Sabtu, 13 Mei 2017

BALADA MAHASISWA SEMESTER TUA PART II



Wisuda Lagii.. Alhamdulillaaaahhh.. :D
Sumringah beut muka gue :D
 Finally, setelah berjarak sekitar tiga bulanan dengan ‘Balada Mahasiswa Semester TuaPart I’ akhirnya bisa kembali nulis yang part II. Dan itu artinya, sodara-sodaraaaaaa... saya sudah wisudaaaa... Alhamdulillah.. Duh, Gustiii... akhirnya perjuangan itu sampai di ujungnya. Akhirnya segala peluh, lelah, darah (halah) bertukar dengan air mata bahagia. Perjalanan panjang dalam pendidikan pascasarjana yang penuh semak belukar dan semak berduri itu akhirnya terlewati dengan anggun dan berkelas. Wisuda lagi adek, bang! :D

Kemarin, di part I, aku masih cerita tentang suka duka di seminar hasil ya? Sekarang aku bakal cerita sedikit tentang sidang tertutup yang kuhadapi berjarak seminggu dari seminar hasil. Bukan karena menarik2 banget, hanya saja kalo gak ditulis, takut lupa. Dan kalo udah lupa rasanya sayang banget moment bahagia gak diabadikan.
Gak di pantai, gak di gedung, pose-nya selalu sama. wkwkwk

Iya, sidang tertutup kemaren gak pake air mata. Hehe. Soalnya kemaren minim sekali perbaikan. Alhamdulillah. Dan mungkin karena ada kamu. (Ciiieee...)

#Sitante Semoga ntar jadi dosennya barengan. :)
Jadi ceritanya di sidang tertutup itu kita menghadapi dua orang dosen pembimbing, dan tiga orang penguji. Ketiganya mengajukan pertanyaan2 yang mereka ingin tanyakan. Ternyata, selain menanyakan tentang isi tesis kita, mereka juga banyak bertanya tentang keseharian dan aktivitas kita. Karena kemaren yang sidang kebetulan berdua doang sama Ria, dan kebetulan sama2 pendidik yang S1-nya bukan pendidikan, jadi mereka kepo banget. Kok bisa kebetulan banget gitu. Hahaha. Kayak jodoh gitu ya. Haha


Kalo persepsi orang2 sidang tertutup itu menyeramkan, buatku itu salah. Yang paling menyeramkan, menegangkan, dan menguras emosi adalah seminar hasil. Umumnya, penguji dan pembimbing akan maklum saja jika pada seminar kolokium kita masih gagap dan banyak revisi. Sementara di sidang tertutup, kita Cuma diajakin ngobrol2 ringan tentang tesis yang kita susun. Tapi kalo seminar hasil, gaes, syusyeeeeehhh. Seminar hasil adalah penentuan apakah tesis kita layak atau tidak. Diterima atau tidak. Pantas atau tidak. Dan bukan hal baru jika pada seminar hasil, ada tesis yang ditolak dan dibatalkan. Horror gak tuh? -_-
Kerumunan Wisudawan Pascasarjana. Bisa temukan aku yang mana? :D

Wisuda barengan sama bu kajur dan pak kajur
Alhamdulillah kemarin aku dan Ria berhasil melewati seminar hasil dan sidang tertutup kami dengan baik. Kita bisa jawab pertanyaan-pertanyaan penguji dengan baik, dan alhamdulillah kita hanya butuh sedikit sekali revisi untuk sidang tertutup. Yaiyalah yaaa.. secara bimbingannya sampek sepuluh kali sama Pak Muis. Hahahahahaa.

Tapi, selain itu semua, yang bikin aku ngerasa sangat2 hepi adalah, karena ada yang bikin hepi. Ciiieee.. hahhahaa. Jadi kemaren karena udah pengalaman pas seminar hasil, pake gengsi2an segala, pas sidang tertutup kita langsung bikin kesepakatan dengan segala hal yang berkaitan dengan hal itu. Pokoknya selama sidang jadi berasa hepi. Hihihii.



