, eehh blio malah nembak. Ser ser an lah yaa pastii.

“Cantik ni tanggalnya.”

Alisku mengerut. Tanggal cantik apaan ya?

“Perasaan ini tanggal 8 Agustus 2017. Cantik apanya?”

“Tahun ini, tahun depan?” dia naikin alisnya menggoda.

Duh, aku ini ditembak sekalian dilamar apa gimanaaa???


Jadi warung bakso sederhana itu jadi saksi bersatunya dua hati. Lucu sih ya. kita udah jalan kemana-mana. Ke tempat-tempat yang indah. Eehh, jadiannya malah di warung bakso tepi  jalan yang gak ada kesan romantis-romantisnya. Hahahaha.

Jadi akan seperti apakah kisah cinta di warung bakso itu? Kita lanjutin nanti ya. Dede bayi di dalem perut kangen papanya. Hahahaahaa.

UNTOLD STORY BETWEEN US


^_^
Sebenernya udah beberapa kali ngepost tentang pertemuan dengan mas suami, dan perjalanan panjang kita sampai berujung di pernikahan. Tapi semenjak hamil, gatau kenapa kayaknya ngerasa kepengen nemplok mulu sama blio. Kalo jauh kepikiran. Gatau deh, bawaan hamil kali ya? Kalo orang-orang hamil muda bawaannya mual, nah kalo gue bawaannya mabok. Mabok cinta. Huek! Makanya pas lagi gini tuh dapet banget feel-nya buat mengingat-ingat kenangan manis dulu.

Kisah ringkasnya sih udah di posting deh kayaknya.


Dan di postingan lanjutannya,


Setelah kubaca ulang kayaknya di dua postingan itu aku kebanyakan pake bahasa kiasan yang sulit dimengerti. Iya, banyak yang harus dijaga perasaannya, gaes. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, gak ada salahnya loh, kalo aku ceritain aja how i meet my hubby secara detil. Ini bakalan dibaca sama anak-anak kelak. Biar mereka tau gimana drama orang tuanya sebelum menikah dulu. Wkwk.

Jadi dulu itu, jauh sebelum kita saling mengenal, kita punya jalan cerita kehidupan masing-masing. Kita pertama kali ketemu di tahun 2014. Waktu itu aku diterima mengajar di sebuah sekolah menengah pertama di Medan. Dan blio adalah salah satu guru disana. Iya, kita emang kejebak cinlok.
Aku yang anak baru ini jelas belum hapal sama semua guru lah ya. Secara kan aku anaknya pendiem gitu. Kalem. Gak banyak tanya ini itu. Yang aku tahu, begitu nyampe sekolah, tugasku cuman ngajar. Nah di sela2nya bisa disambi dengan main hape. Saat itu aku ini udah kayak orang ansos emang. Apa itu ngobrol-ngobrol tatap muka? Aku taunya chit chat pake blackberry. Saat itu lagi bbm lagi hits. Jadi ya gitu deh, aku gak mengenal orang walau orang mungkin mengenalku. Karena pasti lebih mudah mengenal yang satu orang daripada yang banyakkan?

Nah, awal mula pertemuan kita yang real, (kenapa aku bilang yang real, karena selama ini walaupun kita berada di lingkungan sekolah yang sama, tapi kita gak pernah bertegur sapa dan bertatap muka buat kenalan secara langsung apalagi buat ngobrol.) Nah sore itu, di pertemuan yang real itu, blio tanpa babibu ngajak aku buat ikutan Persami. Dan sore itu pun mendadak jadi sore yang “what the ....”

Dari dulu, aku gak pernah ikutan pramuka. Pas SMP gak ikutan eskul apapun, pas SMA ikutan eskul musik, MB. Bimanda MAN 2 Model. Pas kuliah malah ikutan eskul jurnalistik Dinamika. Pernah beberapa kali kemping dari Dinamika memang, tapi itu ya tetap ajakan bukan kempingnya anak pramuka. Secara buat makan aja kita beli nasi padang. See? Aku gak pernah ikutan pramuka. Dan sekarang diajakin ikutan Persami. (Saat itu aku anak baru. Jadi mendengar ajakan demikian aku merasa itu seperti titah kepsek yang harus diiyakan.)

“Ikut ya buk. Guru pendamping perempuan kurang.”

Well, akhirnya datenglah gue ke sekolah dengan ransel gede berisi pakean dan sodara2nya demi titah yang kuanggap dari kepsek itu. Dan malam itu di sekolah, pertama kalinya aku menikmati acara dengan api unggun gede. Sampek  nyempet2in foto berlatar api unggunnya malah. Saking girangnya.
Foto bareng api unggun 2014 :D
Time flies. Agak kaget pas ngeliat fotoku yang berlatar api unggun itu di posting sama blio di fesbuk. Dan akhirnya gak jadi kaget karena baru sadar kemaren emang foto pake kamera dia. Hahaha. Kemudian, semua berlalu begitu saja. Tidak ada yang istimewa. Aku masih mengajar, dan tetap ansos.

