Senin, 21 Agustus 2017

MINE

Aku pernah punya mimpi bakal punya cerita cinta seindah FTV2 yang dulu sering kutonton waktu SMA. Yang ceritanya kadang2 bikin geleng2 kepala, tapi berujung so sweet di akhirnya. Pernah kepikiran bakal punya pacar cakep, dan merupakan idola di sekolah. Rajin bikinkan puisi, dan selalu antar jemput.  Pernah punya mimpi punya pacar cowok pinter dan kutu buku tapi ganteng banget. Yang selalu bantuin ngerjain tugas, dan secara gak langsung jadi guru privat pribadi. Pernah ngimpi pacaran sama anak pesantren yang soleh banget. Padahal cowok soleh mah gak ngajakin pacaran yak? Wkwkwk. Pernah juga mimpi di tembak sama anak basket di tengah lapangan, di depan kerumunan orang2, terus diteriakin “trimaaa.. trimaa.. trimaaa..” Pernah.

Iyap, aku juga melewati fase2 itu. Bacaanku saat itu teenlit, tontonanku waktu itu FTV. Dan akan sangat normal jika gadis belia se-usia-ku memimpikan hal itu. Wajar banget kalau saat itu aku kesengsem banget membayangkan kalau suatu ketika aku mengalami, dan menunggu2 saat aku benar2 dihadapkan pada indahnya cinta remaja yang “cie..cie..” itu.

Tapi, semakin kesini, seiring bertambahnya usia, aku jadi mikir, itu memang so sweet banget, tapi masa iya ada kisah macam itu? Itu cerita cuman ada di pilem2, di drama2 korea, di sinetron2. Kayaknya hidup aku gak drama banget deh. Gak mungkin aja rasanya mengalami kisah layaknya drama korea yang bikin penontonnya melayang2. Jadi, sejauh ini, aku hanya menganggap romantisme macam itu gak ada di dunia nyata. Paling nggak di kehidupanku yang mengedepankan rasionalitas.

Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Paling tidak saat ini, dan beberapa tahun lalu. Kalo pas masa SMA seingatku aku memang masih laper mata. Sekarang, kalo lagi jalan sama temen2, trus ngeliat cowok cakep lewat, atau ada temen yang bawa temennya lagi ke tempat kita kumpul2, aku cuman komen, “cakep sih. Trus kenapa?”

Pada akhirnya ternyata, semakin kemari, semakin aku paham kalau ternyata tampang doang gak cukup buat memenuhi kriteria dalam memilih pasangan. Yap, kayak yang pernah kutulis kemaren, “sekarang, cantik aja gak cukup.” Semakin kesini, kriteria nambah beberapa poin, jadi harus berwibawa, punya kepribadian yang baik, seorang muslim yang taat, pekerjaannya baik, dan gak merokok. Lebih kurang inilah kriteria-ku sebagai seorang cewek dewasa dalam memilih pasangannya. Karena seperti yang sudah kutulis di awal, hidupku mengedepankan rasionalitas.

Buatku, cinta yang menggebu2, yang penuh romantisme itu gak lama. Yang bikin rumah tangga itu tetap bertahan justru lebih karena komitmen. Kadang2, walaupun masing2 udah gak punya ketertarikan visual, pernikahan itu gak akan berakhir, karena masing2 sadar akan komitmen.

Sampai, suatu ketika, aku menemukan seseorang yang membuatku mengalami beberapa kejadian yang mirip cerita di FTV2 itu.

Aku ingat banget waktu itu, pas lagi jalan. Ceritanya lagi mentel, gak mau pake helm, karena pas berangkat masih belum terik. Lah pas pulang, matahari udah turun memang, tapi justru malah langsung menerpa wajah. Panas, coy! Jadi berpanas2 ria-lah, sibuk nutupin wajah saking panasnya, gak konsen lagi sama jalanan karena waktu itu kan posisinya lagi gak enak. Tiba2 motor kita melaju di sebelah belakang truk gede, padahal jalanan di sebelah kanan dan kiri kita masih luas. Bisa aja dipotong sebenernya. Tapi kita ngekorin truk itu sampek jauh. Sampek kita belok, karena truknya lurus. Awalnya aku bingung. Trus lama2, aku sadar, kita sedang berusaha menghindari matahari. Ternyata dia berusaha biar aku gak kepanasan.