Singkat cerita, gengs, kemarin, tepatnya hari Kamis, 10 Mei 2017 daku resmi di-wisuda, dan resmi punya gelar baru. Alhamdulillahirabbil’alamin. Ternyata, euforia yang ada, lebih semarak dari waktu wisuda S1 dulu. Kenapa ya? Mungkin karena suasana baru kali ya? Kemarin kan wisudanya di Aula kampus, ini di Selecta. Kemarin kan wisuda S1, ini S2. Kemarin kan hanya didampingi orang tua, ini didampingi ...... (ciiieeeee....) ahahahahahaha. Jangan terlalu serius. Nanti kamu khilaf. :p
Part of me. Minus Arif yang gabisa datang. :(



Ini bakal jadi cerita yang bakal sering dikenang-kenang. Jadi ceritanya untuk wisudawan hanya ada tiga undangan. Satu buat wisudawan sendiri, yang dua lagi buat pendamping. Kita (aku dan Ria) udah sempat tanya2 ada undangan yang diperjual belikan atau nggak. Karena (ehemm) kita kepingin ngundang seseorang selain ornag tua. Sayangnya pihak kampus bilang gak ada karena jumlah wisudawan tahun ini membludak.
Brother Sister's Goals. Jangan bilang gak mirip, plis. hahahaa

Dan disinilah kisah itu dimulai. Seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa berada di sebelah seorang wisudawan yang ia sayang. (Ciiieee)

Perjuangan dimulai dari bolos kerja, kudu kucing2an sama Bos, sampai berusaha masuk ke gedung tanpa undangan. Mulai dari masuk dari lobby utama, lift belakang, sampai bolak balik pake tangga darurat. Finally, setelah berpeluh2, dia kini berada di latai V Selecta Convention Hall. Hanya dengan ransel yang ngegantung di leher, dan ransel di punggung. Tanpa bouquet.

Si wisudawan langsung menyusul lelaki itu ke pintu darurat, khawatir dia kebingungan nyari2, soalnya wisudawan yang akan diwisuda hari itu sekitar seribuan lebih. And then, setelah mereka ketemu, si wisudawan kecewa. Berusaha menutupi kekecewaan, ia akhirnya bersikap biasa2 saja. Sesi wisuda, foto, dan foto lagi selesai. Semua berjalan baik sampai suatu ketika .....

“Aku pulang duluan ya...”

Deg!

Si wisudawan terkejut. Ia yang sedang kebingungan mencari2 orang tuanya, dan dipenuhi rasa takut luar biasa karena tiba2 mereka tidak bisa dihubungi, shock. Satu kesalahan besar ia lakukan dengan berucap : 

“Yaudah, pulang aja sana!”

Ini udah kayak sinetron, gaes. Persis sinetron. Atau biar agak keren sikit, anggaplah ini drama korea. :v

Aku nggak tau apa yang terjadi kemudian. Hanya saja, karena aku adalah seorang pengkhayal yang baik, ini yang ada dalam hayalanku.

Si lelaki pergi, karena tersinggung dengan ucapan si wisudawan. Tapi kemudian si wisudawan menyesal. Ia menghubungi si lelaki begitu ia bertemu dengan orang tuanya, persis ketika si lekaki sudah hampir berlalu dari kawasan Selecta. Ia menerima panggilan si wisudawan dan kemudian kembali. Dengan dada yang sesak. Dengan kemarahan yang bertumpuk. Kekecewaan yang menggunung. Tapi ia kembali dengan sebuah bouquet bunga besar, dan senyum sumringah. Di hadapan kedua orang tua si wisudawan, ia menyerahkan bouquet itu dengan debar.

Kalo menurutmu, gimana perasaan si wisudawan? Ya, aku berpikiran sama. Sontak segala kesal yang tadi sudah memburu di dadanya bertukar senyum. Lelaki-nya kembali. Dengan bouquet pula. Beruntung banget ya si wisudawan itu. Bikin baper aja.

Ternyata kisah2 di FTV2 itu gak bakal ada kalo gak terinspirasi dari dunia nyata. Sudah kubilang, ini memang mirip drakor yang entahlaaahh...

“Yuk, dek. Kita turun. Papa sama mama pasti udah nungguin di bawah.”

Seseorang menyentuh toga di kepalaku, dan aku terhenyak. Ia tersenyum. Ahh, senyum yang selalu kurindukan.