Ngomong-ngomong soal ansos, mungkin yang ngebikin aku demikian adalah karena kisah asmara yang memprihatinkan. Suatu ketika pas wisuda S1, aku menemukan cinta yang kemudian kembali menghilang setahun setelahnya. Ini juga pernah kutulis disini


Dengan bersosmed ria, aku jadi melupakan hal-hal yang emang tak seharusnya diingat. Buka fesbuk itu jadi salah satu hiburan yang mudah dan murah. Paling tidak, itu pilihan bijak saat itu.

Sekitar awal 2015, kalo gak salah sih, mas suami ngeshare pin bbm di fesbuk. Yaudah, aku invite aja. Sejak saat itu, tralalalaaa... terjalinlah komunikasi (yang intens) diantara kita. Setiap hari. Pagi, siang malam. Bahkan kalo aku lagi ngerjain tugas, blio rela nemenin sampek larut malam. Wah!

Apakah itu berarti ada sesuatu di antara kami? Saat itu, kalo menurut versi aku sih, TIDAK. Kami hanya berteman, ngobrolin hal gak penting, dan sekedar biar punya temen ber-haha hihi aja. gak tau deh kalo versi blio. Ntar aku tanyain. Wkwk.

Dari obrolan panjang lebar itu, aku jadi tau sedikit banyak tentang blio, hobinya naik turun gunung, bertualang, dan rasa cintanya yang mendalam terhadap pramuka. Yaiyalah yaa, secara saat itu blio pembina pramuka. Blio juga nunjukin foto-foto yang aduhai bagus-bagus sekaleee. Bikin terpana. (Saat itu masih bikin terpana, belum bikin jatuh cinta. Kalo sekarang sih jangan tanya. Wkwk.)

Aku juga jadi kepancing dong yaa, cerita tentang pernah mendaki Gunung Sinabung dulu bareng kru Dinamika. Mungkin blio gak percaya, soalnya bukti fisik yang bisa ditunjukin cuman pas foto di Lau Kawar-nya doang. Tapi gak masalah sih, soalnya tinggal bilang, “saksi hidupnya masih banyak. Alhamdulillah, yang kemaren sama-sama mendaki masih bernafas semua.” Duh, kok ya malah jadi keinget si mantan. -_- Soale dia juga ikutan kemaren. Ahh, lupakan itu.

Anyway, foto-foto petualangan mas suami itu bagus-bagus sekali. Ku tak kuasa untuk mencegah kekagumanku. Muncullah hasrat dalam dada untuk sesekali diajak bertualang. Tak disangka ternyata inilah maksud dan tujuan blio memamerkan foto-foto bagus itu. Apalah daya, aku ini paling banter cuman main ke mall. Nongki-nongki syantiek, foto-foto, main ke salon, shopping. Itu doang. Gak pernah kemana-mana. Kalo pun pernah ya palingan ke tempat-tempat mainstream sama Bimanda atau Dinamika. Jelaslah yaa itu sudah berlalu lama. Soale, kan aku wisuda aja udah di tahun 2012. Apa kabar setelahnya? Ya itu tadi, mall. -_-

Lope lope lopeee hahahah
Nanti lagi deh dilanjutin, ku lelah. Dede bayi dalem perut ingin istirahat. Tetep kepo yah. Dadaaahh...

Minggu, 24 Februari 2019

IBU BEKERJA ATAU IBU RUMAH TANGGA


Bismillahirrahmanirrahim.

Kolaborasi suami istri yang sama2 doyan jalan wkwk
Setelah sekian lama tenggelam dalam kehidupan rumah tangga dengan segala keriweuahnnya, walhasil blog update tak muncul2. Hehe. Sudah itu, sedang keranjingan baca komik di webtoon pula. Padahal dulu sempat uninstal sekian lama, eh, sekarang daku kembali tergoda. Wkwk.

Aku gak becanda waktu ngetik “rumah tangga dengan segala keriweuhannya” loh. Ternyata kehidupan pasca menikah dengan kehidupan kita pra menikah itu sama sekali berbeda. Kehidupan sebelum menikah jelas lebih simpel. Kenapa simpel? Karena kita ngatur diri kita sendiri, mengurus diri kita sendiri, dan bebas melakukan apapun yang kita suka. Contohnya kayak aku dulu. Aku beberes rumah kapan aku suka. Nyuci baju, ngelap2 meja dan jendela, nyetrika, ganti seprei, ganti gorden, dan sodara2nya itu semuanya ku-lakukan kapan aku mau.

