Rabu, 11 April 2018

MY LIFE JOURNEY – CINTA DALAM BERKAH


Ada banyak hal dalam hidup yang tidak pernah kita duga. Banyak kejutan2 yg dihadiahkan Tuhan untuk hambaNya yang bersabar. Salah satunya adalah pasangan. Aku pernah berangan2 dulu, waktu masih kuliah S1, target menikah di usia 25 tahun, dengan syarat di usia itu aku sudah selesai S2. Entah bagaimana aku bisa berangan2 demikian. Padahal ayah dan ibuku tidak melanjutkan studi mereka ke jenjang pasca sarjana. Mungkin waktu itu aku kebanyakan nonton film. (Atau iklan)

Berbekal keinginan itu, setelah menyelesaikan studi strata satu, aku kemudian kerja. Cari duit. Karena jujur aja, kemaren aku gak tega kalo langsung minta lanjut studi ke orang tua. Jelang wisuda banyak banget pengeluaran. Jadi aku memilih untuk memendam sejenak mimpiku. Berusaha buat ngumpulin uang buat administrasi pendaftaran pasca sarjana. Gajiku gak gede. Malah terhitung kecil. Tapi Allah maha kuasa. Segalanya mungkin bagiNya. Ada saja rezeky dari arah yang tidak disangka2.

Setelah dua tahun memendam, aku kemudian mulai mewujudkan mimpi itu. Daftar S2, dan dengan lika liku hidup (bahasa gueee.. -__-) akhirnya studiku selesai dalam waktu dua setengah tahun. Haha. Iya.. telat satu semester. Gak usah tanya kenapa, fokus blogpostnya  gak kesitu soalnya. Wkwkwk.
Jadi finally, aku wisuda S2 di usia 26 tahun. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Ternyata perjalanan tidak selesai begitu saja setelah aku wisuda. Mimpi2 baru berdatangan minta diwujudkan. Salah satunya adalah menikah.

Saat itu, aku dekat dengan seseorang. Bahkan sangat dekat. Tapi hanya sekedar dekat. Kami tidak punya komitmen apapun. Tidak punya rencana masa depan apapun. Kami hanya menikmati kebersamaan, mengisi kekosongan hati dengan saling melengkapi. Mungkin segelintir orang menganggap apa yang kami lakukan salah. Kadang2 kami juga berfikir demikian. Kami yang tidak punya kejelasan apapun ini hanya akan menutup celah orang lain yang ingin masuk mengisi hidup kami. Entah sadar atau tidak, tapi kami tak bisa menafikan kalau kami saling membutuhkan. Aku menyebutnya ‘sahabat.’

Sampai suatu ketika, seseorang yang lain datang ke hidupku. Memintaku untuk menjadi bagian dari masa depannya. Saat itu, aku tidak berpikir banyak masalah perasaan. Aku hanya beranggapan, jika seseorang memintaku secara terhormat kepada kedua orang tuaku untuk dijadikannya istri, dan aku tau orang itu baik, maka tidak ada yang harus kulakukan selain menerimanya.

Disaat yang sama, ada orang lain pula yang datang ke hidup sahabatku itu. Mencoba membuatnya melupakan aku yang telah menerima orang lain. Menghibur dan meyakinkannya bahwa ia bisa menjadi yang lebih baik daripada aku.

Entah bagaimana, skenario hidup mempermainkan kami sampai aku terpisah dengan lelaki yang tadinya ingin meminangku, dan sahabatku terpisah dari seseorang yang pernah mati2an berusaha mendapatkan perhatiannya. Terlalu rumit. Complicated. Padahal kami sudah pernah berbincang umpama ‘farewell ceremony.’ Kami sudah sama2 saling meyakinkan bahwa pilihan kami benar. Apapun yang sudah kami pilih, maka harus kami lanjutkan dan selesaikan sebagaimana mestinya. Kami sudah siap untuk tidak lagi menghabiskan waktu bersama.

Tapi, itulah Allah.

TakdirNya membawa kami kembali saling berhadapan.

Semesta berkonspirasi untuk menyatukan kami kembali.

Dengan drama kehidupan yang kami yakini akan berujung indah jika Allah berkehendak, maka kami mulai bermunajat. Memohon dan merengek kepada Ilahi Robby agar kami adalah pasangan yang tidak hanya ditakdirkan untuk sekedar bersahabat.

Ternyata tidak mudah untuk mewujudkan mimpi ‘menikah.’ Dulu, kalau mendengar story yang agak lebay dibalik sebuah pernikahan, aku suka menaikkan alis sebelah dan berkomentar, “sooo dramac.” Tapi setelah menghadapi ini semua, komentarku jadi, “ohh yaa.. this is life. This is what they call strugle.” Ini berat, kawan! Gak cukup kalo cuman berusaha dan berdoa. Kita harus berusaha menerjang limit yang kita ciptakan sendiri. Dan sajadah harus terus basah dengan munajat yang indah. Terus merayu Allah, terus membujuk Allah, terus dekati Allah.

Tapi Allah tidak serta merta mengijabah doa kami seketika. Kami diajari untuk bersabar terlebih dahulu, untuk istiqomah, untuk tetap berhusnudzon, dan untuk yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Memberikan jalan keluar atas kegelisahan hati kami. Jikalah pun kami bukan yang Allah takdirkan, pasti Allah akan berikan ganti yang lebih baik.

Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Pertengahan Maret 2018, satu per satu doa kami diijabah. Aku dilamar oleh orang yang kuinginkan (sahabat tersayang :*). Dua minggu mempersiapkan segala sesuatunya, yang antara lain adalah belanja barang2 hantaran, nyari tempat desain kotak hantaran, nyari baju buat lamaran, nyari fotografer, nyari tukang make up, mikirin siapa saja yang akan berhadir, mikirin hidangan apa yang perlu dipersiapan, mikirin tanggal berapa ntar nikahnya, dan seterusnya, dan seterusnya lagi. Mendadak, Maret menjadi bulan yang sibuk. Sangat sibuk. 
Kalo teringat itu.. ya Allah.. rasanyaaa... -_-

Syukur Alhamdulillah, Allah selalu kasi kemudahan dalam setiap kesulitan. Pelan2 semua terselesaikan.

25 Maret 2018, tak putus kuucap alhamdulillah. Ketika jari manisku disematkan cincin oleh tangan seorang ibu yang kelak juga akan menjadi ibuku, aku resmi dipinang seseorang yang kuinginkan. Ya Rahmaan ya Rahiim, sungguh tiada nikmat yang pantas untuk kudustakan. Alhamdulillah.

Cinta dalam berkah. Semoga ini awal yang baik dari niat kami untuk menggenapkan separuh agama. Mohon doakan kami agar kami mampu mempersiapkan pernikahan dan walimatul ‘ursy kami dengan baik, ya. Semoga doa yang sama juga berbalik kepada teman2 sekalian yang akan menikah juga. J












Dear lelaki berkacamata, berkulit hitam manis, dan berjambul ... Iloveyou..

Selasa, 20 Februari 2018

RESENSI DILAN 1990



Ini emang bisa dibilang telat banget. Iya. Kayaknya semuanya udah pada nonton yak. Wkwkwkw. Lah gue yang baru nonton ngapain repot2 ngeresensi? Karena one day ini mungkin perlu. Sebagai ingatan kalo aku pernah nonton film cinta2an ala anak esema yang yaaaahhh gitu deh. Dan... mengingatkan kalo mungkin bentar lagi hastag IG-ku berubah jadi #travellermall  Hiks.. T_T

Jadi ini film diangkat dari novel yang ditulis apik oleh Pidi Baiq. Aku udah baca novel sekuelnya, judulnya “Milea. Dia Adalah Dilanku Tahun 1991.” Kalo di alur novel itu sudut pandangnya Dilan. Jadi Dilan yang bercerita. Tapi di film Dilan 1990, sudut pandangnya adalah Milea. Mereka menceritakan kisah yang sama, hanya dengan sudut pandang yang berbeda.

Ini cerita anak remaja banget, gaes. Diawali dari perkenalan Dilan dan Milea di jalan. Dengan gombalan ramal2an. “Kamu Milea ya? Aku ramal, kita bakal ketemu di kantin.”

Sepanjang film berjalan, kita kayak dibawa ke zaman esema dulu. Dilan ini idolanya ciwi2 remaja banget. Tipe bad boy, tapi sangat menghormati pacarnya. Suka melakukan hal2 konyol yang aneh, kadang2 norak, tapi ajaibnya bisa bikin semua cewek pengen jadi Milea. :v

Ceritanya di tahun 1990an itu belum marak smartphone. Jadi Dilan dan Milea komunikasian via telepon rumah. Dilan malah pake telepon umum. *Jadi teringat pas esde main telepon umum buat ngerjain orang. Alangkah jahilnya masa esde gue* Dari film ini secara gak sadar gue menangkap pesan betapa pentingnya kita mengucapkan selamat tidur. *loh kok?*

Akhirnya obrolan2 ringan mereka bikin hati Milea mulai me-merah jambu.

“Kamu jangan rindu ya. Berat. Biar aku aja.”

*Dan serta merta mulut gue bersorak, “uuuuu.... so sweeeeettt..”*

Jangankan Milea, gengs. Kita aja kesengsem. Wkwkwkwkw. Cowok idaman anak esema syekaleee...
Satu lagi part yang bikin aku terpelongo adalah pas Dilan ngasi hadiah buku TTS yang udah diisi semuanya untuk ulang tahun Milea. TTS, loh! Saat Nandan, temen sekelas Milea yang juga naksir Milea ngasi boneka beruang gede, Dilan ngasi TTS! Udah diisi semua pula. Kenapa udah diisi? “Aku sayang kamu. Aku gak mau kamu pusing karena mikirin jawabannya.” Amboooiii... Wkwkwkwk.

Pokoknya Dilan ini menggambarkan sosok cowok yang bakal jadi rebutan ciwi2 remaja deh. Aslik!

Tapi seiring berjalannya film, jidatku mulai mengerut pas nyampe di part mereka lagi apel pagi, terus si Dilan-nya pindah barisan ke sebelah Milea dan ketauan sama Pak Suripto. Eh, Suripto apa Suprapto ya? Ntahlah.. itulah dia pokoknya. Jadi pas ketauan pindah barisan Pak Suripto negur Dilan tapi Dilan-nya ngelawan. Pake ada adegan berantem antara Dilan dan Pak Suripto segala. -_-

Dan yang semakin bikin makjleb adalah pas Milea ditabok Anhar. Trus Dilan marah dan berkelahi sama Anhar. Terus dibawa ke ruang kepala sekolah, dan diproses. Itu kok bisa gitu ya Milea-nya ngekor terus? Pas diproses abis brantem sama Pak Suripto ada Milea, pas brantem sama Anhar, ada Milea.

Terus, pas ditegur sama Kepala Sekolahnya, masak iya Dilan ngomong, “Kalo Milea keluar, saya keluar.” Ini anak petentengan banget, ya Alloh.. -_-

Dilan memang diceritakan adalah panglima perang sebuah geng motor. Anak yang bukan masuk kategori anak baik. Malah kalo bisa dibilang kayak anak bandel. Tapi jadi aneh aja ketika anak tipe demikian bisa begitu hormatnya, begitu nurutnya sama pacar. Soooo dramak!