Beriringan kami melalui koridor menuju lift. Dalam hati, aku membenak, aku memang suka kisah cinta macam yang ku-khayalkan tadi. Segala keributan yang berujung romantis. Tapi agaknya, aku tidak mau itu terjadi padaku, pada kami. Cukuplah itu menjadi khayalan yang hanya akan menjadi khayalan saja.

***

Jadi, setelah membaca blogpost ini, kira2 apa tanggapan kamu tentang khayalanku? Aku masih jadi pengkhayal nomor satu? :p

Selasa, 25 April 2017

MY JOURNEY – PANTAI CEMARA KEMBAR




Alhamdulillah, akhirnya si pecinta pantai kali ini bisa kembali menjamah pasir, menyentuh tepi pantai dengan segala pernak perniknya. Liburan kali ini aku berkesempatan kembali bercengkrama dengan anak-anak angin. Sekian lama gak mosting MY JOURNEY, finally ada rezeky buat jalan lagi. Ke pantai pulak. Alhamdulillah.. :D



Kalo kemaren jalan ke Pantai Mangrove dan Pantai Romantis, kali ini aku jalan ke Pantai Cemara Kembar. Pantai ini masih satu kawasan sama Pantai Romantis dan Pantai Mangrove. Masih sama-sama di Desa Sei Nagalawan. Mungkin dikasi nama berbeda karena berbeda pula pengelolanya. Kalo dari Medan, rute yang bakal di lewatin tuh kek gini Amplas – Tj. Morawa - Pakam – Perbaungan – Sei Nagalawan. Haha. Pasti pada heran kenapa aku bisa ngejelasin ini. Ini memang hal yang biasa banget buat kamu-kamu yang tau jalan. Tapi buat aku yang susah hafal jalan, dan kebiasaan kalo namanya numpang, ya anteng aja di boncengan. Gak peduli kanan kiri. Yang penting nyampek. Tapi kali ini, mungkin karena udah beberapa kali melewati jalan yang sama, dan rentangnya gak jauh2 amat, jadinya udah agak2 hafal gitu. Trus, karena udah agak2 hafal, jadi pede buat nanya sama pak supir rutenya. Buat memastikan kalo akhirnya aku tau jalan yang harus kulalui menuju pantai. Haha.

Jadi kalo kemaren2 ada yang nanya aku Pantai Romantis itu dimana, aku cuman bisa jawab, “di Perbaungan.” Kalo sekarang kan aku bisa bilang, letak Pantai Cemara Kembar itu di sini loh. Di Desa Sei Nagalawan. Tetanggaan sama Pantai Mangrove dan Pantai Romantis. Hahahaa






Eh, padahal kemaren rencananya kita mau ke Pantai Bali Lestari. Kirain satu kawasan, taunya beda. Bali Lestari ternyata satu aliran sama Pantai Cermin. Letaknya di Perbaungan. Lebih dekat sebenarnya kalo dari Medan. Tapi yaudahlah, pantai Cemara Kembar juga oke. Bisa main flying fox adek, bang! Hahahahaa

Untuk masuk ke Pantai Cemara Kembar, kita dikenakan retribusi sebesar Rp. 40.000,- per orang. Itu udah free satu botol sedang Le Minerale dan satu bungkus kecil wafer, free parkir, dan free gazebo. Tinggal pilih mau pake gazebo yang mana. Ada tawaran lain juga sebenarnya, sebelum masuk ke lokasi Pantai Cemara Kembar, ada pantai umum. Masuknya Rp. 15.000,- tapi itu cuman buat masuk aja. Gazebo-nya exclude. Jadi kalo dihitung-hitung sama aja kayaknya. Sewa gazebo pasti Rp.50.000an jugak.

Spot-spot di Cemara Kembar bagus-bagus. Mirip-mirip Pantai Romantis-lah. Dinamakan Cemara Kembar karena ada dua pohon cemara besar yang berdekatan. Pohon cemara disini besar-besar memang. Dan karena pohon-pohonnya besar, jadi memungkinkan buat area flying fox. Nah, ini istimewanya. Main flying fox sudah include ke dalam retribusi awal yang kita bayar tadi. Jadi mau gak mau main, ya tetep kudu dibayar.

