Kamis, 03 Januari 2019

MY JOURNEY – THE WONDERFUL WEH ISLAND


Bismillahirrahmanirrahim.

Ini blogpost pertama di 2019. Semoga akan banyak perjalanan-perjalanan lain yang akan menjadi bahan untuk postingan selanjutnya. Aamiin. Hehe.

Penghujung tahun 2018 kemarin adalah penghujung tahun penuh kebahagiaan. Bersebab apa? Karena beberapa defenisi sukses 2018 sudah tercapai. Hihihi. Salah satunya, Alhamdulillah, 2017 masih single lillah, 2018 sudah menikah. Ciyeee...

Kemarin pasca menikah kita gak punya waktu banyak buat honey moon kemana-mana. Eh, honey moon? (Ciyeee.. lagi) Aku gak tau sih, honey moon itu penting apa nggak. Cuman karena emang aku suka jalan-jalan, jadi alasan honey moon itu sengaja dipake, biar berasa penting gitu jalan-jalannya. Hahahhaa.

Ada satu tempat yang dari dulu aku kepingiiin banget. Dulu pernah berencana mau berangkat, tapi selalu belum rezeky. Ada saja halangan. Kemarin bahkan detik-detik mau nikah aja, aku bahas ini duluan sama mas. “Abis nikah kita kita kesana ya. Yayayaa..” Mas cuman geleng2, “adek udah bilang ini sepuluh kali kayaknya. Iya loh dek, iya.”

See? Sebegitu-lah kepinginnya gue.

Tempat penuh daya tarik itu adalah Pulau Weh, yang kita lebih akrab sama nama kotanya, Kota Sabang. Trust me, Pulau Weh punya sejuta pesona yang bakal bikin kita betah berlama2 disana.

Ini akan jadi blogpost yang panjang. Aku akan bahas semuanya. Gak hanya tentang keindahan Pulau Weh, tapi juga tentang transportasi, akomodasi, konsumsi, sampai hal remeh temeh yang kita lalui selama disana. Semoga akan bermanfaat buat kamu yang mau nge-trip kesana, ya.

Kita berangkat dari Medan hari Selasa, tanggal 25 Desember 2018. Libur sekolah sih udah dari hari Minggu, cuman karena banyak hal yang harus diberesin dulu, akhirnya kita putuskan untuk berangkat hari selasa aja. Eh, sebenernya, aku sih yang ngatur trip ini. Mas suami cuman tinggal meng-ACC aja. Blio percayakan semuanya ke aku. Jadi aku yang nyari bus, nyari penginapan, sampai mikirin mau masak apa buat makan di jalan. Blio cuman bilang, “adek atur aja. Mas oke aja.”

Aku kan jadi bingung, kan. -_- Lantas teringatlah kawan2 yang udah pernah kesana. Langsung-lah inisiatif nelp mereka buat diskusi. Maaci banyak Beb dan Wina. *eemmmmaaahh.* semoga kebermanfaatan ini berbuah pahala yaa. :*

Oke, its time to work! Aku mulai download lagi Traveloka dan Trivago. Mulai berselancar, dan...  “Mas, ini bus-nya. Ini jadwal berangkatnya. Ini penginapannya. Gimana? Cocok kam rasa?” Anggukan blio adalah tanda ACC yang terus diikuti dengan booking semuanya di hari yang sama.
Aku kemarin milih Bus Sempati Star yang tipe super executif. Harga tiket di Traveloka Rp. 171.000. Pas ke loket buat nukar e-tiket jadi tiket kertas, aku lihat harga untuk tipe bus serupa Rp. 180.000. jadi buat kamu yang kepingin berangkat, pesan tiketnya dari jauh hari pake Traveloka aja. Emang sih sepuluh ribu. Tapi kalo berangkatnya bersepuluh, apa nggak udah seratus ribu jugak. (Omongan mamak2).

Perjalanan dimulai menuju Banda Aceh. Kita di bus selama 12 jam. Iya, dua belas jam! Jadi sangat disarankan untuk ambil perjalanan malam. Biar gak terasa kali. Terus, siapkan bontot buat makan malam dan sarapan besok paginya. Pertama, biar bisa nekan budget. Kedua, biar gak kelaparan. Soalnya bus-nya berhenti buat makan malam itu jam 10 malam. Ketiga, biar gak terganggu bobo cantik-nya. Hihihi.

Hari Pertama

Kita berencana disana selama 3 hari 2 malam. Dan petualangan dimulai sejak kaki kita menapak di Terminal Batoh, Banda Aceh. Terminal Batoh ini bersih sekali. Tertata rapi. Masjidnya gak di-ujung-ujung. Letak masjid dimana-mana pasti di ujung-ujung. Tapi kalo disana, terletak di tempat strategis. Dan aku makin terkesima pas ke toilet. Toilet-nya bersih, airnya banyak. Pokoknya sangat berbeda dengan terminal2 bus yang pernah kusinggahi sebelumnya. Empat dari lima jempol buat Terminal Batoh.

Dari Terminal Batoh, kita beranjak ke Pelabuhan Ulee Lheu. (Baca : Ulele. Di aceh emang gitu, gaes. Tulisannya ribet. Padahal bacanya simpel.) Bermodal informasi tarif bentor dari internet, mas suami nyari bentor dan berhasil dapat harga Rp. 30.000 dari penawaran awal bapak bentor Rp. 40.000. Lumayan kan.

Sepanjang jalan menuju Pelabuhan, mata kita disajikan pemandangan Kota Banda Aceh yang rapih. Hampir semua bangunan baru. Pasca tsunami tahun 2004, Banda Aceh bangkit dan kembali tegak berdiri. Hari itu tepat peringatan tsunami ke 14 tahun. Banyak diadakan doa bersama. Sampai aktivitas pelayaran pun harus dihentikan sejenak. Pukul 10 pagi, setelah doa bersama, baru kapal boleh berangkat.