***

Waktu nonton film ini, aku gak bisa mengingkari kalo hampir di semua scene yang ada Dilan dan Milea, senyumku banyak terkembang. Kadang2 malah cekikikan. Sesekali bersorak kegirangan. Geer2 sendiri. Wkwkwkwk. Ini film romantis ala remaja banget. Ceritanya abege banget walopun settingnya Bandung tahun 1990. *Dimana gue aja masih di dalem perut emak gue*

Terus Dilan juga digambarkan sebagai cowok baik yang gak mau ngeganggu hubungan orang. Ini dibuktikan pas ada rumor kalo Milea udah jadian sama Nandan. Dilan langsung menjauh, tanpa merasa perlu mengucapkan selamat tinggal. Ini tuh patut diacungi jempol. Beda banget sama Milea yang mau aja dideketin Dilan, dan malah sampai terjerumus dalam kekaguman, padahal dia mah udah punya pacar di Jakarta. Duh, jadi cewek baik dikit lah. Jangan gak tegas bilang klo udah punya pacar Cuma karena takut kehilangan fans. *Curhat buk?* padahal mah klo Dilan tau Milea punya pacar di Jakarta, dia mungkin gak bakal ngedeketin Milea juga. *Masih sensi aja. wkwkwkwk.*

Tapi ada beberapa bagian yang ngebikin aku agak sedikit kecewa sebagai penonton yang juga adalah seorang guru.

Dilan ini sosok idola. Sikapnya yang menghormati perempuan patut diacungi jempol. Tapi perlakuannya terhadap guru, dengan melawan dan malah berantem sama Pak Suripto itu sangat tidak layak. Terlepas dari alasannya melawan, terlepas dari maksud dia melawan. Sudah terlalu banyak cerita konflik antara guru dan murid di negeri ini. Akan sangat disayangkan jika tokoh Dilan ini menjadi alasan seseorang membantah atau melawan gurunya.

Kemudian sikap Dilan yang sok pahlawan saat membela Milea. Wajar sih. namanya juga ngebelain pacar. Yang bikin bagian ini jadi “what the hell” adalah kenapa waktu Dilan diproses di ruang kepala sekolah selalu ada Milea di dekatnya. Eh pas ditegur sama kepala sekolah-nya, si Dilan malah ngebantah lagi. Aduhaiii.. hilang sudah pesona keromantisan-mu dimata akak, dek. -_-

Habisnya gimana... Kekhawatiran akan sikap anak2 yang meniru tokoh ini semakin menjadi2 begitu menyadari banyak banget penontonnya dari kalangan pelajar. Nurut banget apa kata pacar tapi lupa gimana cara menghormati guru. *Anak macam apa kamooohh?!*

Anyway, film yang berdurasi sekitar dua jam itu tetiba sudah sampai di endingnya. Kita pandang2an. “Segini aja?”

Diiringi lagu “saat kita masih remaja .... usia anak esema ....” kita jalan keluar dari gedung bioskop sambil ketawa2.

“Kok gini aja ya?”

“Iya ya, kok gak ada klimaksnya?”

“Hahahahha. Macam sinetron jadinya.”

“Kok nonton ini kita tadi ya?”

Masih sambil ketawa2, kita berjalan beriringan ke arah eskalator, menuju gerai makanan di lantai bawah. Dalam perjalanan yang singkat itu, aku membandingkan “Dilan-ku” dan Dilan-nya Milea. Sejauh aku bisa mengingat, “Dilan-ku” ternyata adalah sosok cowok yang lebih pantas diidolakan. Hehe. Lebih logika, masuk akal, lebih romantis, dan yang paling penting punya program untuk masa depan. *eheemm* Jadi kuputuskan, aku tak tertarik untuk jadi Milea. :p

Well, pada nonton Dilan gih. Biar tau rasanya digombalin tapi gak dinikahin.

Senin, 05 Februari 2018

BALADA MAHASISWA *SI KRIBO*


Ini bukan sekuel dari Balada Mahasiswa Semester Tua dan Balada Mahasiswa Semester Tua Part II. Soalnya ini blog bukan buat drama sinetron yang gak habis2 sampek ribuan episode. Karena adek mah nyadar, bang, pembaca blog adek ini gak se-rame penonton sinetron yang rame di tipi itu. #nunduksedih

Dari sekian banyak blogpost yang pernah kutulis, baru kusadari sekarang kalo aku gak pernah nulis tentang keluargaku. Jadi biarkan kali ini aku bercerita tentang adik bungsuku, yang belum lama ini bikin geger di rumah. Perkara SPO. SPO? Iya, SPO yang itu yang kumaksud.

Lelaki yang hadir ke dunia 22 tahun yang lalu itu adalah si bungsu di keluarga ini. Usia dua dua itu bukan usia yang bisa dibilang kecil lagi ya. Udah dewasa. Udah akil baligh. Tapi dia masih dipanggil dengan panggilan unyu anak balita, “Abang Ganteng.” Siapa pencetusnya? Ya emak kite. Jadi karena mamak masih manggil dia dengan sebutan begitu sampek dia udah segede gini, jadi daku terkontaminasi juga. Jadilah dia abang ganteng di rumah ini, mengalahkan pamor si tengah. *Lu mau dipanggil “abang ganteng” ? paksa nyokap lu ngejadiin lu anak bungsu. Wkwkwkwkwk.*

Di rumah ini, kita cuman bertiga. Emak babe kita datang beberapa kali aja dalam seminggu. Jadi mungkin karena sepi, bertiga doang, walhasil tiap kali keluar kamar, pasti nyariin satu sama lain. Walapun lagi gak perlu apa2.