Nyampek pantai, begitu menjejak di pasirnya yang putih bersih, senyumku merekah. Aku rindu banget. Kita langsung nyari posisi uenak. Jadilah kita istirahat setelah perjalanan jauh di gazebo sambil rebahan. Di gazebo sebelah kita, ada keluarga besar yang bawa anak-anak kecil banyak. Itu masih tengah hari dan mereka udah pada nyebur. Bentar naik, buat makan, terus turun lagi. Sekali lagi kubilang, itu saat matahari tepat di atas kepala. Panasnya poooll. Tapi mereka tetap enjoy. Jadi teringat pas masih kecil dulu. :D

Pantai Cemara Kembar ini juga difasilitasi musholla yang alhamdulillah dibangun di tempat yang strategis. Mudah dijangkau. Musholla-nya gak gede-gede banget, tapi cukup baik untuk dipakai ibadah.

Restoran di pantai ini cuman satu. Jadi kalo mau pesan makanan emang harus agak sabar. Kemaren kita makan cumi asam manis, es kelapa, sama cah kangkung. Harganya ya harga tempat wisata lah. Gak murah memang, tapi juga gak mahal2 banget. Masakannya enak. Tapi mungkin karena banyak antrian, jadi buru-buru masaknya. Jadi ngunyah cumi-nya agak pake tenaga. :v

Sepanjang hari kita nikmatin suasana pantai banget. Gak sibuk nyari spot foto kayak sebelum-sebelumnya. Kalo kemaren di Pantai Romantis, malah gak

ada duduk-duduk santainya. Sibuk jalan sana sini buat foto. Mungkin karena ini sudah kali ke sekian kita ke pantai kali ya. Jadi kita lebih menikmati suasananya. Kita lebih tertarik main pasir, main air, nonton orang-orang main banana boat, sama duduk leha-leha di gazebo. Dan satu lagi, ngeliatin orang main flying fox sebelum akhirnya nyobain sendiri. Asli, Seru!

Jadi ceritanya kemaren itu adalah kali pertama aku nyobain main flying fox. Itu juga awalnya ngeri. Tapi karena banyak adek2 kecik yang nyobain dan mereka ketagihan, aku jadi kepo dan yeah, aku mencoba dan aku suka. Seru! :D

Well, dari sekian banyak pantai yang kita kunjungi, semuanya punya pesonanya masing-masing. Punya kelebihan masing-masing dan semuanya bikin aku jatuh cinta.

Emang sih kalo ada aja yang punya sunset, pasti aku bakal rajin datang. Coba aja airnya biru jernih, pasti aku kesana bawa baju ganti. Tapi yaudalah, udah paten itu kok. Haha.

Semoga ada rezeky untuk mengunjungi pantai yang ada sunset dan airnya biru. Aamiin.

Sabtu, 15 April 2017

DILAN DAN AIR MATAKU


Pernah baca buku Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990? Atau Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1991? Atau Milea, Suara Dari Dilan?

Aku nggak tau buku ini populer atau nggak. Pertama kali aku tertarik baca karena ada beberapa postingan di instagram yang captionnya tentang sebaris kalimat, “Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. – Dilan”

Sudah sekian lama aku gak berkutat dengan novel lagi. Entah, mungkin karena sudah lelah dengan aktivitas di sekolah atau lebih tertarik membaca stories di sosmed. Atau bisa juga lebih tertarik ngobrol pake jempol. Pokoknya udah jarang banget baca novel, dan berujung pada : gak pernah lagi nulis cerpen. Kalo nulis blogpost ya seadanya aja gini. Gak pernah romantis lagi seromantis cerpen2 aku yang sudah2.

Tapi aku bukan mau bahas itu. Aku mau cerita tentang novel yang baru kutuntaskan tadi malam. Novel romantik remaja yang ditulis Pidi Baiq untuk mengenang perjalanan cinta Dilan dan Milea semasa SMA. Dalam hal ini aku bukan mau bikin resensi. Aku Cuma mau cerita.