Dari Pelabuhan Ulee Lheu, menuju Pulau Weh kita pakai kapal cepat Express Bahari. Tiketnya Rp. 80.000 / orang. Belinya harus pake tanda pengenal. Perjalanan di kapal memakan waktu 45 menit. Kapalnya cakep. Aku ngeliatnya udah kayak kapal pesiar. Kita milih duduk di buritan kapal, jadi pandangan luas. Pas di jalan, banyak lumba2 lucu berenang dan lompat2. Uuhhh, baguuuusss banget! Dan syukur alhamdulillah, cuaca bagus. Laut tenang. (Ini yang paling dikhawatirkan, soalnya).

Dari jauh kelihatan Pulau Weh yang gagah. Masya Allah, senangnya hatikuuu. Terminal Balohan menyambut kami dengan hangat. Banyak porter, dan abang-abang rental mobil atau kereta (baca : motor. Orang Medan bilang sepeda motor itu kereta. Hehe.) menyapa ramah. Kita rental kereta dong ya. Soalnya berdua doang. Harga rental kereta macam-macam. Tergantung kamu bisa nawar apa nggak. Kemaren mas dapat harga Rp. 100.000/hari dari tawaran abang rental Rp. 150.000/hari. Oh iya, nge-rental kereta disana amat sangat gampang. Tanpa syarat. Pokoknya hari pertama bayar aja dulu. Dia gak minta KTP. Malah kita yang nawarin, “bang, KTP kami gak perlu?” Eh dia malah bilang, “gak usah bang. Potokan aja nanti KTP-nya, terus kirim ke WA, ya bang.” Thats all. Cerita punya cerita, rental disana gampang karena itu kereta juga gak bakal bisa kemana2. Soalnya mereka (para tukang rental) itu punya persatuan yang bekerja sama dengan pengelola kapal.

Destinasi pertama kita adalah Desa Wisata Iboih. Ini atas rekomendasi Wina. *Maaci cayang* Dari Pelabuhan Balohan menuju Iboih itu satu jam. Jalannya bagus. Eh, sepanjang berkendara di Pulau Weh, kita gak menemukan jalan rusak samsek. Semua jalannya bagus. Keren banget Pemda-nya. Tahu banget bikin wisatawan betah. Sepanjang jalan menuju Iboih, jalanan lengang. Beberapa menit berjalan, kanan kiri kita hutan. Suara jangkriknya kenceng. Hutan-nya rimbun. Selama kereta kita membelah hutan itu, aku berdoa dalam hati, semoga Allah memberi petunjuk, jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan. Terus kita ada ngelewatin jalan bekas longsor. Apa nggak makin ser2an awak. Tapi ini gak kuucapkan. Kata mas, kekhawatiran kita ketika dalam perjalanan, simpan saja sendiri. Kalo diceritakan, nanti bisa bikin semangat kawan down.

Finally, tibalah kita di Iboih. Alhamdulillah. Pertama memasuki gapura kita bayar registrasi Rp. 5.000. Terus kita langsung menuju penginapan. Aku sengaja milih penginapan yang di tepi laut langsung. Pemandangan kita langsung ke laut tanpa ada penghalang apapun. Emang harganya sedikit agak mahal, tapi itu cucok meong buat honey moon. Hehe. Kita nginap di Erick’s Green House. Tarifnya Rp. 350.000/malam. Kalo bukan buat bulan madu, kamu bisa loh ambil penginapan yang harganya lebih ekonomis. Kisaran harga mulai Rp. 250.000. Oh iya, buat kamu yang lawan jenis dan belum menikah, gak boleh share kamar ya. Kita diminta nunjukin buku nikah kalo mau satu kamar sama lawan jenis.

Kita ngabisin waktu leha2 di penginapan. Dari balkon kita, kelihatan ikan2 berenang. Bayangin, gimana jernihnya air lautnya. Oh iya, kita makan siang di Panorama Cafe, persis di belakang penginapan kita. Harganya selangit. Huhu. Kita makan mie gurita, cah kangkung, jus kuini, dan jus apel, semuanya dibandrol Rp. 70.000. Usut punya usut, ternyata kalo cafe di sekitaran penginapan harganya mahal karena itu harga turis asing. Kalo agak ke bawah dikit, dekat pemukiman warga, harganya jauh lebih miring. Pas makan malam, kita pesan nasi pake ikan sambel, sama teh manis panas 2 porsi cuman Rp. 40.000. Tapi gaes, semurah2 apapun, namanya juga tempat wisata ya kan. Harga lontong buat sarapan pagi yang seiprit itu juga harganya per porsi lima belas rebu. -_-

Hari pertama kita habiskan buat istirahat, mandang2, dan jalan2 di pantai Iboih. Kita juga mampir ke lokalisasi turis asing. Dimana katanya bule2 itu banyak yang pake bikini. Dan dimana katanya bule2nya gak level sama snorkling, tapi diving. Tapi pas kita nyampek, habis ashar, kita gak nemu tuh bule yang pake bikini. Wkwkwkwk.

Hari Kedua

Hari  ini kita rencana mau snorkling ke Pulang Rubiah. Di pantai Iboih jarang ada yang berenang, soalnya disitu banyak bulu babi. Jadi berenangnya di Pantai Rubiah. Pulau Rubiah itu dekat banget dari Iboih. Paling ada juga 200 meter. Tapi tarif boat buat nyebrangnya, tau berapa? Rp.100.000/pp. Mas sampek bilang, “kita berenang ajalah dek. Dekat kali itu. Rugi kali bayar segitu cuman buat nyebrang dekat gini.” Gue terpelongo. Terus dia sambung, “nanti adek mas dorong. Kan pakek pelampung.” Gue tetap ternganga mandangin dia sampek akhirnya,”yaudalah, naek boat aja.”