Kita emang banyak menghabiskan waktu di kamar masing2. Mungkin karena udah lelah kerja dan beraktivitas seharian diluar, sekalinya di rumah langsung kangen banget sama kasur. Jadi pas keluar kamar, yang di cek kreta dulu. Kreta siapa nih yang lagi di rumah, berarti orangnya di rumah.
Btw, sekalipun kita manggil dia “Abang Ganteng”, bukan berarti kita menganggap dia udah cukup gede, udah abang2. Tidak sama sekali. Kita masih menganggap dia adalah si bungsu yang kecil. Ke-cil. Padahal udah mahasiswa semester akhir.

Gak tau kenapa, kayaknya efek dia anak bungsu, jadi semuanya serba ngerasa kalo dia itu harus banyak di rumah. Harus sering terlihat di rumah. Belum nyampek rumah pas maghrib aja mamak udah meriah nanyak2, “kok belum pulang lah abang ganteng ini ya?” “Kemana dia?” “Coba telpon-kan dulu.”

Baru habis maghrib, gaes.

Menjelang jam 10 malam, gantian aku yang meriah.

Ya, kami meriah dibikin si bungsu, yang usianya udah 22 tahun. Dan dia itu laki-laki. -__-

Jadi aku pernah bilang ke dia, “kau kok keluar2 aja? di rumah kek kalo lagi gak kuliah.”

Dan tau gak dia jawab apa? “Dunia itu seluas tapak kaki, kak. Kalo aku di rumah aja, berarti dunia-ku kecil kali lah.”

-___-

Oia, semenjak dia ambil jurusan tekhnik, dia merubah penampilannya jadi agak nyentrik. Di keluarga ini gak pernah punya riwayat memiliki anggota laki-laki yang berambut gondrong. Dia memilih pilihan itu. Dia memanjangkan rambutnya yang ikal cenderung keriting, persis ribu. Bolak balik disuruh pangkas sama emak babe, sama ribu, sama aku, sama si tengah, tak pernah digubris samsek.
Akhirnya rambut yang cenderung keriting tadi memanjang. Karena teksturnya ikal besar2, jadinya itu rambut bukan lagi terlihat ikal, tapi cenderung kribo. Dan semenjak itu pula, dia punya julukan baru dariku, si Kribo.

Di kampus, si Kribo aktif di organisasi “per-tekhnik-an.” Kayaknya di organisasinya itulah dia mendapatkan ilham untuk manjangin rambut. Dan kebetulan dia dipercaya menjadi salah satu jajaran pimpinan. Pernah waktu ada keperluan ke kampusnya, aku ngeliat teman2nya manggil dia “Jend”. Usut punya usut ternyata dia Sekjend di organisasinya itu.

Dan kemaren, rumah diketuk oleh orang yang mengaku dari kampus tempat si kribo kuliah. Blio datang mengantarkan surat SPO. Jeng.. jeng.. jeng..!!!
***

Kribo aktif di organisasi intra kampus, masih dibawah naungan HMJ juga kalo gak salah. Kemaren salah seorang anggotanya bermasalah, dan harus di skors selama 4 semester alias dua tahun. Dan entah gimana sekret mereka di segel. Masalahnya panjang, rumit, ruwet, dan rempong. Jadi di skip aja ya. -,-

Jadi si Kribo dan teman2 yang lain menunjukkan rasa setia kawan dan penolakan dengan berusaha menyampaikan aksi protes atas hal itu. Caranya dengan menggelar aksi. Masalah ini ada di fakultas tekhnik, tapi turut didukung kawan2 mereka dari berbagai organisasi intra. Dan dalam aksi itu, ada beberapa orang yang dikenakan sanksi. Mungkin karena mereka terlalu vokal, atau karena anarkis, entahlah. Yang jelas dari fakultas tekhnik, si Kribo dan tujuh orang teman lainnya diberikan peringatan dan berujung pada skor 1 semester. Di-skor satu semester, pemirsaaahh. Dan kami satu rumah gak ada yang tau kalo kemaren orang biro gak ngetuk pintu rumah untuk menyampaikan undangan SPO.

Jadi ceritanya undangan itu ditujukan untuk menyetujui surat perjanjian bahwa mahasiswa bersangkutan tidak akan mengulangi perbuatan yang sama. Surat perjanjian tersebut akan menjadi persyaratan untuk memperoleh surat pengaktifan kembali mahasiswa (selama skor kemaren mereka di-non-aktifkan). Orang tua diundang mungkin (menurutku sih) untuk menggertak mental2 dara muda yang kata haji roma berapi2 itu.

Karena sepanjang aku kuliah, S1 dan S2, baru ini kudengar orang tua mahasiswa diberikan undangan untuk membicarakan anak mereka. Kalo siswa mah, udah biasa ya. (soalnya daku juga sering manggil wali murid kalo anaknya bermasalah di sekolah) lah ini mahasiswa, geng!

Undangan itu akhirnya aku yang hadiri. Bukan karena mamak gak sempat, tapi karena aku aja yang kepingin. Aku pengen tau aja gimana si Kribo di kampus.

Jadi sodara2, datanglah daku bersama si Kribo ke ruangan rapat tersebut. Kita diundang ke ruang rapat rektorat. Bersama tujuh orang mahasiswa, tujuh orang wali dari masing2 mahasiswa tersebut, dosen2 tekhnik, dekan, dan jajarannya.