Ini kisah masa lalu yang mau nggak mau buat aku teringat ke masa lalu juga. Dilan dan Milea bisa serta merta ngebuat aku ngayal mereka ada di dunia nyata. Entah gimana, Pidi Baiq dengan gaya nulisnya yang banyak banget kata “yaitu” nya itu berhasil bikin aku merasa masuk ke cerita. Aku bisa ngerasain suasana waktu Dilan, Milea dan kawan2 lagi nongkrong di warung Bi Eem. Aku bisa merasakan suasana Bandung zaman dulu dengan asrinya, dinginnya, jalan raya yang sepi. Aku bisa ngerasain suasana hati Milea yang bahagia di boncengan Dilan. Aku bisa merasakan setiap senti kerinduan Dilan pada Milea meski mereka baru saja bertemu. Dan pada akhirnya aku bener2 nangis karena bisa merasakan hampanya hari2 Dilan setelah mereka putus.

Ini kisah anak muda memang. Isinya tentang pasangan muda mudi yang jatuh cinta. Tentang dilema yang harus Dilan hadapi, antara Milea atau geng motornya. Tentang apa yang harus Dilan utamakan, cinta atau persahabatan.

Novel ini berhasil bikin aku senyum, sesekali nyengir, dan di beberapa bagian menangis.

Aku bukan tipikal orang yang terlalu perasa sebenarnya. Hanya saja ada beberapa kejadian akhir2 ini yang membuat sisi melankolisku mendadak muncul. Kupikir, saat suasana hatiku sedang baik2 saja, mungkin aku gak bakal nangis membaca ending cerita yang ditulis Baiq. Bayangkan, hanya dengan kalimat Dilan, “Semoga kita kuat ya, Lia.” Air mataku bercucuran. Entah. Bayangan masa lalu memang kerap membuat kita jadi seperti bukan diri kita.

Yang terbayang di kepalaku bukan melulu tentang masa lalu sebenarnya. Kalau boleh jujur, justru yang teringat dibenakku tentang masa lalu, hanya yang indah2 saja. Tentang cinta pertama yang gak pernah kesampean, tapi aku bahagia. Kurasa aku perlu sedikit cerita. Supaya nanti suatu ketika, aku punya bahan jikalah ada orang macam Baiq yang nyasar ke rumahku dan ingin tau kisah cintaku. :v

Masa putih abu2ku kuhabiskan dengan aktif di ekstra kurikuler sekolah, marching band. Namanya Bimanda. Bergelut di organisasi itu dari kelas X sampai XII ngebuat aku berjarak dengan teman2 sekelas. Aku lebih dekat dengan teman2 di Bimanda. Hari2ku habis di sekretariat Bimanda. Apa ini hanya karena aku memang menyukai dunia musik? Tentu saja bukan. Aku ke sekret hanya karena ingin melihat seseorang.

Demi kebaikan bersama, nama2 mereka yang terlibat di cerita ini kusamarkan saja ya. Hehe.

Di organisasi itu, seorang player (bukan karena dia playboy! Tapi di dunia marching band, pemain memang disebut player.) yang meniup trumpet telah mencuri perhatianku. Dia memang punya posisi bagus. Di beberapa display kami, ada part yang dia bermain solo. Itu mengagumkan memang. Aku yakin sekali banyak junior yang jatuh cinta padanya. Hanya saja, sayang sekali, dia sudah punya pacar saat itu. Dan pacarnya adalah seniorku di CG (Colour Guard). Hahaha. Lucu memang.

Paling nggak, akhirnya masa itu aku sudah tau rasanya gimana jadi seorang secret admirer. Wkwkwk. aku gak pernah pacaran dengan dia, tapi aku bahagia karena di hari2ku selalu ada dia. Nah loh. Enakan jadi gue kayaknya daripada pacarnya sendiri yang konon katanya lebih sering berantem daripada baikan. :v

Jadi kalo ini yang ada di masa SMA, kenapa aku bisa nangis ngebaca kisah Dilan dan Milea?

Aku terharu dengan keteguhan hati Dilan untuk tetap bersikap baik ke Milea, dan Milea yang juga bersikap baik ke Dilan setelah mereka berpisah dan gak ketemu beberapa lama.