Peraturan pengelola pariwisata di Iboih ini patut diacungi jempol. Kita kalo mau nyebrang beli tiketya di loket. Nanti pengelola yang menentukan boat mana yang kita tumpangi. Jadi gak ada calo2, gak ada juga boat2 yang ngejar kita ke parkiran biar naik boat dia. Enak banget kan turisnya klo tertata gitu.

Nah, kita sewa alat snorkling di Pulau Rubiah. Tarifnya RP. 40.000/set. Harganya sama dari ujung ke ujung, karena sudah kesepakatan bersama. Enak kan kalo gini. Terus ada juga sewa kamera buat foto2 di dalam air. Tarifnya Rp. 150.000. Mungkin bisa ditawar. Kita gak sewa kamera karena kita emang punya kamera Go Pro. Terus, kalo kita sewa guide, dia bisa nunjukin spot2 yang bagus. Dan tentu hasil fotonya lebih bagus kalo spot-nya bagus kan. Tarif guide-nya Rp. 100.000. Tapi kemaren kita juga gak sewa guide, karena mas suami udah cukup jadi guide buat aku. Hehe. Terus lagi, kita harus beli makanan ikan, biar ikan2 cantik itu mendekat. Tau gak makanan ikannya apa? Mie instan yang direndam air tapi jangan sampai lembek banget. Seiprit doang harganya lima rebu per bungkus.

Itu pertama kalinya aku snorkling, gaeeeessss. Betapa antusias-nya aku pas nyemplung, dan melihat segala ikan warna warni, berenang kesana kemari. Aku sor sendiri. Sampek gak teringat minta fotokan sama mas. Untung mas inisiatif, aku lagi seru2 ngasi makan ikan, mas udah moto2in aja. Hasilnya bagus2 pula. Haha. *Maaci ya mas. Lafyu* Berenang sama ikan2 itu moment indah tak terlupakan. Masih teringat banget ikan2 dori dari yang kecil sama indukan berenang di sekeliling, duuuhhh... Amazing!

Jam setengah 1 siang kita pulang ke penginapan. Soalnya kita mau explore Kota Sabang. Rencananya habis check out jam 2 siang, kita jalan keliling2 Pulau Weh dan ambil penginapan lagi di Kota Sabang. Oh iya, kita sempat pesan makan siang di Pulau Rubiah. Menunya ikan GT (Giant Trevally) atau ikan koe atau entah apalah namanya, aku gak kenal. Mas yang tau. Ukurannya sedang, sekitar setengah kilo, dibakar. Terus cah kangkung, sambel kecap dan sambel terasi plus nasi putih dua porsi. Itu semua dibandrol Rp. 120.000. Uhuuuyy... -_-

Kita lanjut perjalanan menuju titik nol kilometer. Letaknya di puncak. Dari Iboih sekitar 15 menitan. Di titik nol ada tugu gedeeee banget yang berbentuk rencong. Disana banyak yang jualan souvenir2, dan rujak aceh. Kalo kesana sempatkan nyicipin rujak aceh itu ya. aku kemaren gak sempat. Ada buah rumbia, aku kepo banget padahal sama rasanya. Nanti deh hunting rujak aceh di Medan aja.

Puas foto2 di titik nol, kita lanjutin perjalanan lagi. Kita melewati Pantai Gapang, yang pemandangannya gak jauh beda dari Pantai Iboih. Terus melewati Danau Aneuk Laot, dimana ada danau yang berair tawar di Pulau yang berada di tengah laut. Wow! Terus katanya ada air terjun Pria Laot. Mas udah kepingin banget sebenernya kesana, tapi karena kita belum search jalurnya dan penampakan air terjunnya, kita takut zonk. Soalnya udah sore. Mana kita mau ngejar sunset lagi di Pantai Paradiso. Duuuhh.. semua mau dikejar. -_-

Akhirnya kita gak jadi singgah ke air terjun. Kita langsung menuju ke Sabang Fair dan Pantai Paradiso di Kota Atas Sabang. Di perjalanan, bapak mertua nelp, bilang ada family yang tinggal di Kota Sabang. Segala puji bagi Allah. Waktu kita nelp family itu, rumahnya hanya berjarak 200 meter dari Pantai Paradiso tempat kita akan menyaksikan sunset. Masya Allah. Tabarakallah. Allah ijabah doa yang kupanjatkan, memohon dipertemukan dengan orang-orang baik.

Malam itu, setelah memanjakan mata dengan sunset paling indah yang pernah kulihat, kita gak jadi check in hotel. Kita bermalam di rumah Makcik Angok dan makan malam disana. Keluarga Makcik Angok menyambut kami hangat. Ternyata dulu, Makcik dan keluarganya tinggal di Belawan, tetanggaan sama mas. Jadilah mereka ngobrol ngalor ngidul mengenang masa lalu. Mengenang Belawan tempoe doeloe. Hehe.

Kita juga diajak keliling menikmati Kota Sabang di malam hari. Diajak ke tugu Sabang-Merauke, ke taman kota, dan diajak makan mie sedap khas Sabang. Sekali lagi kuutarakan, sejauh apa kita berkendara di Kota Sabang, gak ada satu pun jalan rusak. Semua mulus. Semua bagus. Masya Allah sekali pemda-nya.

Alhamdulillah. Hari kedua berlalu dengan banyak sekali nikmat yang Allah limpahkan didalamnya. Terima kasih tak terhingga buat keluarga Makcik. Semoga Allah balas kebaikannya dengan yang lebih baik.