Masak? Ini salah satu kerjaan yang aku paling gak suka dari dulu. *Plak!* Gak tau kenapa, aku memang lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah yang lain daripada berlama-lama di dapur. Sampai mamaku bilang, “belajarlah masak. Nanti belum tentu suami-mu mau masakan orang, atau makan lauk kede.” Saking kepikirannya sama apa yang dibilang mamak, sebelum nikah aku laporan sama si calon suami, “aku gak pande masak, mas. Mas yakin mau nikah sama aku?” Do you know what the answer? “Gak pande bukan berarti gak bisa. Lagian sekarang zaman online, mau masak apa tinggal search. Lagian mas bisa masak kok.” Berkali-kali diomongin, dan berkali-kali pula jawaban ngademin yang eke terima. Apa gak makin lope-lope awak ya kan. Wkwkwk.

Dan ketika akhirnya kami menikah, disinilah kisah perjuangan karena cinta itu dimulai. *Hatsyim* Kemeriahan pesta pernikahan kami berlanjut dengan keriweuhan hidup pasca menikah.

Di rumah bareng, kerja bareng. :v
Oh iya, aku tidak resign dari pekerjaan walaupun sudah menikah. Ini sudah menjadi kesepakatan kita. Jadi setelah menuntaskan cuti menikah seminggu, kita kembali pada rutinitas pergi pagi, pulang sore. Sama seperti sebelumnya.

Bedanya, kalo dulu pulang ngajar sore, biasanya aku mandi, solat, makan, dan leha2 di depan tv sampek ngantuk. Lah sekarang? Hahahahhaha. Disinilah perjuangan cinta itu, kawan! Pulang ngajar, dengan lelah yang teramat, daku mandi, sholat, dan kemudian berjibaku di dapur. Masak. Iya, MASAK. *Bukan gak ngeri. Wkwkwk.

Gak tau deh ya. padahal dulu mamaku juga kek gitu. Pulang kerja sore, masak jugaknya. Biasa aja tuh. Tapi pas aku yang ngalamin kok rasanya gimanaa gitu ya. Hahahaha. Makanya wahai para anak gadis, terbiasalah dengan dapur. Karena begitu menikah, kamu gak akan tega lihat suamimu kelaparan. Rasa gak tega itu muncul karena cinta. Jadi kalo udah gitu, ya mau gak mau ke dapur jugak lah awak ya kan.

Di bulan-bulan pertama pernikahan, aku sampek ngebikin suamiku makan malam jam 10 malam. Situ orang udah mau tidur, situ baru makanannya siap. Kadang-kadang, kalo pas capek kali, aku minta mas bantuin bikin martabak aja. Parahnya, pernah pas kecapekan kali, habis maghrib aku ketiduran. Bangun-bangun mas udah siap makan pake telur ceplok. T_T Maka dari itu, kembali lagi kuingatkan wahai para anak gadis diluar sana, belajar akrab sama dapur dan masak memasak ya, dek. Percayalah, walaupun kita perempuan mandiri, bisa cari duit sendiri, ternyata juga akan merasakan “sakitnya tuh disini” kalo ngeliat suami makan pake telur ceplok doang. Walaupun dianya juga gapapa, karena tau kita capek banget. Tapi bener, nancepnya tuh di dada. Cius!
Zaman masih muda.. :v

Dulu, waktu mamaku bilang, “belajar masak lah, ci. Nanti ... bla..bla..bla..” Aku cuman mikir, kenapa sih, aku udah sekolah tinggi-tinggi, punya karir, masih tetaaapp aja ujungnya ke dapur. Dulu aku yang sok paten ini mengira, yang penting kita punya uang, jadi bisa dipake buat bayar ketring, atau beli makanan, atau bayar orang buat masak di rumah. Apalagi kan kalo udah seharian kerja, udah capek, masa iya sih masak lagi? Gue Lita, bukan Samson. Tenaga dari mana?

Tapi ternyata benar. Aku gak pande masak. Tapi suamiku lebih memilih makan hasil masakanku dari pada beli makanan diluar. Bahkan aku pernah nawarin buat ketring aja, tapi suamiku malah bilang, “kalo adek capek, mas bisa kok masak.” Apa gak makjleb kali. Manalah ambo tega, uda. T_T

Jadi keriweuhan kehidupan rumah tangga yang kuhadapi adalah rutinitas seperti ini :
Bangun pagi – Berangkat kerja – Pulang kerja – mandi – sholat – makan makan – masak (buat sarapan dan bekal makan siang besoknya). Dan ini adalah siklus yang berulang setiap hari. Sesekali diselipi dengan cuci baju, nyetrika, ngelap-ngelap, ngepel, dan seterusnya, dan seterusnya.

Memang harus kuakui, rumahku dari berbagai sudut gak akan bisa serapih, sebersih, dan seelok para ibu yang memilih untuk mengabdikan diri sepenuhnya di rumah. Semampunya, aku berusaha untuk menjadikan rumahku surgaku. Tapi apa daya, rutinitas pekerjaan yang memaksa aku untuk hanya punya waktu di rumah dari jam setengah tujuh sore sampai setengah tujuh pagi esok harinya berujung pada kesimpulan seperti di atas ; “rumahku, sebagai seorang ibu bekerja, tidak akan serapih rumah milik ibu rumah tangga.”