Di waktu yang lain, aku pernah minta ditemenin shopping. Kebetulan kemaren nyari sepatu. Jadi berkeliling2 mall lah kami, seharian. Aku gak tau deh ya berapa kilo meter kami udah berjalan, muter2, keliling2, naik turun eskalator, dan sebagainya. Tapi yang kutahu, karena aku juga pernah hiking, lelahnya itu gak se-lelah naik gunung lah. Tapi, hei, aku lupa aku sedang bersama orang yang biasa jalan di hutan atau yang biasa mendaki gunung, bukan orang  yang doyan keluar masuk mall. Aku gak tau – lebih tepatnya – gak sadar, kalo ternyata dari tadi dia sedang menahankan kaki yang – katanya – mau patah, dan perut yang melilit. Aku sama sekali gak sadar karena dia gak bilang dan mukanya kayak baik2 aja gitu. Pas kita udah selesai shopping, trus makan, dia pamit bentar ke indomar*t. Dan taraaaa.. pas dia kembali, dia bawa *ntangin.

Pernah lagi, suatu ketika, dia udah janji mau jalan sama temen2nya buat ngerayain upacara peringatan kemerdekaan di Bukit Holbung. Aku jelas aja gak bisa ikut karena menjadi salah satu petugas upacara di sekolah. Aku udah tau dari kemaren2 emang kalo dia mau pergi, tapi karena aku juga gak punya alasan buat ngelarang, dan gak punya alternatif tujuan klo dia ngebatalin rencana ya Cuma bisa say “hati2 di jalan ya..” Padahal mah dalam hati rasanya pingin klo dia ada pas upacara di sekolah, ngeliat aku. Waktu berlalu, upacara berjalan khidmat dan sukses. Tugasku selesai. Saatnya berkabar. Mungkin dia lagi jadi pembina upacara di Holbung sana.

“Aku disini,” jawabnya sambil tertawa kecil diujung telepon.

Senyumku merekah. Dia gak jadi berangkat. Memang ada alasan tertentu, dan mungkin alasan itu bukan aku, tapi aku tau, dia ada disini buat aku.

Aku gak pernah nyangka, ternyata dalam perjalanannya, aku menemukan sosok pasangan di FTV2 dan drakor2 yang bikin cewek melayang2 gak karuan. I found him. Nemu seseorang yang banyak ngertinya, banyak maklumnya, banyak sabarnya, banyak romantisnya. Dan ternyata akhirnya, aku gak lagi menganggap adegan2 romantis di film drama itu hal yang mustahil. Yaiyalah yaa. Adegan itu nongol di drakor pasti karena ada di dunia nyata yang emang sih dibumbui dengan imajinasi penulis skenarionya.

Akhirnya, segala imajinasi liar-ku tentang sosok seorang cowok romantis, yang sempat kutampik jauh2, kini ada di kehidupanku. Semoga segala yang indah2 ini gak hanya saat ini, tapi sampai nanti.


Senin, 07 Agustus 2017

UNFINISHED SONG PART II

Aku pernah nulis sesuatu tentang lagu yang tak selesai sebelumnya kan? Lagu itu masih tidak akan selesai. Sekalipun ada pihak yang ingin mendengar lagu itu secara sempurna. Jangan tanya kenapa. Terima saja. Karena bagiku, tidak semua tanya membutuhkan jawaban. Tidak semua alasan harus diutarakan. Aku ini bukan boneka yang bisa mengikuti apa saja skenario yang diinginkan penonton. Hidupku memang sedang dalam sorotan. Entahlah. Padahal siapalah aku ini? Tapi entah kenapa hidupku kerap jadi perbincangan. 

 
Hidupku gak menarik2 amat, but im the most aweome person i know. :p

Padahal andai mereka tahu, hidupku gak menarik2 amat.  Aku hanya seorang guru honor biasa. Dan kebetulan belum menikah. Hanya itu. Tapi perbincangan yang hingar bingar itu luar biasa. Entah apa untungnya mereka membahas aku. Entah apa juga faedahnya buat mereka berprasangka tentang aku. Emangnya aku ini siapa kali? Bukan hebat kali. Kok jadi trending topik gini ya?

Oh iya, mungkin kabar yang beredar entah dari mulut siapa awalnya, yang kemudian bertambah dengan bumbu2 penyedap, sudah sampai hampir ke semua kuping. Tapi, hei, kurasa berlebihan jika mereka menanggapi seakan2 itu prihal yang hebat banget. Aku sih gak terlalu peduli sebenarnya. Hidup2 aku. Kenapa jadi rempong sama mulut orang?