Hari Ketiga

Kita bergegas ke Pelabuhan Balohan. Kapal cepat express Bahari akan berangkat jam 8 pagi tepat. Di perjalanan menuju Balohn, kita ketemu taman kota yang ada tulisan I love Sabang, dan kita mampir dong pasti. Hehe. Gak nyangka banget gara-gara kelamaan foto disitu kita jadi kehabisan tiket kapal cepat. -_- Akhirnya terpaksa nunggu keberangkatan kapal selanjutnya. Kapal lambat Ferry. Ongkosnya jauh lebih murah dibanding Kapal cepat Express Bahari, Rp. 25.000/orang. Tapi perjalanannya juga lama, 1 jam 45 menit.

Akhirnya setelah lelah menahan kantuk, kita tiba kembali di Pelabuhan Ulee Lheu. Eh, selama di kapal tadi, kita kayak gak lagi di kapal aja rasanya. Kayak di darat aja. Tapi kata mas, kalo laut berombak, kapal besar gini pun bisa terasa goncangannya.

Di Pelabuhan Ulee Lheu, kita udah ditunggu Bang Ali, yang akan membawa kita menjelajah keliling Kota Banda Aceh. Habis diajak makan siang di rumahnya, kita mulai perjalanan kita dari Museum Tsunami. Tiket masuk Rp. 6.000/orang. Di Museum tsunami ada sebuah lorong yang dalam, gelap, dan dilengkapi suara bergemuruh dahsyat. Di depan lorong itu ada peringatan, “yang punya trauma atau serangan jantung, silakan langsung ke lantai 2.” Ternyata lorong ini lebih mencekam dari penampakannya. Sepanjang lorong, aku memeluk erat lengan mas, ketakutan. Nuansanya mistis dan horror dalam waktu bersamaan. Tapi lorong itu membuat kita mengingat Allah, membuat kita tak henti berdzikir. Mungkin inilah perasaan yang dirasakan para korban tsunami.

Satu lagi tempat yang paling berkesan di dalam museum tsunami, Sumur Doa. Di ruangan itu tertulis nama2 korban tsunami, dan dilantunkan bacaan2 Quran dengan speaker. Suasana mencekam kembali terasa. Semoga Allah berikan tempat yang layak bagi para korban.

Perjalanan kita lanjut lagi menuju masjid Baiturrahman. Masjid yang menjadi saksi bisu terjangan tsunami 14 tahun silam. Masjid ini berdiri kokoh dengan tiang2 besar yang menopangnya. Di pelataran masjid ada payung2 besar yang mengingatkan kita pada Masjidil Haram. Semoga jika saat ini hanya masih bisa menyambangi kota serambi Makkah, nanti, suatu ketika, Allah izinkan kita menapak di rumahNya, Makkatul Mukarromah. Aamiin.

Hari ketiga kita akhiri dengan mengunjungi Kapal PLTD Apung yang terseret sampai ke tengah2 pemukiman warga. Kemudian ditutup dengan membeli oleh2. Lantas ke Terminal Batoh, untuk kembali ke pelukan Medan tercinta.

Sunnatullah. Kita kehabisan tiket bus Sempati Star. Akhirnya kita kembali ke Medan dengan bus Putra Pelangi. Harga tiket untuk kelas executif normal Rp. 180.000/orang. Di terminal Batoh itu banyak banget bus dengan tujuan Medan. Kita tinggal pilih mau yang mana. Bus Putra Pelangi yang kita pilih ini tempat duduknya lebih luas, lebih leluasa. Tapi selimutnya kalah tebal sama Sempati Star. Masing-masing punya plus minus-lah. Tergantung seleranya kita aja. Bus Putra Pelangi dan Sempati Star dapat empat dari lima bintang versi aku.

Well, akhirnya trip kita usai begitu kita tiba di Pinang Baris Medan. Alhamdulillah, kita kembali dengan sehat dan selamat sesuai dengan harapan. Perjalanan paling seru yang pernah kujalani. Paling menyenangkan. Paling berkesan.

Semoga blogpost ini bermanfaat kalo kawan-kawan mau menjelajah di Pulau Weh, ya. J

*Terima kasih sudah jadi kawan travelling yang oke, suamiku. Semoga akan ada perjalanan-perjalanan yang lain lagi nanti. Iloveu.*



Selasa, 18 Desember 2018

MY JOURNEY – NGE-CAMP DI TAMAN HUTAN RAYA


Bismillahirrahmanirrahim.



“Camp is my drug.”

Belakangan ini, aku adalah pembaca pikiran yang baik buat mas suami. Sedikit banyak yang blio pikirkan, bisa kutangkap dengan baik. Salah satunya waktu aku melihat flyer Tahura Fest 2018 di Instagram. Aku mention blio, dan blio langsung balas komen dengan, “gerak kita..” Iya, kita sama2 bisa baca pikiran masing2 kayaknya. Wkwkkwkw.

Setelahnya, tidak ada lagi pembicaraan tentang itu. Terlalu banyak hal-hal baru yang kita bicarakan, sampai kita lupa pada rencana mengikuti event itu. Pas di hari H, sabtu siang, dimana bahkan paginya aku udah izin ke mas kalo mau ke rumah mama di Tj. Mulia, habis capek nyetrika, aku teringat. Jadi aku ngechat mas, “mas, kita jadi ke Tahura Fest?”

Sekilas, aku ngeliat keragu2an mas. “Tenda kita gimana ya dek. Kita gak bisa bawa carrier soalnya. Gak muat di kereta.” (Bahasa orang medan, kereta maksudnya motor) Hehe. “Kasian adek mangkunya nanti. Pegel.”

Tapi karena istrinya yang sok paten ini bilang, “udah gapapa mas. Ayok aja. Bisa ituu.”

Jadilah kita berangkat, dan belum lagi nyampek padang bulan, aku udah gak kuat.

“Mas, pegel.”