Namun demikian, hidup adalah pilihan. Mas suami dan aku sepakat bahwa aku adalah ibu bekerja. Maka kami secara otomatis bekerja sama disemua bidang, segala aspek. Mulai dari hal ribet, sampai hanya sekedar hal remeh temeh kayak ngecek seluruh pintu rumah sebelum tidur. :v

Mas suami memaklumi aku, dan aku memakluminya. Aku menghargai pemaklumannya atasku ; kayak aku yang mengkek minta dikawanin berjibaku di dapur walaupun cuman jadi penonton. *Padahal jelas banget dia pengen nonton ILC. Wkwk. Karena ya kapan lagi coba kita ngobrol?* Dan dia menghargai pemaklumanku atasnya ; pengen dilayani kayak raja, karena dia memang adalah raja di rumah kami.

Saling memahami dan memaklumi itu indah, Marimar.

Kembali lagi, menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga, keduanya adalah opsi yang kita pilih bersama pasangan. Menjadi ibu bekerja, berarti keduanya harus rela untuk bahu membahu mengurus rumah bersama. Menjadi ibu rumah tangga, berarti sumber penghasilan keluarga hanya dari suami saja. Keduanya sama-sama baik. Tinggal memilih saja.

Tapi sayang-sayangkuh, my dear, para anak gadis diluar sana yang kelak akan menjadi seorang istri, kakak ingatkan, apapun pilihan yang kelak kamu dan suamimu ambil, kamu tetap harus punya kemampuan, punya keahlian untuk mengerjakan hal-hal mendasar dikeluargamu kelak. Salah satunya masak. Soalnya dek, ternyata ibu negara aja, yang suaminya itu presiden, blio juga masak. Nah apalagi kita ya kan?

Setiap istri, baik dia ibu bekerja atau ibu rumah tangga, harus bisa masak, dan harus bisa dandan. Jangan sampai karena keasikan ngurus pekerjaan, si ibu bekerja lupa caranya masak. Juga jangan sampai karena terlalu seru menata rumah dan memasak, ibu rumah tangga lupa caranya berdandan. Suami butuh dimanjakan mulai dari mata sampai ke perut. Bayangin gimana pahalanya kalo suami ridho sama kita.

Ini hanya uneg-uneg ibu bekerja yang mungkin udah basi banget di kalangan pe-rumah tangga-an. Kalo gak dituliskan rasanya sayang, mumpung idenya datang, dan mengingat blog udah sawangan, kelamaan gak dipegang. Maka dari itu, selamat membaca, semoga menginspirasi.

Ini editan, Fergusso. Jangan percaya kali. Wkwk.
Kecup manja buat ibu bekerja dan ibu rumah tangga yang berjuang demi cinta! Mwwaaahh...

Kamis, 03 Januari 2019

MY JOURNEY – THE WONDERFUL WEH ISLAND


Bismillahirrahmanirrahim.

Ini blogpost pertama di 2019. Semoga akan banyak perjalanan-perjalanan lain yang akan menjadi bahan untuk postingan selanjutnya. Aamiin. Hehe.

Penghujung tahun 2018 kemarin adalah penghujung tahun penuh kebahagiaan. Bersebab apa? Karena beberapa defenisi sukses 2018 sudah tercapai. Hihihi. Salah satunya, Alhamdulillah, 2017 masih single lillah, 2018 sudah menikah. Ciyeee...

Kemarin pasca menikah kita gak punya waktu banyak buat honey moon kemana-mana. Eh, honey moon? (Ciyeee.. lagi) Aku gak tau sih, honey moon itu penting apa nggak. Cuman karena emang aku suka jalan-jalan, jadi alasan honey moon itu sengaja dipake, biar berasa penting gitu jalan-jalannya. Hahahhaa.

Ada satu tempat yang dari dulu aku kepingiiin banget. Dulu pernah berencana mau berangkat, tapi selalu belum rezeky. Ada saja halangan. Kemarin bahkan detik-detik mau nikah aja, aku bahas ini duluan sama mas. “Abis nikah kita kita kesana ya. Yayayaa..” Mas cuman geleng2, “adek udah bilang ini sepuluh kali kayaknya. Iya loh dek, iya.”

See? Sebegitu-lah kepinginnya gue.

Tempat penuh daya tarik itu adalah Pulau Weh, yang kita lebih akrab sama nama kotanya, Kota Sabang. Trust me, Pulau Weh punya sejuta pesona yang bakal bikin kita betah berlama2 disana.

Ini akan jadi blogpost yang panjang. Aku akan bahas semuanya. Gak hanya tentang keindahan Pulau Weh, tapi juga tentang transportasi, akomodasi, konsumsi, sampai hal remeh temeh yang kita lalui selama disana. Semoga akan bermanfaat buat kamu yang mau nge-trip kesana, ya.