Itu gak gampang. Paling nggak itu gak gampang kalo seperti yang pernah aku alami. Lost contact adalah pilihan paling bijak untuk menghadapi masa demikian. Masih enakan zaman Dilan dan Milea. Saat itu belum ada sosmed. Kalo mau komunikasian Cuma telepon rumah doang. Itu tuh masih enak tauk. Lah sekarang, kalo bener2 mau lost contact harus ngeblok segala sesuatu yang berkaitan dengan yang bersangkutan. Wiiihh. -_-“

Dan kemudian imajinasiku bermain kemasa dimana saat aku putus aku masih harus sering ketemu. Gimana aku bisa berjuang menyelesaikan hari saat aku harus benar2 kembali menikmati hidup pasca pisah. Gimana aku harus bisa bangkit dari segala keterpurukan yang pasti akan menghampiri jika itu terjadi. Ahh, untungnya itu hanya di imajinasi. Untungnya aku gak pacaran. Jadi aku gak bakal putus. Untungnya aku gak pernah memiliki, jadi aku gak bakal kehilangan. Ahh, alhamdulillah.

Membayangkan Dilan dan Milea dengan perpisahan mereka, dengan air mataku yang terus tumpah, aku teringat sebaris doa yang pernah ditulis Bang Zakaria, teman lamaku di S1, yang kemudian kubaca ulang sebelum aku tertidur karena kelelahan menangis.

“Jika dia memang adalah yang engkau pilihkan untukku, ya Rabb, mohon satukan kami dalam ridhoMu. Namun jika tidak, maka pisahkan kami dengan cara yang baik.”

Malam itu hujan deras. Tapi yang membasahi pipiku bukan tempias hujan, melainkan air mataku yang dibuat luruh oleh Dilan.[]

Rabu, 29 Maret 2017

DEAR ME ; ANAK KEMAREN SORE, YANG MASIH IJO, DAN TAK TAHU APA-APA



Alhamdulillahirabbilalamiin.

Finally setelah sekian banyak kesibukan, mulai dari seminar hasil, sidang tertutup, mengawas ujian mid semester, USBN, ngoreksi, dan menyelesaikan raport, aku bisa kembali buka laptop buat relaksasi. Kemaren2 kalo buka laptop yang dibuka Mc. Excel dan Power Point mulu soalnya. Akhirnya hari ini bisa buka word. Bisa curhat dengan segala pernak pernik keidupan yang warna warni, pait, asem, manise pooolll. Hahahhaa. Wanna see? Lets join me!

Belakangan ini ada beberapa hal yang menyadarkan aku kalo aku ini adalah newbie banget. Im so sooo newbie. Ternyata selama ini aku terjebak di kubangan “sok tau” dan “sok oke” yang parah banget. Sampai mungkin kesombongan merasuki hatiku. Naudzubillah.

Blogpost ini kutulis sebenarnya selain untuk media relaksasi juga sebagai media introspeksi diri. Utamanya karena baru-baru ini aku mendapat tamparan keras oleh kalimat, “helloo... lo tau apa? Anak kemaren sore, masih ijo.”

Deg!

Seketika aku tersadar. Ya, aku memang anak kemarin sore. Aku memang masih ijo dan gak tau apa2. Gak tau apa2 dan bego itu emang gak jauh beda. And thats me. T_T

Sejauh ini, aku mengajar memang masih baru banget. Usiaku masih muda banget kalo dibandingin dengan mereka, rekan kerja yang rata2 sudah punya sertifikat guru profesional. Dari segi ilmu, pengalaman, cara menyikapi masalah, dan sebagainya jelas mereka tak diragukan lagi. Kalo dibandingin sama aku sih gak ada apa2nya. Tapi dengan ke-tidak ada apa2nya- ini, aku kok bisa jadi bertingkah sok oke ya?
 
Aku gak tau ini sebentuk tamparan atau jitakan atau tonjokan. Yang pasti ini nyakitin.

Tapi meski demikian, ada beberapa hal yang aku pelajari dan hikmah yang aku ambil dari tamparan keras itu walaupun sebenarnya aku tersinggung gak ketulungan.

Pertama, aku jadi sadar dengan sesadar2nya orang sadar kalo aku memang adalah seorang newbie yang kudu bersikap dan bertingkah layaknya seorang newbie.



Kedua, aku jadi paham, bahwa seorang newbie tidak pantas berkomentar banyak atas situasi apapun yang melibatkan para senior meskipun memang ada aku di dalamnya.