Akhirnya dengan segala drama, aku memutuskan untuk naik angkot aja menuju Simalingkar, dan lagi, memutuskan untuk naik bus aja ke Tahura. Wkwkwk. Padahal dulu2 pernah ditawarin sama mas kalo kita mau jalan kemanaa gitu, kalo capek naik kereta, aku naik bus aja. Biar bisa istirahat. Mas ikutin pake kereta. Tapi aku selalu nolak dengan alasan takut. Lah kemaren, pas ke Tahura, malah aku yang lebih milih naik bus aja. Padahal, kemaren malam udah turun. Pake ada gerimis2 manjanya pulak. Terus naik bus Sinabung pulak. (Biasanya naik Bus Sutra, kemaren malam naik Sinabung. Ya jadi aneh aja rasanya).

Aku turun persis di depan Tahura dengan pandangan heran para penumpang. Ya iyalah ya, anak gadis, eh, anak perempuan turun di hutan sendirian. What the .... Aku awalnya sellow aja turun dari bus, nurunin ransel2 gede bawaan terus bayar ongkos. Sampai akhirnya bus mulai berjalan, dan meninggalkan aku sendirian.

Aku mengedar pandang ke sekeliling. Sekarang aku paham dengan pandangan heran para penumpang itu. Aku berdiri sendirian di kegelapan, tanpa ada seorang pun, di tengah pohon2 pinus tinggi menjulang. Serta merta bulu kudukku berdiri. Kusandang satu ransel di punggung, dan ransel satunya lagi di depan, kutenteng tenda dan matras, lalu aku berjalan cepat masuk ke lingkungan Tahura. Mencari tempat terang.

Udah gak terasa lagi beratnya ransel itu, wee. Yang aku tau aku harus cepat. Gilak aja, pohon2nya besar2, tinggi2, rimbun2. Ya Allah.. kalo ada aja yang terbang2 itu, mati lah aku ni pingsan sendiri disini. Gelap gini mana ada yang nampak. Haduh ya Allah. Sambil jalan cepat, sambil membatin awak.

Gitu ya rupanya kalo dalam keadaan terdesak. Keluar tenaga dalam awak. Hahahha. Mas yang baru datang gegara mampir belanja logistik terheran2.

“Adek minta tolong siapa?”

“Gak ada orang mas. Adek angkatlah sendiri.”

“Ohh, dilangsir ya?”

“Sekali angkat semuanya mas,” aku nyengir.

Yaiyalah mas kaget. Soalnya pas mau berangkat, nyandang satu ransel aja aku udah bilang berat. Lah ini sekali dua ransel, plus tenda, plus matras. Wkwkwkwk.

Jadi acara Tahura Fest ini di adakan di Tahura (Yaiyalah yaa..) Taman Hutan Raya Bukit Barisan, Tongkoh. Yang kita lewat2in terus kalo mau jalan ke Berastagi itu loh. Dulunya, Tahura ini cakep, kayak Gundaling tempo dulu. Tapi kemarin, waktu kesana, kelihatan hutannya udah gak se-asri dulu. Tak terawat. Pengunjungnya juga sepi. Mungkin karena sudah jarang ada acara2 atau festival2 yang diadakan disana kali ya. Beruntung sekali Tahura Fest diadakan. Semoga ini berpengaruh postif untuk mengembalikan popularitas Tahura di kalangan masyarakat.

Tahura Fest itu kayak acara jambore anak2 pecinta alam. Jadi yang join kemarin itu banyak dari komunitas dan banyak juga yang tunggal. Nah kemarin, kita berdua mewakili komunitas ABK (Anak Belawan Kelayapan). *Eh, udah lama nih gak ngetrip rame2. Kapan kita kemana yak?*

Acaranya banyak. Opening ceremonialnya udah dimulai dari hari Sabtu sore. Lah, kita nyampeknya udah jam 8 malam. Wkwkwk. Paksa kali ya kan. Tapi itulah tadi, karena buat mas suami kemping itu adalah candu, jadi ya gitu. Pulang kerja sore, terus langsung lanjut berangkat pun jadi. Dari dulu emang udah gitu sih mas suami ini. Tapi kalo dulu, candunya kemping doang. Kalo sekarang candunya kemping sama pasangan. Hahahahhaseeeekk. Untung dapat istri yang se-hobi. *Banyak2 bersyukur ya mas. Wkwk*

Kemaren ada live music setelah acara diskusi ringan tentang konservasi. Kita merasa terpanggil dong yaa menuju arena utama. Rame2 dengerin musik reggae yang iramanya bernuansa alam banget. Sampek sekarang masih terngiang2 alunan musiknya itu loh. Dulu, Manda, adikku yang suka mutar lagu itu, eeh kemarin berkesempatan dengerin live. Alhamdulillah.

Aku jadi paham banget sekarang kenapa mas bisa ngerasa kemping adalah candu. Ternyata kemping itu memang enak banget. Rasanya pikiran penat yang dibawa dari real life kita jadi hilang dengan suara2 alam, dinginnya malam, dan tenangnya suasana hutan. Pagi2 bikin sarapan sama2, abis itu jalan santai sambil hunting poto, terus leha2 di tenda, ahh gaeeess... Kalian harus cobain! Nginap di hotel berbintang emang enak, gaes. Tapi sesekali, cobalah nginap di hutan dengan tenda. Sensasinya itu loh! Gak terlukiskan dengan kata2.

Kemping kemarin emang bukan yang pertama buatku, tapi itu yang pertama setelah menikah. Dan ternyata serunya berkali2 lipat kalo kemping sama pasangan halal. Hehehe. Masa iya kemaren aku bilang, “mas, kita tahun baru kemping lagi ya.”