Kita berangkat dari Medan hari Selasa, tanggal 25 Desember 2018. Libur sekolah sih udah dari hari Minggu, cuman karena banyak hal yang harus diberesin dulu, akhirnya kita putuskan untuk berangkat hari selasa aja. Eh, sebenernya, aku sih yang ngatur trip ini. Mas suami cuman tinggal meng-ACC aja. Blio percayakan semuanya ke aku. Jadi aku yang nyari bus, nyari penginapan, sampai mikirin mau masak apa buat makan di jalan. Blio cuman bilang, “adek atur aja. Mas oke aja.”

Aku kan jadi bingung, kan. -_- Lantas teringatlah kawan2 yang udah pernah kesana. Langsung-lah inisiatif nelp mereka buat diskusi. Maaci banyak Beb dan Wina. *eemmmmaaahh.* semoga kebermanfaatan ini berbuah pahala yaa. :*

Oke, its time to work! Aku mulai download lagi Traveloka dan Trivago. Mulai berselancar, dan...  “Mas, ini bus-nya. Ini jadwal berangkatnya. Ini penginapannya. Gimana? Cocok kam rasa?” Anggukan blio adalah tanda ACC yang terus diikuti dengan booking semuanya di hari yang sama.
Aku kemarin milih Bus Sempati Star yang tipe super executif. Harga tiket di Traveloka Rp. 171.000. Pas ke loket buat nukar e-tiket jadi tiket kertas, aku lihat harga untuk tipe bus serupa Rp. 180.000. jadi buat kamu yang kepingin berangkat, pesan tiketnya dari jauh hari pake Traveloka aja. Emang sih sepuluh ribu. Tapi kalo berangkatnya bersepuluh, apa nggak udah seratus ribu jugak. (Omongan mamak2).

Perjalanan dimulai menuju Banda Aceh. Kita di bus selama 12 jam. Iya, dua belas jam! Jadi sangat disarankan untuk ambil perjalanan malam. Biar gak terasa kali. Terus, siapkan bontot buat makan malam dan sarapan besok paginya. Pertama, biar bisa nekan budget. Kedua, biar gak kelaparan. Soalnya bus-nya berhenti buat makan malam itu jam 10 malam. Ketiga, biar gak terganggu bobo cantik-nya. Hihihi.

Hari Pertama

Kita berencana disana selama 3 hari 2 malam. Dan petualangan dimulai sejak kaki kita menapak di Terminal Batoh, Banda Aceh. Terminal Batoh ini bersih sekali. Tertata rapi. Masjidnya gak di-ujung-ujung. Letak masjid dimana-mana pasti di ujung-ujung. Tapi kalo disana, terletak di tempat strategis. Dan aku makin terkesima pas ke toilet. Toilet-nya bersih, airnya banyak. Pokoknya sangat berbeda dengan terminal2 bus yang pernah kusinggahi sebelumnya. Empat dari lima jempol buat Terminal Batoh.

Dari Terminal Batoh, kita beranjak ke Pelabuhan Ulee Lheu. (Baca : Ulele. Di aceh emang gitu, gaes. Tulisannya ribet. Padahal bacanya simpel.) Bermodal informasi tarif bentor dari internet, mas suami nyari bentor dan berhasil dapat harga Rp. 30.000 dari penawaran awal bapak bentor Rp. 40.000. Lumayan kan.

Sepanjang jalan menuju Pelabuhan, mata kita disajikan pemandangan Kota Banda Aceh yang rapih. Hampir semua bangunan baru. Pasca tsunami tahun 2004, Banda Aceh bangkit dan kembali tegak berdiri. Hari itu tepat peringatan tsunami ke 14 tahun. Banyak diadakan doa bersama. Sampai aktivitas pelayaran pun harus dihentikan sejenak. Pukul 10 pagi, setelah doa bersama, baru kapal boleh berangkat.

Dari Pelabuhan Ulee Lheu, menuju Pulau Weh kita pakai kapal cepat Express Bahari. Tiketnya Rp. 80.000 / orang. Belinya harus pake tanda pengenal. Perjalanan di kapal memakan waktu 45 menit. Kapalnya cakep. Aku ngeliatnya udah kayak kapal pesiar. Kita milih duduk di buritan kapal, jadi pandangan luas. Pas di jalan, banyak lumba2 lucu berenang dan lompat2. Uuhhh, baguuuusss banget! Dan syukur alhamdulillah, cuaca bagus. Laut tenang. (Ini yang paling dikhawatirkan, soalnya).