Kalo kata Nesya, orang yang demikian itu pas pembagian bibir dia serakah, pengen kebagian banyak. Jadinya yaa.. sekarang bibirnya banyak. Dimana2. Yang bukan urusan dia diurusin, yang bukan kepentingan dia diomongin. Yaaahh... selamat datang di Endonesah. Yang saking ramahnya penduduknya, hal yang gak penting di hidupnya dia juga dirame2in. Awalnya sih ngerasa tersanjung juga. Banyak yang merhatiin yaaa ternyata. Banyak yang peduli, banyak yang ngasih masukan ini itu, banyak yang sok2 ngelarang dan sok2 nganjurin. Tapi lama2 semuanya jadi kayak topeng. Ketahuilah, teman2 sekalian, gak ada yang namanya teman sejati di dunia kerja. Kalo dulu pernah nemu soulmate waktu sekolah atau pas kuliah, bersyukurlah, karena dulu yang dirempongin atau diributin hanya soal nilai. Kalo di dunia kerja, beeeeeuuhhhh... seluk beluk hidup lu, dari cara berpakaian lu, gaya hidup lu, sampek bentuk WC di rumah lu juga diributin. Kadang memang cuman karena iseng, tapi di lain kesempatan, jadi senjata buat menjatuhkan.

Duh, jadi melebar gini ya.

Sebenernya aku sih gak mau ngomel2 panjang gini. Biasanya kalo aku tersinggung, atau merasa diperlakukan gak cocok sama orang, aku diam. Karena toh, rasa kesalku bakal menghilang satu dua hari kemudian. Aku bukan pendendam. Aku hanya... ingat.

Aku tidak pernah menaruh dendam pada siapa pun, termasuk mereka yang pernah menyakitiku, atau bahkan mereka yang pernah mendzolimiku. Aku tetap berusaha menjali hubungan baik. Meski, aku membatasi intensitas ketemu dan interaksi dengan beberapa orang. Tidak, ini tidak berarti aku tidak menghargai atau apalah namanya usaha mereka untuk bisa kembali dekat, hanya, aku lebih mencintai diriku. Tenang saja, ini bukan perwujudan benci. Setiap orang punya cara sendiri untuk melindungi hatinya, bukan?

Untuk lagu yang tak selesai itu, aku tak pernah menaruh dendam. Mungkin untuk sejenak, aku termangu. Heran. Bingung. Marah. Bertanya2. Mengapa? Ada apa? Kemana? Sampai akhirnya aku  beringsut dari diamku, melanjutkan hidup, dan menemukan kebahagiaan2 baru. Setelah semua itu, aku tidak pernah menaruh sedikitpun dendam. Aku belajar berlapang dada. Menerima apa adanya. Aku belajar untuk memahami bahwa segala sesuatu yang tidak pada alurnya, tidak akan berjalan baik. Dan semuanya berjalan baik2 saja. Aku bahkan masih menunjukkan rasa peduli. Bukan karena berharap apapun, tapi ini lebih kepada balas jasa, dan menghormati.

Tapi kemudian, setelah semua itu berlalu, sekarang malah banyak pihak mendatangiku, meminta untuk melanjutkan lagu yang kemarin tak selesai itu. Maaf, penonton. Saya adalah saya. Saya bukan boneka yang mau saja menuruti skenario yang bisa membuat penonton senang. Saya punya pendirian, saya punya prinsip. Mohon maaf sekali, saya tidak bisa.

Setelah mendengar jawabanku, serta merta penonton yang entah bagaimana bisa tau ceritanya, bisa menjadikanku trending topik gosip mereka. Entah bagaimana, aku mendadak menjadi orang yang selalu dibicarakan. Mungkin akunya aja kali yang geer ya? Semoga deh. Ini lebih baik daripada persepsiku tadi benar2 terjadi.

Sialnya lagi, mereka mengait2kan segala sesuatu yang padahal sebenarnya hanya “kebetulan” terkait. Yaahh.. begitulah yaa... namanya juga hidup yaa..