Kita pulang dengan damai karena ketemu kawan yang bisa dititipin ransel dan tenda. Hihihi. Itulah enaknya jadi orang baik dan berkawan dengan anak pecinta alam. Kalo kita baik ke orang, orang pasti baik ke kita. Walaupun bukan orang yang sama. Kemarin, mas titipin ransel dan tenda kita ke kawannya yang kebetulan bawa mobil. Alhamdulillah. Jadi pulangnya bisa mampir2 lagi kemana2.

Dan taraaa.. kita mencewek lagi ke Tibrena. Tibrena ini semacam tempat liburan keluarga. Di fasilitasi dengan lahan luas yang bisa dipake buat outbond, ada penginapannya, ada restorannya juga. Tibrena ini kita lewati kalo mau ke air terjun Loknya dan air terjun Satu Hati. Pemandangannya bagus. Instagramable  lah. Jadi kita foto2 disitu. Gak ke air terjunnya karena udah kesorean. Ternyata ya, kalo pergi berdua itu emang ada plus minusnya. Plus nya udah banyak lah yaa. Minusnya, kita jadi kudu repot buka dan pasang tripod dulu kalo mau poto dalam satu frame. Hasilnya sih bagus2 aja, ribetnya ini yang gimanaa gitu.

Tapi over all, ini tuh “panjar” alias “dp” honey moon yang lumayan laah. Hehe. Soalnya kemaren habis nikah belum sempat kemana2. Langsung masuk kerja. Semoga liburan semester bentar lagi bisa dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. *Kedip2 manja. Biar diajak travelling lagi.*

Selamat menyambut liburan akhir tahun, kawan2. Semoga liburannya menyenangkan yaa. ^_^

Jumat, 23 November 2018

CURHAT DULUK..





Biar gak serius2 kali, gaes.. curhat duluk ah..

Bismillahirrahmanirrahim.

Hari ini aku sedang dalam suasana hati yang sulit dijelaskan. Entah itu senang, galau, kacau atau apa. Tapi sepertinya aku pantas mendapatkannya. Ini akan menjadi salah satu pelajaran berharga dalam perjalanan hidup, yang semoga akan membawaku ke arah yang lebih baik.

Perasaan tak menentu ini bermula kemarin, saat aku mengikuti ujian untuk menjadi ASN. Ini ujian pertama yang kuikuti setelah lulus dari S1 sekitar enam tahun lalu, dan setelah lulus S2 setahun yang lalu. Yap, ini perdana. Aku belum pernah sama sekali mengikuti ujian seleksi kemampuan dasar (SKD) berbasis CAT. Simulasi juga gak pernah ikutan. Dulu pernah ada penerimaan ASN besar2an, tapi aku gak ikut karena saat itu aku lagi di Bandung mengikuti BMBC (Bandung Marching Band Competition). Gak ngerti deh, kenapa dulu lebih antusias ikut lomba daripada ikut ujian ASN. Wkwkwkwk.

Nah, karena kemarin penerimaan dibuka kembali, jadi daku mencoba. Mulai dari daftar online yang sistemnya sering down, sampek harus daftar di jam 11 malem saat mata sedang berat2nya. Terus login dan daftar online yang ngabisin waktu seharian. Aku serius, baru untuk daftar aja, makan tenaga dan menguras pikiran banget. Kemudian kemarin tibalah waktunya buat ujian. Jeng.. jeng.. jeng... pemirsah.. ini mendebarkan sekali. Kita nyampek lokasi ujian dua jam sebelum ujian dimulai. Dan begitu ngeliat orang-orang yang pake baju hitam putih, serupa kayak baju yang kupake, aku ser2an. Merasa perjuanganku bakal berat. *Banyak kali saingannya mak ee. T_T

Kali ini nilai passing grade (ambang batas) tidak bisa diakumulasikan untuk jalur umum. Jadi TWK nilai minimalnya 80, TIU minimalnya 75, dan TKP 143. Jujur, yang paling kukhawatirkan adalah ujian TWK. Aku gak hapal pasal2, gak hapal sejarah bangsa dengan baik, dan gak terlalu tertarik dengan segala yang berbau2 politik. Kirain soalnya begono, eh gak taunya beda. Hehehe. Dan yang paling tidak aku khawatirkan adalah bidang TKP. Karena pas baca2 di inet, kayaknya TKP gak susah2 amat. Dan ternyata daku salah besar. T_T

Well, dimulailah ujian kami jam setengah lima sore. Ujian yang berlangsung selama sembilan puluh menit itu berlangsung kondusif. Senyap. Soalnya panjang2 sekali, jadi harus membaca cepat sambil mampu memahami soal2 dengan baik.

Aku mulai gugup waktu melihat durasi waktu yang tinggal setengah jam lagi, sementara soal2 TKP yang belum kuisi masih banyak. Sampai di sisa lima menit terakhir, aku tuntas mengerjakan TKP. Sisa waktu kugunakan untuk ngecek kembali jawaban TWK dan TIU. Aku pede aja sama jawaban TKP. Memang kelihatannya jawabannya benar semua, baik semua, jadi aku mengira jawabanku sudah cukup baik. Tapi ternyata ... *Hiks..

Perolehan nilai TWK dan TIU ku terhitung cukup baik. Jauh di atas nilai ambang batas. Justru nilai TKP yang diluar prediksi. Aku kecewa. Sangat. Padahal TKP adalah ujian yang paling kuanggap mudah. Ternyata yang mudah itulah yang membahayakan. T_T

Emang ya.. yang membuat kita jatuh tersandung bukan batu besar, tapi justru kerikil kecil yang keberadaannya malah tidak terlalu kita khawatirkan. Aku menganggap enteng ujian TKP, dan akhirnya sekarang aku menyesal. Harusnya aku tidak hanya berfokus di TWK dan TIU, sehingga mengabaikan TKP. Sediiihh.. Hiks..