Dari jauh kelihatan Pulau Weh yang gagah. Masya Allah, senangnya hatikuuu. Terminal Balohan menyambut kami dengan hangat. Banyak porter, dan abang-abang rental mobil atau kereta (baca : motor. Orang Medan bilang sepeda motor itu kereta. Hehe.) menyapa ramah. Kita rental kereta dong ya. Soalnya berdua doang. Harga rental kereta macam-macam. Tergantung kamu bisa nawar apa nggak. Kemaren mas dapat harga Rp. 100.000/hari dari tawaran abang rental Rp. 150.000/hari. Oh iya, nge-rental kereta disana amat sangat gampang. Tanpa syarat. Pokoknya hari pertama bayar aja dulu. Dia gak minta KTP. Malah kita yang nawarin, “bang, KTP kami gak perlu?” Eh dia malah bilang, “gak usah bang. Potokan aja nanti KTP-nya, terus kirim ke WA, ya bang.” Thats all. Cerita punya cerita, rental disana gampang karena itu kereta juga gak bakal bisa kemana2. Soalnya mereka (para tukang rental) itu punya persatuan yang bekerja sama dengan pengelola kapal.

Destinasi pertama kita adalah Desa Wisata Iboih. Ini atas rekomendasi Wina. *Maaci cayang* Dari Pelabuhan Balohan menuju Iboih itu satu jam. Jalannya bagus. Eh, sepanjang berkendara di Pulau Weh, kita gak menemukan jalan rusak samsek. Semua jalannya bagus. Keren banget Pemda-nya. Tahu banget bikin wisatawan betah. Sepanjang jalan menuju Iboih, jalanan lengang. Beberapa menit berjalan, kanan kiri kita hutan. Suara jangkriknya kenceng. Hutan-nya rimbun. Selama kereta kita membelah hutan itu, aku berdoa dalam hati, semoga Allah memberi petunjuk, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Terus kita ada ngelewatin jalan bekas longsor. Apa nggak makin ser2an awak. Tapi ini gak kuucapkan. Kata mas, kekhawatiran kita ketika dalam perjalanan, simpan saja sendiri. Kalo diceritakan, nanti bisa bikin semangat kawan down.

Finally, tibalah kita di Iboih. Alhamdulillah. Pertama memasuki gapura kita bayar registrasi Rp. 5.000. Terus kita langsung menuju penginapan. Aku sengaja milih penginapan yang di tepi laut langsung. Pemandangan kita langsung ke laut tanpa ada penghalang apapun. Emang harganya sedikit agak mahal, tapi itu cucok meong buat honey moon. Hehe. Kita nginap di Erick’s Green House. Tarifnya Rp. 350.000/malam. Kalo bukan buat bulan madu, kamu bisa loh ambil penginapan yang harganya lebih ekonomis. Kisaran harga mulai Rp. 250.000. Oh iya, buat kamu yang lawan jenis dan belum menikah, gak boleh share kamar ya. Kita diminta nunjukin buku nikah kalo mau satu kamar sama lawan jenis.

Kita ngabisin waktu leha2 di penginapan. Dari balkon kita, kelihatan ikan2 berenang. Bayangin, gimana jernihnya air lautnya. Oh iya, kita makan siang di Panorama Cafe, persis di belakang penginapan kita. Harganya selangit. Huhu. Kita makan mie gurita, cah kangkung, jus kuini, dan jus apel, semuanya dibandrol Rp. 70.000. Usut punya usut, ternyata kalo cafe di sekitaran penginapan harganya mahal karena itu harga turis asing. Kalo agak ke bawah dikit, dekat pemukiman warga, harganya jauh lebih miring. Pas makan malam, kita pesan nasi pake ikan sambel, sama teh manis panas 2 porsi cuman Rp. 40.000. Tapi gaes, semurah2 apapun, namanya juga tempat wisata ya kan. Harga lontong buat sarapan pagi yang seiprit itu juga harganya per porsi lima belas rebu. -_-

Hari pertama kita habiskan buat istirahat, mandang2, dan jalan2 di pantai Iboih. Kita juga mampir ke lokalisasi turis asing. Dimana katanya bule2 itu banyak yang pake bikini. Dan dimana katanya bule2nya gak level sama snorkling, tapi diving. Tapi pas kita nyampek, habis ashar, kita gak nemu tuh bule yang pake bikini. Wkwkwkwk.

Hari Kedua

Hari  ini kita rencana mau snorkling ke Pulang Rubiah. Di pantai Iboih jarang ada yang berenang, soalnya disitu banyak bulu babi. Jadi berenangnya di Pantai Rubiah. Pulau Rubiah itu dekat banget dari Iboih. Paling ada juga 200 meter. Tapi tarif boat buat nyebrangnya, tau berapa? Rp.100.000/pp. Mas sampek bilang, “kita berenang ajalah dek. Dekat kali itu. Rugi kali bayar segitu cuman buat nyebrang dekat gini.” Gue terpelongo. Terus dia sambung, “nanti adek mas dorong. Kan pakek pelampung.” Gue tetap ternganga mandangin dia sampek akhirnya,”yaudalah, naek boat aja.”