Terima sajalah.. gak usah dipusing2in banget. Santai ajalaahh. Kan aku udah bilang, aku bukan pendendam. Aku bahkan bisa segera lupa apa yang telah dilakukan mereka ke aku dalam hitungan hari. Ini ditulis hanya karena mungkin aku butuh bersikap tegas pada pertanyaan2 yang memang tidak membutuhkan jawaban itu. Itu saja. Ya, hanya itu. Semoga kau mengerti maksud aku menuliskan ini. Sekian.
Im ready for the new journey

Sabtu, 13 Mei 2017

BALADA MAHASISWA SEMESTER TUA PART II



Wisuda Lagii.. Alhamdulillaaaahhh.. :D
Sumringah beut muka gue :D
 Finally, setelah berjarak sekitar tiga bulanan dengan ‘Balada Mahasiswa Semester TuaPart I’ akhirnya bisa kembali nulis yang part II. Dan itu artinya, sodara-sodaraaaaaa... saya sudah wisudaaaa... Alhamdulillah.. Duh, Gustiii... akhirnya perjuangan itu sampai di ujungnya. Akhirnya segala peluh, lelah, darah (halah) bertukar dengan air mata bahagia. Perjalanan panjang dalam pendidikan pascasarjana yang penuh semak belukar dan semak berduri itu akhirnya terlewati dengan anggun dan berkelas. Wisuda lagi adek, bang! :D

Kemarin, di part I, aku masih cerita tentang suka duka di seminar hasil ya? Sekarang aku bakal cerita sedikit tentang sidang tertutup yang kuhadapi berjarak seminggu dari seminar hasil. Bukan karena menarik2 banget, hanya saja kalo gak ditulis, takut lupa. Dan kalo udah lupa rasanya sayang banget moment bahagia gak diabadikan.
Gak di pantai, gak di gedung, pose-nya selalu sama. wkwkwk

Iya, sidang tertutup kemaren gak pake air mata. Hehe. Soalnya kemaren minim sekali perbaikan. Alhamdulillah. Dan mungkin karena ada kamu. (Ciiieee...)

#Sitante Semoga ntar jadi dosennya barengan. :)
Jadi ceritanya di sidang tertutup itu kita menghadapi dua orang dosen pembimbing, dan tiga orang penguji. Ketiganya mengajukan pertanyaan2 yang mereka ingin tanyakan. Ternyata, selain menanyakan tentang isi tesis kita, mereka juga banyak bertanya tentang keseharian dan aktivitas kita. Karena kemaren yang sidang kebetulan berdua doang sama Ria, dan kebetulan sama2 pendidik yang S1-nya bukan pendidikan, jadi mereka kepo banget. Kok bisa kebetulan banget gitu. Hahaha. Kayak jodoh gitu ya. Haha


Kalo persepsi orang2 sidang tertutup itu menyeramkan, buatku itu salah. Yang paling menyeramkan, menegangkan, dan menguras emosi adalah seminar hasil. Umumnya, penguji dan pembimbing akan maklum saja jika pada seminar kolokium kita masih gagap dan banyak revisi. Sementara di sidang tertutup, kita Cuma diajakin ngobrol2 ringan tentang tesis yang kita susun. Tapi kalo seminar hasil, gaes, syusyeeeeehhh. Seminar hasil adalah penentuan apakah tesis kita layak atau tidak. Diterima atau tidak. Pantas atau tidak. Dan bukan hal baru jika pada seminar hasil, ada tesis yang ditolak dan dibatalkan. Horror gak tuh? -_-
Kerumunan Wisudawan Pascasarjana. Bisa temukan aku yang mana? :D

Wisuda barengan sama bu kajur dan pak kajur
Alhamdulillah kemarin aku dan Ria berhasil melewati seminar hasil dan sidang tertutup kami dengan baik. Kita bisa jawab pertanyaan-pertanyaan penguji dengan baik, dan alhamdulillah kita hanya butuh sedikit sekali revisi untuk sidang tertutup. Yaiyalah yaaa.. secara bimbingannya sampek sepuluh kali sama Pak Muis. Hahahahahaa.

Tapi, selain itu semua, yang bikin aku ngerasa sangat2 hepi adalah, karena ada yang bikin hepi. Ciiieee.. hahhahaa. Jadi kemaren karena udah pengalaman pas seminar hasil, pake gengsi2an segala, pas sidang tertutup kita langsung bikin kesepakatan dengan segala hal yang berkaitan dengan hal itu. Pokoknya selama sidang jadi berasa hepi. Hihihii.