Yang ngebikin aku sedikit “agak gimanaaa” gitu adalah ketika pas Dekan-nya ngomong, dia bilang, “di pertemuan ini kita tidak lagi menceritakan kejadian yang lalu. Dan tidak dibuka season tanya jawab.”

Aku ya langsung bertanya2 dong. Jadi begitu ditanya kesediaan untuk menandatangi surat perjanjian itu, aku jadi “agak gimanaa” gitu. Ternyata aku gak sendiri. Dua orang wali yang lain berpendapat sama. Kami minta diceritakan lebih dulu secara ringkas apa masalahnya.

Akhir cerita, aku tanda tangan. Karena gimana pun juga, aku memang harus tetap menanda-tangani surat perjanjian tersebut kalo mau si Kribo aktif kuliah kembali. Kami meninggalkan ruang rapat rektorat dengan selembar surat keterangan aktif kuliah. Si Kribo melangkah ogah2an. Ternyata dia sangat kecewa. Aku paham. Dia kecewa karena merasa hak-nya untuk berpendapat dikekang, dia merasa perjuangannya untuk menuntut  keadilan untuk teman2 dan organisasinya sia2. Terlepas dari itu, ternyata dia lebih kecewa lagi karena pengacara  yang menceritakan masalah itu tidak cerita sesuai fakta. Banyak bumbu2 penyedap. Dan itu merugikan mereka. Tapi apa daya, mereka bertiga tak punya daya.

“Ntah apa2 yang dibilang Bapak itu. Mana kek gitu kejadiannya, ya kan bang?” ujar si Kribo pada rekannya, ketua himpunan organisasi tetangga yang juga sama2 di skor.

“Aku kalo gak ingat ada ayahku tadi, mau kulawan aja dia. Fitnah kali dia itu,” sahutnya.

Aku cuma bisa melongo. Adikku, si bungsu yang kecil, si kribo, si abang ganteng, ternyata sudah berproses sejauh ini sebagai mahasiswa. Dia yang selalu kami anggap kecil di rumah, ternyata punya segudang cerita diluar yang kami gak tau.

Dari ceritaku tentang si Kribo ini, ada beberapa hal penting harus kupahami.

Pertama, si Kribo bukan lagi si bungsu kami yang kecil. dia sudah berproses dan berupaya menjadi pohon yang rindang.

Kedua, si Kribo memang membuat kesalahan sampai dia harus di skor dan membuat surat perjanjian, tapi terlepas dari itu, dia telah membuat satu keputusan besar dengan segala resikonya.

Ketiga, undangan orang tua memang datang ke rumah, tapi itu tidak selamanya berarti kalo si Kribo membuat kesalahan fatal yang bisa merusak nama baik keluarga. Dia hanya sedang belajar menjadi rindang.

Keempat, ternyata aku melewatkan masa kuliahku dengan sangat baik budi. Aku aktif di organisasi, tapi aku anti aksi alias demo. Dan akhirnya dengan menyesal kuakui, “aku menyesal.” *ribet banget ngomongnya ya..

Kelima, ternyata dengan masalah begindang bisa ngebawa si Kribo ke meja rapat rektorat. Hahahahha. Gak semua mahasiswa bisa masuk ruang rektorat, geng! Dan untuk bisa duduk, dan rapat di ruang rektorat, lo harus melakukan hal besar yang “membuat gelisah” kampus dulu. Wkwkwkwk.

Keenam, hmmm.. udah, lima aja.

Jadi itulah dia kisah si Kribo. Lain waktu akan kuceritakan tentang si Tengah. ^^



Selasa, 09 Januari 2018

THE LUXURY OF 27

Tahun ini kayaknya jadi tahun terakhir gue memampangkan usia gue di resolusi awal tahun. Gak nyangka kali, ternyata daku sudah se-(tua)-dewasa ini. Ya ampuuun. Time flies so fast yaa.. Hahahahahhaa. Pantesan belakangan ini kalo makan di cafe, waitres-nya kalo ngasi menu suka bilang, “pesan apa, Bu?” Hahahhahaaattsyiiim. *Lirik kanan kiri, benerin sikap. Ketawanya kelebaran.*

Kemarin pas di 1 Januari, tepatnya dimana postingan ini harusnya di-publish, aku sempat mikir mau bikin judul ‘The Glory Of 27’, tapi setelah ditimbang2, dan dipikir2, kayaknya judul itu terlalu dini untuk ditelurkan. Soalnya maknanya berat syekali. Jadi terpilihlah judul ini. Emang semewah apa sih? dibaca yak. Jangan berekspektasi terlalu tinggi. Aku sulit ditebak. Ingat kawan, hati perempuan sedalam mutiara di dasar lautan. :v

27.

Jeng. Jeng. Jeng jeng. *pake aplikasi dramatis di instagram*

Ini tahun paling mewah yang pernah ada dalam perayaan tahun baru versi aku. Paling mewah dan paling realistis, tepatnya.

Realistis
Jadi di tahun2 lalu, dan memang biasanya seperti itu, aku bakal tiup lilin dari beberapa tart yang berbeda, dan menerima beberapa kado dari orang yang berbeda2 pula. Biasanya malam tahun baru dihabiskan dengan nonton acara pergantian tahun di TV, atau jalan2 keluar lihat kembang api. Biasanya sih seperti itu. Pokoknya malam tahun baru itu spesial banget buat-ku yang notabene-nya gak cuma ngerayain tahun baru, tapi juga usia baru.

Tapi tahun ini,  berbeda. Mungkin disinilah letak realistis itu. Aku menghabiskan 31 Desember 2017 di rumah, tanpa sedikitpun tertarik buat nonton TV, apalagi keluar lihat kembang api. Aku sudah meluk guling jam setengah 10 malam, dan  nunggu ngantuk sambil main hp. Abis itu ketiduran, dan kemudian terbangun kembali dengan dering Hp. Bukan karena kembang api. Wkwkwk.