Peraturan pengelola pariwisata di Iboih ini patut diacungi jempol. Kita kalo mau nyebrang beli tiketya di loket. Nanti pengelola yang menentukan boat mana yang kita tumpangi. Jadi gak ada calo2, gak ada juga boat2 yang ngejar kita ke parkiran biar naik boat dia. Enak banget kan turisnya klo tertata gitu.

Nah, kita sewa alat snorkling di Pulau Rubiah. Tarifnya RP. 40.000/set. Harganya sama dari ujung ke ujung, karena sudah kesepakatan bersama. Enak kan kalo gini. Terus ada juga sewa kamera buat foto2 di dalam air. Tarifnya Rp. 150.000. Mungkin bisa ditawar. Kita gak sewa kamera karena kita emang punya kamera Go Pro. Terus, kalo kita sewa guide, dia bisa nunjukin spot2 yang bagus. Dan tentu hasil fotonya lebih bagus kalo spot-nya bagus kan. Tarif guide-nya Rp. 100.000. Tapi kemaren kita juga gak sewa guide, karena mas suami udah cukup jadi guide buat aku. Hehe. Terus lagi, kita harus beli makanan ikan, biar ikan2 cantik itu mendekat. Tau gak makanan ikannya apa? Mie instan yang direndam air tapi jangan sampai lembek banget. Seiprit doang harganya lima rebu per bungkus.

Itu pertama kalinya aku snorkling, gaeeeessss. Betapa antusias-nya aku pas nyemplung, dan melihat segala ikan warna warni, berenang kesana kemari. Aku sor sendiri. Sampek gak teringat minta fotokan sama mas. Untung mas inisiatif, aku lagi seru2 ngasi makan ikan, mas udah moto2in aja. Hasilnya bagus2 pula. Haha. *Maaci ya mas. Lafyu* Berenang sama ikan2 itu moment indah tak terlupakan. Masih teringat banget ikan2 dori dari yang kecil sama indukan berenang di sekeliling, duuuhhh... Amazing!

Jam setengah 1 siang kita pulang ke penginapan. Soalnya kita mau explore Kota Sabang. Rencananya habis check out jam 2 siang, kita jalan keliling2 Pulau Weh dan ambil penginapan lagi di Kota Sabang. Oh iya, kita sempat pesan makan siang di Pulau Rubiah. Menunya ikan GT (Giant Trevally) atau ikan koe atau entah apalah namanya, aku gak kenal. Mas yang tau. Ukurannya sedang, sekitar setengah kilo, dibakar. Terus cah kangkung, sambel kecap dan sambel terasi plus nasi putih dua porsi. Itu semua dibandrol Rp. 120.000. Uhuuuyy... -_-

Kita lanjut perjalanan menuju titik nol kilometer. Letaknya di puncak. Dari Iboih sekitar 15 menitan. Di titik nol ada tugu gedeeee banget yang berbentuk rencong. Disana banyak yang jualan souvenir2, dan rujak aceh. Kalo kesana sempatkan nyicipin rujak aceh itu ya. aku kemaren gak sempat. Ada buah rumbia, aku kepo banget padahal sama rasanya. Nanti deh hunting rujak aceh di Medan aja.

Puas foto2 di titik nol, kita lanjutin perjalanan lagi. Kita melewati Pantai Gapang, yang pemandangannya gak jauh beda dari Pantai Iboih. Terus melewati Danau Aneuk Laot, dimana ada danau yang berair tawar di Pulau yang berada di tengah laut. Wow! Terus katanya ada air terjun Pria Laot. Mas udah kepingin banget sebenernya kesana, tapi karena kita belum search jalurnya dan penampakan air terjunnya, kita takut zonk. Soalnya udah sore. Mana kita mau ngejar sunset lagi di Pantai Paradiso. Duuuhh.. semua mau dikejar. -_-

Akhirnya kita gak jadi singgah ke air terjun. Kita langsung menuju ke Sabang Fair dan Pantai Paradiso di Kota Atas Sabang. Di perjalanan, bapak mertua nelp, bilang ada family yang tinggal di Kota Sabang. Segala puji bagi Allah. Waktu kita nelp family itu, rumahnya hanya berjarak 200 meter dari Pantai Paradiso tempat kita akan menyaksikan sunset. Masya Allah. Tabarakallah. Allah ijabah doa yang kupanjatkan, memohon dipertemukan dengan orang-orang baik.

Malam itu, setelah memanjakan mata dengan sunset paling indah yang pernah kulihat, kita gak jadi check in hotel. Kita bermalam di rumah Makcik Angok dan makan malam disana. Keluarga Makcik Angok menyambut kami hangat. Ternyata dulu, Makcik dan keluarganya tinggal di Belawan, tetanggaan sama mas. Jadilah mereka ngobrol ngalor ngidul mengenang masa lalu. Mengenang Belawan tempoe doeloe. Hehe.