Singkat cerita, gengs, kemarin, tepatnya hari Kamis, 10 Mei 2017 daku resmi di-wisuda, dan resmi punya gelar baru. Alhamdulillahirabbil’alamin. Ternyata, euforia yang ada, lebih semarak dari waktu wisuda S1 dulu. Kenapa ya? Mungkin karena suasana baru kali ya? Kemarin kan wisudanya di Aula kampus, ini di Selecta. Kemarin kan wisuda S1, ini S2. Kemarin kan hanya didampingi orang tua, ini didampingi ...... (ciiieeeee....) ahahahahahaha. Jangan terlalu serius. Nanti kamu khilaf. :p
Part of me. Minus Arif yang gabisa datang. :(



Ini bakal jadi cerita yang bakal sering dikenang-kenang. Jadi ceritanya untuk wisudawan hanya ada tiga undangan. Satu buat wisudawan sendiri, yang dua lagi buat pendamping. Kita (aku dan Ria) udah sempat tanya2 ada undangan yang diperjual belikan atau nggak. Karena (ehemm) kita kepingin ngundang seseorang selain ornag tua. Sayangnya pihak kampus bilang gak ada karena jumlah wisudawan tahun ini membludak.
Brother Sister's Goals. Jangan bilang gak mirip, plis. hahahaa

Dan disinilah kisah itu dimulai. Seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa berada di sebelah seorang wisudawan yang ia sayang. (Ciiieee)

Perjuangan dimulai dari bolos kerja, kudu kucing2an sama Bos, sampai berusaha masuk ke gedung tanpa undangan. Mulai dari masuk dari lobby utama, lift belakang, sampai bolak balik pake tangga darurat. Finally, setelah berpeluh2, dia kini berada di latai V Selecta Convention Hall. Hanya dengan ransel yang ngegantung di leher, dan ransel di punggung. Tanpa bouquet.

Si wisudawan langsung menyusul lelaki itu ke pintu darurat, khawatir dia kebingungan nyari2, soalnya wisudawan yang akan diwisuda hari itu sekitar seribuan lebih. And then, setelah mereka ketemu, si wisudawan kecewa. Berusaha menutupi kekecewaan, ia akhirnya bersikap biasa2 saja. Sesi wisuda, foto, dan foto lagi selesai. Semua berjalan baik sampai suatu ketika .....

“Aku pulang duluan ya...”

Deg!

Si wisudawan terkejut. Ia yang sedang kebingungan mencari2 orang tuanya, dan dipenuhi rasa takut luar biasa karena tiba2 mereka tidak bisa dihubungi, shock. Satu kesalahan besar ia lakukan dengan berucap : 

“Yaudah, pulang aja sana!”

Ini udah kayak sinetron, gaes. Persis sinetron. Atau biar agak keren sikit, anggaplah ini drama korea. :v

Aku nggak tau apa yang terjadi kemudian. Hanya saja, karena aku adalah seorang pengkhayal yang baik, ini yang ada dalam hayalanku.

Si lelaki pergi, karena tersinggung dengan ucapan si wisudawan. Tapi kemudian si wisudawan menyesal. Ia menghubungi si lelaki begitu ia bertemu dengan orang tuanya, persis ketika si lekaki sudah hampir berlalu dari kawasan Selecta. Ia menerima panggilan si wisudawan dan kemudian kembali. Dengan dada yang sesak. Dengan kemarahan yang bertumpuk. Kekecewaan yang menggunung. Tapi ia kembali dengan sebuah bouquet bunga besar, dan senyum sumringah. Di hadapan kedua orang tua si wisudawan, ia menyerahkan bouquet itu dengan debar.

Kalo menurutmu, gimana perasaan si wisudawan? Ya, aku berpikiran sama. Sontak segala kesal yang tadi sudah memburu di dadanya bertukar senyum. Lelaki-nya kembali. Dengan bouquet pula. Beruntung banget ya si wisudawan itu. Bikin baper aja.

Ternyata kisah2 di FTV2 itu gak bakal ada kalo gak terinspirasi dari dunia nyata. Sudah kubilang, ini memang mirip drakor yang entahlaaahh...

“Yuk, dek. Kita turun. Papa sama mama pasti udah nungguin di bawah.”

Seseorang menyentuh toga di kepalaku, dan aku terhenyak. Ia tersenyum. Ahh, senyum yang selalu kurindukan.

Beriringan kami melalui koridor menuju lift. Dalam hati, aku membenak, aku memang suka kisah cinta macam yang ku-khayalkan tadi. Segala keributan yang berujung romantis. Tapi agaknya, aku tidak mau itu terjadi padaku, pada kami. Cukuplah itu menjadi khayalan yang hanya akan menjadi khayalan saja.