Habis nerima tepon dan mendengar doa2 panjang untuk hari ulang tahun-ku, terus nerima video pesta kembang api dan ucapan selamat ulang tahun juga masih dari orang yang sama, aku tidur lagi. Gak tertarik buat keluar atau minimal melongokkan kepala ke teras rumah demi melihat pesta kembang api yang bisingnya luar biasa itu. Pokoknya malam tahun baru-ku di 2018 ini amat sangat biasa. Gak ada bedanya dengan malam2 yang lain. Aku juga gak tau kenapa. -_-

Besok paginya, pas ngecek Hp, udah nemu puisi ucapan selamat ulang tahun lagi. Masih dari orang yang sama. Hehehe. Trus nerima tepon lagi, nanya kepingin jalan2 kemana. Doi tau banget aku cinta pantai dan langsung nawarin jalan ke pantai pas aku bingung mau kemana.

“Ke Pantai Bali kita?”

Tapi itulah ya. Aku kurang begitu excited sama tahun baru kali ini. Padahal tahun lalu seminggu sebelum hari H udah mempersiapkan plan A dan plan B buat menghabiskan 1 Januari di pantai. Kok tahun ini jadi males ya?

Disinilah aku merasa aku mulai lebih realistis. Aku memang suka pantai, tapi dengan segala pertimbangan, aku memilih untuk gak usah ke pantai deh h
ari ini. Pertimbangannya adalah, pantainya pasti sumpek, susah buat foto2. Terus badan masih lelah karena kemaren abis jalan2 ke Funland Mickie Holiday. *Mana tiketnya lagi melonjak banget pulak. Ehh, curcol.* Terus mikir perjalanan pulang pasti macet, soalnya tanggal 2 Januari anak2 udah masuk sekolah. Terus, rasanya semangat di jiwa sudah full charge. Udah nge-camp di Air Terjun Sampuran Putih, soalnya. Jadi rasanya kok mubazir ya kalo hari ini dipake buat jalan ke pantai lagi?

Finally, kita cuman beli kado yang mana kadonya itu adalah benda yang aku suka dan memang aku yang pilih. Hahahaha. Ini bukti ke-realistisan-ku yang kedua. Hahahha. Soalnya kemaren pernah kejadian dibeliin kado, tapi kurang pas, jadinya jarang dipake. Abis itu nolak buat beli tart, karena lagi gak pengen makan tart. Pertimbangannya, kalo beli tart, pasti dibeliin yang gede. Mahal, geng. Sayang aja uangnya. Mubazir. Sementara kan kita gak pengen2 amat makan tart. Enakan juga bebek penyet. Wkwkwkwkwk. Yaudah, kita makan bebek penyet sama belut. Ahhaha.. Enyaaakkk.. :D

Jadi tahun baru dan usia baru-ku kali ini adalah perayaan atau peringatan yang paling mewah menurutku. Kok mewah? Gak pake tart, gak pake jalan2, kok mewah? Karena realistis itu lebih mewah dari sekedar tiup lilin.

Jujur saja, menurutku yang mulai realistis ini, tart setiap ulang tahun itu hanya simbolis saja. Kadang2 abis tiup lilin, kuenya dipake buat cowel2. Terus dibagi2in ke temen2 deh. Sekarang ini rasanya kok jadi mubazir ya? *Apa karena aku sudah merasakan lelahnya cari duit? Padahal mah judulnya dibeliin.* Aku mikir, kalo mau bagi2 rezeky, mendingan kasih ke yang memang benar2 membutuhkan. Temen2 kita itu gak butuh makan tart kita. Mereka bisa beli sendiri kalo mereka mau. Mereka makan, karena kita kasih. Thats all.

Jadi, aku memutuskan untuk gak usah beli tart, diganti dengan bebek penyet sama belut itu udah tepat banget. Memilih sendiri kado untukku juga udah tepat banget. Menunda waktu untuk jalan ke pantai udah tepat banget. Bahkan mamaku yang gak nanyak2 mau apa, tetiba datang bawa serenteng anggur juga udah tepat banget.

“Ini kado ulang tahun,” kata mamak sambil menyodorkan anggur merah. Wkwkwkwk.

Ini sudah tepat.

Walopun ada pertanyaan, “tahun lalu kita rayain di pantai Romance Bay loh. Masak tahun ini kita gak kemana2? Harusnya malah tahun ini lebih istimewa. Harus ada peningkatan dari tahun lalu.”

Iya sih. Ada benarnya. Tapi menjadi cewek realistis macem aku ni juga udah istimewa loh. Kalo masih congok kek dulu, mungkin aku udah langsung mau diajakin ke Pantai Bali walopun masih capek. Nerima aja dibeliin tart walopun gak kepingin makan tart. Iya, cuma biar bisa tiup lilin di atas tart aja. Terus, gak mau bilang mau kado apa. Tapi sekalinya dikasi, kalopun gak pas, ya harus terima. Salah sendiri, gak mau milih langsung. Hahahahhaha.

Makanya walopun di 27 ini aku gak tiup lilin, aku merasa sudah sangat istimewa. 27-ku ini mewah. Aku menjadi perempuan realistis dengan pemikiran yang matang. *Hueekk.