Ketiga, diam adalah mutiara. Di beberapa kondisi, aku pernah tak sepakat dengan kalimat “diam adalah emas” karena selagi kita bisa bicara yang baik, maka bicara lah. Yang benar itu memang hadist “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Namun di kasus-ku kemaren, aku berpendapat bahwa diam adalah mutiara. Porsiku sebagai anak kemaren sore masih terlalu sedikit untuk bisa bersuara, meski aku saat itu aku merasa diriku benar.

Keempat, suatu kesalahan jika sudah didukung banyak orang akan menjadi kebenaran. Dan kebenaran yang tidak punya pendukung akan tetap menjadi benar tapi tidak “dibenarkan.” Kadang, kita merasa aman hanya karena banyak teman2 kita yang melakukan hal yang sama. Kita sadar betul kita salah, tapi karena kita berada di antara orang ramai yang tidak mempermasalahkan hal tersebut, kita santai. Kenapa tidak dipermasalahkan? Karena kita sama2 keliru. Sementara pihak yang benar, akan diasingkan karena dia berjalan sendirian. Semakin kemari, semakin tebal kabut yang memisahkan mana yang benar dan mana yang salah.

Kelima, tanyakan sesuatu kepada yang memiliki kapasitas untuk menjawab. Dan jawablah pertanyaan hanya jika kita merasa memiliki kapasitas untuk menjawab. Ini sering digaungkan kepala sekolah kami, dan itu benar. Jika selama ini aku hanya mengiyakan dalam diam, kali ini karena sudah kejadian jelas di depan mata, aku benar2 mengangguk setuju.

Keenam, semakin banyak kepala, semakin banyak pula pemikiran. Semakin banyak orang pintar, semakin banyak pula yang merasa dirinya benar. Miss communication dan miss understanding akan menjadi hal yang biasa dan akan menjadi sesuatu yang lumrah. Dalam suatu instansi pasti akan ada konflik2 kecil, itu biasa. Hanya, bagaimana kita menyikapi konflik tersebut agar tidak membesar dan melebar.


Ketujuh, kita secara pribadi adalah seseorang yang ingin dibela. Bahkan dalam situasi bersalah sekalipun. Dan biasanya, kita akan menuntut orang yang dekat dengan kita, teman2 baik kita, untuk ada di pihak kita. Rasa kecewa yang tadinya hanya sekelumit, hanya seujung kuku, bisa jadi kekecewaan seutuhnya. Kita jadi merasa sendirian. Kita merasa tak punya teman. Meski akhirnya teman2 kita datang menghampiri untuk menepuk2 bahu kita, menguatkan, kita akan menganggap dia pengkhianat. Ya, harusnya dia ada disebelah kita, mendukung dan membela. Bukannya malah ikut memojokkan. Dalam hal ini, aku mengambil pelajaran, tepikan ego meski kita merasa benar, demi menghargai orang yang kita anggap teman.

Kedelapan, pertengkaran dan ribut2 kecil, sampai perang besar itu bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Saat kedua belah pihak sedang dalam ego tertinggi, tak akan ada yang bisa menyelesaikan. Jadi, jangan larut dalam ego. Salah satunya harus mendinginkan suasana, harus ada yang mengalah. Harus ada cara agar pertengkaran itu tidak terus berlanjut, dan suasana kembali membaik. Butuh proses memang, tapi proses itu harus segera dimulai. Hadapi, dan selesaikan.

Kesembilan, tidak semua yang kejadian akan berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Jadi tempa diri untuk kokoh di atas pijakan sendiri. Kita akan menghadapi tamparan, jitakan, dan tonjokan lagi. Entah dengan sikap atau dengan lisan. Jadi kuatkan hati, kuatkan diri. Bersabarlah, ini ujian.


Kesepuluh, ini yang terakhir. Sebagai anak kemarin sore, yang masih ijo dan memang gak tau apa2, maka jangan pernah tersinggung dengan perkataan “helloo... lo tau apa? Anak kemaren sore, masih ijo.” Karena itu memang kenyataannya.

So, selamat kepada hatiku. Aku bangga padamu.

Terima kasih atas segala tamparan, jitakan, dan tonjokan. Kalau tidak begini, aku tidak akan sadar siapa diriku. Terima kasih. Pelajaran berharga ini takkan kulupa sepanjang hidupku.