***

Jadi, setelah membaca blogpost ini, kira2 apa tanggapan kamu tentang khayalanku? Aku masih jadi pengkhayal nomor satu? :p

Selasa, 25 April 2017

MY JOURNEY – PANTAI CEMARA KEMBAR




Alhamdulillah, akhirnya si pecinta pantai kali ini bisa kembali menjamah pasir, menyentuh tepi pantai dengan segala pernak perniknya. Liburan kali ini aku berkesempatan kembali bercengkrama dengan anak-anak angin. Sekian lama gak mosting MY JOURNEY, finally ada rezeky buat jalan lagi. Ke pantai pulak. Alhamdulillah.. :D



Kalo kemaren jalan ke Pantai Mangrove dan Pantai Romantis, kali ini aku jalan ke Pantai Cemara Kembar. Pantai ini masih satu kawasan sama Pantai Romantis dan Pantai Mangrove. Masih sama-sama di Desa Sei Nagalawan. Mungkin dikasi nama berbeda karena berbeda pula pengelolanya. Kalo dari Medan, rute yang bakal di lewatin tuh kek gini Amplas – Tj. Morawa - Pakam – Perbaungan – Sei Nagalawan. Haha. Pasti pada heran kenapa aku bisa ngejelasin ini. Ini memang hal yang biasa banget buat kamu-kamu yang tau jalan. Tapi buat aku yang susah hafal jalan, dan kebiasaan kalo namanya numpang, ya anteng aja di boncengan. Gak peduli kanan kiri. Yang penting nyampek. Tapi kali ini, mungkin karena udah beberapa kali melewati jalan yang sama, dan rentangnya gak jauh2 amat, jadinya udah agak2 hafal gitu. Trus, karena udah agak2 hafal, jadi pede buat nanya sama pak supir rutenya. Buat memastikan kalo akhirnya aku tau jalan yang harus kulalui menuju pantai. Haha.

Jadi kalo kemaren2 ada yang nanya aku Pantai Romantis itu dimana, aku cuman bisa jawab, “di Perbaungan.” Kalo sekarang kan aku bisa bilang, letak Pantai Cemara Kembar itu di sini loh. Di Desa Sei Nagalawan. Tetanggaan sama Pantai Mangrove dan Pantai Romantis. Hahahaa






Eh, padahal kemaren rencananya kita mau ke Pantai Bali Lestari. Kirain satu kawasan, taunya beda. Bali Lestari ternyata satu aliran sama Pantai Cermin. Letaknya di Perbaungan. Lebih dekat sebenarnya kalo dari Medan. Tapi yaudahlah, pantai Cemara Kembar juga oke. Bisa main flying fox adek, bang! Hahahahaa

Untuk masuk ke Pantai Cemara Kembar, kita dikenakan retribusi sebesar Rp. 40.000,- per orang. Itu udah free satu botol sedang Le Minerale dan satu bungkus kecil wafer, free parkir, dan free gazebo. Tinggal pilih mau pake gazebo yang mana. Ada tawaran lain juga sebenarnya, sebelum masuk ke lokasi Pantai Cemara Kembar, ada pantai umum. Masuknya Rp. 15.000,- tapi itu cuman buat masuk aja. Gazebo-nya exclude. Jadi kalo dihitung-hitung sama aja kayaknya. Sewa gazebo pasti Rp.50.000an jugak.

Spot-spot di Cemara Kembar bagus-bagus. Mirip-mirip Pantai Romantis-lah. Dinamakan Cemara Kembar karena ada dua pohon cemara besar yang berdekatan. Pohon cemara disini besar-besar memang. Dan karena pohon-pohonnya besar, jadi memungkinkan buat area flying fox. Nah, ini istimewanya. Main flying fox sudah include ke dalam retribusi awal yang kita bayar tadi. Jadi mau gak mau main, ya tetep kudu dibayar.

Nyampek pantai, begitu menjejak di pasirnya yang putih bersih, senyumku merekah. Aku rindu banget. Kita langsung nyari posisi uenak. Jadilah kita istirahat setelah perjalanan jauh di gazebo sambil rebahan. Di gazebo sebelah kita, ada keluarga besar yang bawa anak-anak kecil banyak. Itu masih tengah hari dan mereka udah pada nyebur. Bentar naik, buat makan, terus turun lagi. Sekali lagi kubilang, itu saat matahari tepat di atas kepala. Panasnya poooll. Tapi mereka tetap enjoy. Jadi teringat pas masih kecil dulu. :D

Pantai Cemara Kembar ini juga difasilitasi musholla yang alhamdulillah dibangun di tempat yang strategis. Mudah dijangkau. Musholla-nya gak gede-gede banget, tapi cukup baik untuk dipakai ibadah.