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa itu pilihan. Dan aku memilih men-dewasa, dan bijaksana. Karena aku tahu, untuk mendampingimu, gak cukup kalo cuma dengan modal (c)antik doang. *Hasseekkk* *Hueeekkk*

***

Resolusi 2018

Ngomong2 soal tahun baru, ada yang kurang rasanya kalo belum bikin resolusi. Seperti tahun2 sebelumnya, aku selalu bikin target apa aja yang harus dicapai selama satu tahun ke depan. Jadi untuk 2018 yang mewah, ini resolusiku.

Pertama. Menjadi hamba yang lebih taat. Sholat di awal waktu. Tidak lagi menunda2. Istiqomah menghapal. Puasa sunnah minimal 3 kali dalam satu bulan. Dan berusaha untuk rajin mengerjakan sholat dhuha. Semoga Allah teguhkan hati ini. Aamiin.

Kedua. Menikah. *Kalo dulu masih malu2 bikin resolusi menikah, tahun ini mulai blak2an. Udah kepengen gendong baby soalnya. Wkwkwkwk* Aku gak mau lagi sibuk mencari yang sempurna, karena tiap kali nyari yang sempurna, selalu berakhir kecewa. Gimana nggak kecewa, kita ekspektasi tinggi mulu, tapi gak menyadari bahwa kita pun banyak kurangnya. Padahal harusnya gak serumit ini seandainya ingat sama pesannya eyang Habibie. “Tidak perlu mencari yang sempurna. Cukup temukan seseorang yang membuatmu merasa lebih berarti dari apapun.”

Aku jadi teringat tulisan Muallim Irhas, seniorku di LPM Dinamika UIN SU, dulu. Dia pernah nulis, perempuan yang menunggu jodoh itu ibarat sedang menunggu angkot pas mau berangkat ngampus. Lima menit menunggu, datang angkot yang jalannya pelan. Gak di stop. Takut telat. Sepuluh menit kemudian, datang angkot yang agak cepat, tapi penumpangnya rame. Gak di stop. Malas sempit2an. Lima belas menit kemudian, datang lagi angkot ketiga. Jalannya cepat, penumpangnya gak banyak, tapi angkotnya jelek. Butut. Gak di stop lagi. Mau cari yang bagus aja. Berselang dua puluh menit kemudian, datang lagi angkot ke empat. Cepat, lapang, bagus. Pas di stop, angkotnya gak berhenti. Gak tau kenapa. Sambil ngedumel, si cewek nunggu lagi. Setengah jam kemudian, saat kaki udah pegel, dan waktu udah mepet, lewatlah satu angkot lagi. Lambat, padat, butut. Mau tak mau, suka tak suka, angkot tadi pun di stop.

Ekspektasi si cewek, karena dia keluar dari rumah lebih cepat, dia akan bisa menumpang angkot yang jalannya cepat, tidak terlalu padat, dan bagus. Tapi sekian menit nunggu gak ketemu2. Nah sekalinya ketemu, si angkot gak mau di stop. Ini bisa jadi analogi, orang yang dimata kita sempurna, dan kita anggap sepadan dan cocok untuk mendampingi kita, belum tentu berpendapat sama. Bisa jadi dia merasa dia terlalu sempurna untuk kita yang biasa2 saja. Nah, karena usia yang sudah merambat banyak, jadinya kita gak bisa lagi memilih yang ada di kriteria kita. Kita melewatkan mereka yang tadinya harusnya bisa memenuhi beberapa poin dari kriteria kita. Jadilah pada akhirnya si cewek menumpang angkot yang jalannya lambat, isinya padat, dan tampilannya butut. Tak lagi bisa memilih.

Ketika kita menolak lamaran seorang lelaki yang baik. Baik agamanya, baik perangainya. Maka itu sama artinya dengan menolak rezeky. Aku gak mau lagi nolak rezeky. Nanti Allah marah. Jadi, walaopun nama abang bukan Rezeky, tapi gak bakal ditolak kok. Hahahahhaha. *Curhat lagii*

Ketiga. Jadi dosen. Aku kepingin punya pengalaman mendidik mahasiswa. Selain itu, mamak bolak balik nanyak, kapan jadi dosen. Jadi terbeban awak. -_-“

Keempat. Tahun baru 2019, pengen ke Sabang. Honeymoon. Wkwkwkwwkkw.

Kelima. 2018 no sarkasme. Tahun ini harus bijaksana menempatkan bahasa. Gak lagi menyinggung perasaan orang lain. No ghibah. No fitnah. Berusaha menarik diri dari obrolan tak berfaedah.

Keenam. Eksis nge-blog lagi. Satu bulan minimal 3 postingan.

Ketujuh. Pengen langsing. Efek liburan, makannya sehat banget, istirahatnya cukup banget, refreshingnya seru banget, badan jadi melebar semena2. Jadi 2018 punya target untuk mengembalikan berat badan seperti semula. Kembali ke 49 kilo. Mudah2an terlaksana. Mudah2an gak diajakin makan bebek penyet lagi. Mudah2an bisa nahan selera makan bakso. Aamiin.

Itu aja deh resolusinya. Sedikit, tapi terlaksana lebih baik daripada banyak tapi cuman teori saja. Hehehe.