Jadi habis ujian, aku nyamperin mas yang nungguin aku di masjid. Dengan muka sedih dan putus asa, aku ngadu. Mas nepuk2 pundakku dan bilang, “udah gak apa2. Berarti belum rezeky tahun ini. Tahun depan kita coba lagi.” Dia mah legowo2 aja. Emang dia selalu kek gitu sih di segala situasi. Heran gue. -_-

Terus waktu aku ceritain tentang nilai dan kegagalanku di bidang TKP, mas bilang, “Indonesia ini punya banyak orang pintar, tapi belum tentu berkarakter.” Alis gue naik sebelah, “maksudnya mau bilang adek gak baik, gitu?” Mas ketawa. “Bukan, maksud mas, mungkin Allah kasih seperti ini karena Allah mau ada yang adek perbaiki dari kepribadian adek. Mungkin karakter adek gak sebanding dengan kecerdasan adek. Coba introspeksi dan diperbaiki.”

Omongan mas ada benernya. Eh, banyak benernya. Kayaknya aku memang sedang disuruh Allah untuk memperbaiki karakter agar memiliki akhlak mulia. Biar jadi istri soleha yang gak cerewet kali ye? Manalah bisa. Mana ada istri yang gak cerewet. Wkwkwkwk.

Eh, tapi kalo kupikir2, semua jawaban di TKP itu kayaknya benar semua loh. Sumpeh. Kayaknya jawaban yang kupilih sudah jawaban terbaik. Tapi kok... mungkin disinilah letak perbaikan karakter itu ya. Dari pilihan2 yang baik, ternyata ada pilihan yang paling baik. Dan itulah yang seharusnya dipilih. Begitupun dalam kehidupan sehari2.

Misalkan, kalo mas bilang, “mas lihat kayaknya adek lelah kali. Udah dek, kalo capek gak usah masak.” Nah, respon aku misalkan,
A). Nurut aja apa kata mas. Toh aku memang capek.
B). Tetap masak walaupun seadanya. Pokoknya asal mas bisa makan aja.
C). Ngajakin mas makan di luar aja.
D). Ngajakin mas buat bantuin di dapur, biar bisa tetap makan enak.
E). Minta tolong sama mas buat masak sendiri aja.

Nah loh? Jawab yang mana hayo? Itu jawabannya hampir baik semua kan, cuman pasti ada yang paling baik. Aku yang ngebikin soal aja bingung jawaban mana yang paling baik. Hahahahahhaa.
Tuh, model soal TKP itu ya kayak gitu. Duh, kalo inget itu, aku sedih lagi. T_T

Ada lagi omongan mas yang makjleb kali. Aku bilang ke mas, “mungkin adek kurang banyak doa kali ya mas? Makanya belum diijabah Allah.”

Mas ngangguk, terus bilang, “Mungkin juga karena kurang dekat.”

Deg!

“Mas lihat, adek suka ngulur2 waktu solat. Ngaji udah jarang. Tahajjud udah gak pernah lagi. Kita harus dekat sama Allah, biar Allah sayang sama kita.”

Disinilah moment betapa bersyukurnya aku diberi pendamping yang bisa membimbing. Gak sekedar jadi teman tertawa, tapi jadi teman yang bisa membina. Mengingatkan kepada yang baik dan dengan cara yang baik pula. Alhamdulillah.

Semoga kita bisa menjadi teman hidup selamanya. Yang saling mengisi dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Sehidup se-syurga. Aamiin.

Iloveu unconditionally, hubby. :*

Paling tidak, jikapun aku belum beruntung untuk bisa bergabung menjadi ASN, at least, aku sudah punya pasangan dan masa depan bersamanya. Hahahahhaaseeeeekk.. Wkwkwkkwwk.

Jadi, dari tulisan ini, walaupun banyak lebay-nya, ambil hikmahnya ya gaes. Jangan sepele-kan kerikil kecil sekalipun. Karena yang kecil, yang kita anggap remeh temeh, justru bisa membuat kita terjungkang, dan sakit. Iya, sakit tapi tak berdarah. Hehe.

Lagi pengen majang foto ini ajjah.. hhahahha.. XD
Tetap semangat buat yang belum berkesempatan jadi ASN tahun ini ya. Kita coba lagi tahun depan. Kali aja setelah kita banyak belajar dan memperbaiki diri, rezeky kita semakin dekat. Kalaupun belum jadi ASN, percayalah, bumi Allah ini luas. Rezeky ada dimana saja asal kita terus berusaha. J
Udah dulu ah, ntar dikira mau nyaingin Merry Riana pulak. Wkwkwk.

Wassalamualaikum...

Selasa, 02 Oktober 2018

MY LIFE JOURNEY - FIRST MONTH


12 Agustus 2018 – 12 September 2018

Satu bulan sudah menjalani bahtera rumah tangga dengan status istri. Alhamdulillah, ternyata segala yang dulunya terlihat indah, jauh lebih indah setelah dijalani sendiri. Benarlah, menikah itu membuat kita semakin merasa tentram. Membuat semakin bersemangat menjalani hari, membuat selalu ada alasan untuk tersenyum dan berbahagia.

Banyak yang bilang, ini karena aku masih menjalani selama satu bulan. Jadi katanya masih yang manis-manis tuh yang terasa. Yaiyalah yaa.. namanya juga penganten baru. Kan gak ada juga kali penganten baru yang udah ribut2. Katanya lagi omongan penganten baru suka lebay. Habisnya gimana... kan emang lagi bahagia. Wkwkwk.

Jadi satu bulan ini, ditengah rasa cinta yang bertebaran di udara *haseekk* aku menahan hasrat untuk terus2an mosting segala hal yang kulalui di socmed. Kenapa? Aku ingat, temenku pernah bilang, “jangan suka mosting kebaikan2 suami. Itu namanya ngobral. Sekalinya pelakor dateng, panas dingin lu.” Hahahahhaaa.