Restoran di pantai ini cuman satu. Jadi kalo mau pesan makanan emang harus agak sabar. Kemaren kita makan cumi asam manis, es kelapa, sama cah kangkung. Harganya ya harga tempat wisata lah. Gak murah memang, tapi juga gak mahal2 banget. Masakannya enak. Tapi mungkin karena banyak antrian, jadi buru-buru masaknya. Jadi ngunyah cumi-nya agak pake tenaga. :v

Sepanjang hari kita nikmatin suasana pantai banget. Gak sibuk nyari spot foto kayak sebelum-sebelumnya. Kalo kemaren di Pantai Romantis, malah gak

ada duduk-duduk santainya. Sibuk jalan sana sini buat foto. Mungkin karena ini sudah kali ke sekian kita ke pantai kali ya. Jadi kita lebih menikmati suasananya. Kita lebih tertarik main pasir, main air, nonton orang-orang main banana boat, sama duduk leha-leha di gazebo. Dan satu lagi, ngeliatin orang main flying fox sebelum akhirnya nyobain sendiri. Asli, Seru!

Jadi ceritanya kemaren itu adalah kali pertama aku nyobain main flying fox. Itu juga awalnya ngeri. Tapi karena banyak adek2 kecik yang nyobain dan mereka ketagihan, aku jadi kepo dan yeah, aku mencoba dan aku suka. Seru! :D

Well, dari sekian banyak pantai yang kita kunjungi, semuanya punya pesonanya masing-masing. Punya kelebihan masing-masing dan semuanya bikin aku jatuh cinta.

Emang sih kalo ada aja yang punya sunset, pasti aku bakal rajin datang. Coba aja airnya biru jernih, pasti aku kesana bawa baju ganti. Tapi yaudalah, udah paten itu kok. Haha.

Semoga ada rezeky untuk mengunjungi pantai yang ada sunset dan airnya biru. Aamiin.

Sabtu, 15 April 2017

DILAN DAN AIR MATAKU


Pernah baca buku Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990? Atau Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991? Atau Milea, Suara Dari Dilan?

Aku nggak tau buku ini populer atau nggak. Pertama kali aku tertarik baca karena ada beberapa postingan di instagram yang captionnya tentang sebaris kalimat, “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. – Dilan”

Sudah sekian lama aku gak berkutat dengan novel lagi. Entah, mungkin karena sudah lelah dengan aktivitas di sekolah atau lebih tertarik membaca stories di sosmed. Atau bisa juga lebih tertarik ngobrol pake jempol. Pokoknya udah jarang banget baca novel, dan berujung pada : gak pernah lagi nulis cerpen. Kalo nulis blogpost ya seadanya aja gini. Gak pernah romantis lagi seromantis cerpen2 aku yang sudah2.

Tapi aku bukan mau bahas itu. Aku mau cerita tentang novel yang baru kutuntaskan tadi malam. Novel romantik remaja yang ditulis Pidi Baiq untuk mengenang perjalanan cinta Dilan dan Milea semasa SMA. Dalam hal ini aku bukan mau bikin resensi. Aku Cuma mau cerita.

Ini kisah masa lalu yang mau nggak mau buat aku teringat ke masa lalu juga. Dilan dan Milea bisa serta merta ngebuat aku ngayal mereka ada di dunia nyata. Entah gimana, Pidi Baiq dengan gaya nulisnya yang banyak banget kata “yaitu” nya itu berhasil bikin aku merasa masuk ke cerita. Aku bisa ngerasain suasana waktu Dilan, Milea dan kawan2 lagi nongkrong di warung Bi Eem. Aku bisa merasakan suasana Bandung zaman dulu dengan asrinya, dinginnya, jalan raya yang sepi. Aku bisa ngerasain suasana hati Milea yang bahagia di boncengan Dilan. Aku bisa merasakan setiap senti kerinduan Dilan pada Milea meski mereka baru saja bertemu. Dan pada akhirnya aku bener2 nangis karena bisa merasakan hampanya hari2 Dilan setelah mereka putus.

Ini kisah anak muda memang. Isinya tentang pasangan muda mudi yang jatuh cinta. Tentang dilema yang harus Dilan hadapi, antara Milea atau geng motornya. Tentang apa yang harus Dilan utamakan, cinta atau persahabatan.

Novel ini berhasil bikin aku senyum, sesekali nyengir, dan di beberapa bagian menangis.