Kita juga diajak keliling menikmati Kota Sabang di malam hari. Diajak ke tugu Sabang-Merauke, ke taman kota, dan diajak makan mie sedap khas Sabang. Sekali lagi kuutarakan, sejauh apa kita berkendara di Kota Sabang, gak ada satu pun jalan rusak. Semua mulus. Semua bagus. Masya Allah sekali pemda-nya.

Alhamdulillah. Hari kedua berlalu dengan banyak sekali nikmat yang Allah limpahkan didalamnya. Terima kasih tak terhingga buat keluarga Makcik. Semoga Allah balas kebaikannya dengan yang lebih baik.

Hari Ketiga

Kita bergegas ke Pelabuhan Balohan. Kapal cepat express Bahari akan berangkat jam 8 pagi tepat. Di perjalanan menuju Balohn, kita ketemu taman kota yang ada tulisan I love Sabang, dan kita mampir dong pasti. Hehe. Gak nyangka banget gara-gara kelamaan foto disitu kita jadi kehabisan tiket kapal cepat. -_- Akhirnya terpaksa nunggu keberangkatan kapal selanjutnya. Kapal lambat Ferry. Ongkosnya jauh lebih murah dibanding Kapal cepat Express Bahari, Rp. 25.000/orang. Tapi perjalanannya juga lama, 1 jam 45 menit.

Akhirnya setelah lelah menahan kantuk, kita tiba kembali di Pelabuhan Ulee Lheu. Eh, selama di kapal tadi, kita kayak gak lagi di kapal aja rasanya. Kayak di darat aja. Tapi kata mas, kalo laut berombak, kapal besar gini pun bisa terasa goncangannya.

Di Pelabuhan Ulee Lheu, kita udah ditunggu Bang Ali, yang akan membawa kita menjelajah keliling Kota Banda Aceh. Habis diajak makan siang di rumahnya, kita mulai perjalanan kita dari Museum Tsunami. Tiket masuk Rp. 6.000/orang. Di Museum tsunami ada sebuah lorong yang dalam, gelap, dan dilengkapi suara bergemuruh dahsyat. Di depan lorong itu ada peringatan, “yang punya trauma atau serangan jantung, silakan langsung ke lantai 2.” Ternyata lorong ini lebih mencekam dari penampakannya. Sepanjang lorong, aku memeluk erat lengan mas, ketakutan. Nuansanya mistis dan horror dalam waktu bersamaan. Tapi lorong itu membuat kita mengingat Allah, membuat kita tak henti berdzikir. Mungkin inilah perasaan yang dirasakan para korban tsunami.

Satu lagi tempat yang paling berkesan di dalam museum tsunami, Sumur Doa. Di ruangan itu tertulis nama2 korban tsunami, dan dilantunkan bacaan2 Quran dengan speaker. Suasana mencekam kembali terasa. Semoga Allah berikan tempat yang layak bagi para korban.

Perjalanan kita lanjut lagi menuju masjid Baiturrahman. Masjid yang menjadi saksi bisu terjangan tsunami 14 tahun silam. Masjid ini berdiri kokoh dengan tiang2 besar yang menopangnya. Di pelataran masjid ada payung2 besar yang mengingatkan kita pada Masjidil Haram. Semoga jika saat ini hanya masih bisa menyambangi kota serambi Makkah, nanti, suatu ketika, Allah izinkan kita menapak di rumahNya, Makkatul Mukarromah. Aamiin.

Hari ketiga kita akhiri dengan mengunjungi Kapal PLTD Apung yang terseret sampai ke tengah2 pemukiman warga. Kemudian ditutup dengan membeli oleh2. Lantas ke Terminal Batoh, untuk kembali ke pelukan Medan tercinta.

Sunnatullah. Kita kehabisan tiket bus Sempati Star. Akhirnya kita kembali ke Medan dengan bus Putra Pelangi. Harga tiket untuk kelas executif normal Rp. 180.000/orang. Di terminal Batoh itu banyak banget bus dengan tujuan Medan. Kita tinggal pilih mau yang mana. Bus Putra Pelangi yang kita pilih ini tempat duduknya lebih luas, lebih leluasa. Tapi selimutnya kalah tebal sama Sempati Star. Masing-masing punya plus minus-lah. Tergantung seleranya kita aja. Bus Putra Pelangi dan Sempati Star dapat empat dari lima bintang versi aku.

Well, akhirnya trip kita usai begitu kita tiba di Pinang Baris Medan. Alhamdulillah, kita kembali dengan sehat dan selamat sesuai dengan harapan. Perjalanan paling seru yang pernah kujalani. Paling menyenangkan. Paling berkesan.

Semoga blogpost ini bermanfaat kalo kawan-kawan mau menjelajah di Pulau Weh, ya. J

*Terima kasih sudah jadi kawan travelling yang oke, suamiku. Semoga akan ada perjalanan-perjalanan yang lain lagi nanti. Iloveu.*