Untuk seorang diriku yang alay ini, rasa2nya mustahil untuk gak mosting apa2 di socmed. Soalnya udah kebiasaan bikin story. Herannya, belakangan ini, justru aku jarang banget mosting sesuatu. Malah jarang banget bikin story. Bukan, bukan karena dilarang suami, atau takut soal pelakor tadi. Tapi karena sekarang, Hp udah gak semenarik dulu. Wkwkwk. Soalnya orang yang biasa dihubungi via Hp udah ada di sebelah. *eaaaa.. :v Makanya aku nulis blogpost ini. Alternatif dari posting2 di socmed. Biar jadi kenangan yang abadi sampek tua nanti. Sekaligus motivasi buat yang masih belum menikah. :v

By the way, ini tuh salah satu perbedaan yang paling terasa dari sebelum menikah dan setelah menikah. Waktu kita buat pegang Hp, buat ngecek chat masuk, ngecek pesan masuk, atau sesekali buka socmed buat lihat2 feed itu cuman pas mau tidur. Sepuluh menitan doang. Padahal kalo dulu dari habis isya sampek mau tidur yang dipegang Hp muluk. Wkwkwk.


Eh, ada lagi, kalo dulu boboknya sendiri, sekarang udah ada temennya. Hahahahaha.

Banyak sih perbedaan2 yang bikin terkejut badan sebenernya. *wkwkwk* Tapi karena emang mau berproses, ikhlas berproses, dan bersyukur, jadi gak sampek demam karena tekejut badan tadi. Malah ngejalaninnya bahagia. Makin kemari makin bahagia. Hahahha.

“Tapi masa iya sih, bahagia terus? Gak ada berantem2 gitu?”

Nggak ada. Tapi kalo akunya ngambek, ya lumayanlah. Lumayan sering. Hahahhaa. Gak tau deh ya, ini hati kok sensitif banget. Mas salah ngomong dikit, tersinggung. Salah sikap dikit, kesel. Yang gitu2 masih sering. Sama kayak pas belum nikah kemaren. Bedanya, kalo sekarang ademnya lebih cepat. Hehehe. Kalo aku kesel, biasanya dia inisiatif aja pake tindakan dan langsung bikin kesengsem. Kayak kemaren, baru cerita2 kepengen masak acar ikan, trus entah gimana aku kesel. Dia langsung beliin bumbu buat acar ikan. Apa nggak meleleh awak.

Sejauh ini, kita gak pernah berantem. Semoga gak pernah berantem. Karena kalo dari pengalaman dulu, kalo berantem, pasti aku merepet panjang. Dia emang diam sih. Tapi diamnya berkepanjangan. Kan bingung sendiri awak. Hahahahhaha. Lagian jangan berantem2 lah ah. Jauh rezeky.


Eh, setelah sebulan menikah, mas makin gendut. Beda emang ya ada yang ngurusin atau enggak. Hahaha. Perutnya semakin menunjukkan ciri khas lelaki sukses. Pipinya tembem. Kayaknya aku berhasil mentranfer lemak2ku ke badannya. Hasilnya sekarang aku langsing, dia gendut. Hahahha. Walaupun dia suka bilang, “halah dek.. nanti kalo hamil adek gendut jugaknya.” Biarin deh yaa.. Pokoknya sekarang langsing. :v

Eh, btw, selama sebulan hidup bersama, yang jelek2nya dulu waktu belum nikah kan udah pada keliatan tuh. Kata mas, jidat aku selebar lapangan bola, terus aku tidurnya ngorok. Padahal, sumpeh, selama 27 tahun hidup gak pernah menyadari kalo aku tidur ngorok. Dia pasti bohong. Terus katanya, kalo muka dia ketutupan rambutku yang panjang, tebal, dan ikal, dia langsung nyasar ke hutan belantara. -_-

Jadi, aku nanyak, “gimana rasanya hidup sama aku sebulan ini, mas?”

Dia jawab, “Luar biasa.” *iya, aku tau ini gombal.* Terus dia nyambung lagi, “tapi merajoknya ini yang gak tahan.”

Rasanya pengen ketawa gegulingan. Masa iya sih, aku sebegitu tukang merajuknya. Perasaan biasa2 deh. :v

Dia emang gak nanya aku gimana rasanya hidup sama dia sebulan ini. Tapi aku cerita aja deh ya. Hehe. Dia itu tipikal cowok rajin, gak bisa diam, gak bisa lihat yang berantakan (pembersih banget emang), doyan makan, tapi kalo makan gak bisa banyak (heran, porsi makan aku lebih banyak dari dia, tapi kok bisa dia yang gendut?), dan tipe pria soleh yang kalo udah denger adzan, pasti langsung ke masjid. Semoga gak berubah ya. Selamanya menjadi imam yang soleh. Aamiin.

Dan satu lagi, dia ternyata adalah penyuka jengkol. -__- padahal dulu pas belum nikah lagaknya kayak orang yang gak suka jengkol. Ini nih yang kayaknya butuh penyesuaian banget. Soalnya dia suka banget sementara aku gak suka banget. Selama bareng aku, dia gak, eh tepatnya belum ada makan jengkol sih. semoga seterusnya. 

Sebulan ini, syukur alhamdulillah, kita dianugerahi Allah keberkahan dalam rumah tangga dengan rasa aman, damai, tenang, dan cinta yang bertebaran di udara. Semoga sakinah, mawaddah, wa rahmah selamanya. Aamiin.
*Semoga teman2 juga diberikan keberkahan dalam rumah tangganya, ya. Aamiin. 
*Maafkeun, daku belum bisa move on dari foto2 iniiihh.. hehe..