Aku bukan tipikal orang yang terlalu perasa sebenarnya. Hanya saja ada beberapa kejadian akhir2 ini yang membuat sisi melankolisku mendadak muncul. Kupikir, saat suasana hatiku sedang baik2 saja, mungkin aku gak bakal nangis membaca ending cerita yang ditulis Baiq. Bayangkan, hanya dengan kalimat Dilan, “Semoga kita kuat ya, Lia.” Air mataku bercucuran. Entah. Bayangan masa lalu memang kerap membuat kita jadi seperti bukan diri kita.

Yang terbayang di kepalaku bukan melulu tentang masa lalu sebenarnya. Kalau boleh jujur, justru yang teringat dibenakku tentang masa lalu, hanya yang indah2 saja. Tentang cinta pertama yang gak pernah kesampean, tapi aku bahagia. Kurasa aku perlu sedikit cerita. Supaya nanti suatu ketika, aku punya bahan jikalah ada orang macam Baiq yang nyasar ke rumahku dan ingin tau kisah cintaku. :v

Masa putih abu2ku kuhabiskan dengan aktif di ekstra kurikuler sekolah, marching band. Namanya Bimanda. Bergelut di organisasi itu dari kelas X sampai XII ngebuat aku berjarak dengan teman2 sekelas. Aku lebih dekat dengan teman2 di Bimanda. Hari2ku habis di sekretariat Bimanda. Apa ini hanya karena aku memang menyukai dunia musik? Tentu saja bukan. Aku ke sekret hanya karena ingin melihat seseorang.

Demi kebaikan bersama, nama2 mereka yang terlibat di cerita ini kusamarkan saja ya. Hehe.

Di organisasi itu, seorang player (bukan karena dia playboy! Tapi di dunia marching band, pemain memang disebut player.) yang meniup trumpet telah mencuri perhatianku. Dia memang punya posisi bagus. Di beberapa display kami, ada part yang dia bermain solo. Itu mengagumkan memang. Aku yakin sekali banyak junior yang jatuh cinta padanya. Hanya saja, sayang sekali, dia sudah punya pacar saat itu. Dan pacarnya adalah seniorku di CG (Colour Guard). Hahaha. Lucu memang.

Paling nggak, akhirnya masa itu aku sudah tau rasanya gimana jadi seorang secret admirer. Wkwkwk. aku gak pernah pacaran dengan dia, tapi aku bahagia karena di hari2ku selalu ada dia. Nah loh. Enakan jadi gue kayaknya daripada pacarnya sendiri yang konon katanya lebih sering berantem daripada baikan. :v

Jadi kalo ini yang ada di masa SMA, kenapa aku bisa nangis ngebaca kisah Dilan dan Milea?

Aku terharu dengan keteguhan hati Dilan untuk tetap bersikap baik ke Milea, dan Milea yang juga bersikap baik ke Dilan setelah mereka berpisah dan gak ketemu beberapa lama.

Itu gak gampang. Paling nggak itu gak gampang kalo seperti yang pernah aku alami. Lost contact adalah pilihan paling bijak untuk menghadapi masa demikian. Masih enakan zaman Dilan dan Milea. Saat itu belum ada sosmed. Kalo mau komunikasian Cuma telepon rumah doang. Itu tuh masih enak tauk. Lah sekarang, kalo bener2 mau lost contact harus ngeblok segala sesuatu yang berkaitan dengan yang bersangkutan. Wiiihh. -_-“

Dan kemudian imajinasiku bermain kemasa dimana saat aku putus aku masih harus sering ketemu. Gimana aku bisa berjuang menyelesaikan hari saat aku harus benar2 kembali menikmati hidup pasca pisah. Gimana aku harus bisa bangkit dari segala keterpurukan yang pasti akan menghampiri jika itu terjadi. Ahh, untungnya itu hanya di imajinasi. Untungnya aku gak pacaran. Jadi aku gak bakal putus. Untungnya aku gak pernah memiliki, jadi aku gak bakal kehilangan. Ahh, alhamdulillah.

Membayangkan Dilan dan Milea dengan perpisahan mereka, dengan air mataku yang terus tumpah, aku teringat sebaris doa yang pernah ditulis Bang Zakaria, teman lamaku di S1, yang kemudian kubaca ulang sebelum aku tertidur karena kelelahan menangis.

“Jika dia memang adalah yang engkau pilihkan untukku, ya Rabb, mohon satukan kami dalam ridhoMu. Namun jika tidak, maka pisahkan kami dengan cara yang baik.”

Malam itu hujan deras. Tapi yang membasahi pipiku bukan tempias hujan, melainkan air mataku yang dibuat luruh oleh Dilan.[]