Semoga resolusi kita semua tercapai dengan baik di tahun 2018 ini yaa.. Aamiin.. Semangat untuk kita semuaa.. :D

Rabu, 03 Januari 2018

RESENSI JUMANJI : WELCOME TO THE JUNGLE


Pilem Lawak2 Babang The Rock

Liburan kali ini si traveller baper banyak main ke mall. Seminggu ini nonton udah dua film. What the funny! Hahahaa. Kemaren nonton Ayat Ayat Cinta 2 dan kali ini tergoda mau nonton Jumanji. Kenapa pengen nonton? Karena pas tayang di TV, ini film udah cukup bikin melongo. Jadi pas tayang di XXI ya langsung kepo gimana filmnya. Dan taraaa.. karena waktu itu belum gajian, jadiah kita nonton ke XXI Suzuya Marelan Plaza. Hehe. Cuman 35rebu, gaes.. Biasanya kalo nonton kan 50rebu, mayan, sisanya bisa dipake jajan. Wkwkwkwk. Udah keliatan calon mamak2nya ya.. :v

XXI SMP ini lumayan bagus kok, gak kalah sama XXI di mall lain. Cuman ya itu, isinya banyak bocah. Kalo ketemu sama siswa awak kan lucu jugak. Hahahhaa. Makanya ini bisa jadi alternatif kalo ada film bagus, tapi tanggalnya lagi tua banget.

Jadi kita kembali ke Jumanji. Setting awalnya adalah ketika Fridge, pemain basket sedang lari di pantai, dan menemukan papan permainan Jumanji. Karena main papan permainan adalah kerjaannya anak zaman old, Jumanji menawarkan permainan baru versi video game. Biar kekinian. :v

Aku gak begitu kenal dan hapal aktor dan aktris Hollywood, tapi film ini jadi sangat keren karena ada si babang ganteng The Rock. Hehe. Terselamatkanlah. Kalo pemeran yang lain, aku gak kenal. Gak terlalu familiar memang sama artis2 luar. Maklum, daku kelewat cinta Indonesia. :v

Jadi diceritakan ada empat remaja yang biasa banget kehidupannya. Gak menarik2 amat sih, yang satu namanya Spencer, si gamer dan kutu buku, terus ada Fridge, teman kecilnya Spencer yang pemain basket, terus ada juga Bethany, cewek cantik yang gak bisa jauh dari Hp dan lagi galau gegara diputusin pacarnya, dan yang terakhir ada Martha, cewek pemalu yang gak menarik banget. Wkwkwk.


Kehidupan mereka yang flat banget itu jadi seru setelah mereka tetiba ada di Jumanji.  Yap, welcome to the jungle.

Mereka berempat dihukum membersihkan gudang dan membukan hekter dari buku2 bekas yang akan dijual. Kemudian gak sengaja Fridge menemukan video game, semacam PS-lah mungkin itu. Trus dicobain sama Spencer. Mainnya sama kayak main video game biasa. Ada empat stik, dan mereka berempat bermain. Setelah memilih avatar, taraaa.. mereka ada di Jumanji.

Spencer berubah menjadi babang ganteng The Rock, yang dalam film ini berperan sebagai Dr. Bravestone, Fridge berubah menjadi Moose Finbar, seorang zoologist yang cerewet tapi lucuk, Bethany terjebak dalam tubuh pria paruh baya, Prof. Sheldon Oberon. Makanya si Prof ini jadi kemayu banget, maklum, yang masuk ke tubuhnya cewek. Dan ini lucuk. Hahahah. Terus yang terakhir ada Martha, si cewek pemalu yang gak menarik itu berubah menjadi Ruby, cewek cantik, seksi, dan perutnya rata. :D


Masing2 mereka punya 3 nyawa. Gak tau sih kalo nyawanya abis bakal mati beneran atau gimana. Soalnya belum kejadian. Ceritanya mereka harus berjuang mencari sebuah batu permata warna hijau yang merupakan mata-nya Jumanji. Jumanji itu ternyata adalah patung singa raksasa yang katanya mengawasi seluruh wilayahnya yang juga disebut Jumanji. Paling nggak itulah jalan cerita yang kutangkap. Nah jadi dengan kemampuan masing2, mereka bekerja sama untuk mengembalikan batu permata itu ke tempatnya semula.

Film ini lucu abis. Jalan ceritanya juga santai banget. Bisa dinikmati semua umur. Pas banget di lounching di penghujung Desember dimana anak2 pada libur sekolah. Ini film bagus banget buat ditonton bareng keluarga. Sama sekali gak ada yang harus dikhawatirkan. Sensornya bagus banget. Biasanya kan kalo film Hollywood itu suka ada adegan kissing ya. Nah di film ini adegan itu disensor dengan sangat halus. Ini salah satu keunggulan film ini menurutku. Ya secara pangsa pasarnya usia 13 tahun ke atas. Usia anak cekolah, gaes.

Eh, jadi teringat beberapa scene yang kalo diingat bikin nyengir sendiri deh. Jadi ceritanya kan Bethany masuk ke dalam tubuh Prof. Sheldon, jadi ceritanya setelah melewati beberapa petualangan, si Prof ini kebelet pipis. Si Bethany yang notabenenya cewek bingung dong gimana caranya pipis pake tubuh laki2. Scene dia belajar pipis itu lucuuukk. Hahahhahahahaa. “Ada pegangannya,” katanya. Ini sumfeh, tekekeh sendiri kalo ingat.

Trus ada lagi yang lucu, pas Ruby berusaha merayu tentara jahat Jumanji. Di dalam tubuh Ruby adlaah Martha, si cewek pemalu dan gak gak pernah merayu laki2. Adegan pas Prof. Sheldon alias Bethany ngajarin Ruby itu lucu kali, we.. Hahahaha. Ekspresi Ruby, cara jalannya, cara mengibaskan rambutnya. Hahahahhahaa. Terhibur.. terhibur..

Scene favorit aku adalah ketika babang The Rock menatap dengan tatapan sparkling. Kayak membara2 gimanaa gitu. Ahahahahha. Trsu badannya itu loh, gaes. Otot disana sini. Kece badaii.. wkwkwkwk.. satu lagi, karakter dia yang macho amblas habis di film ini. Disini dia jadi cowok kekar yang menggemashkan. Bener2 bikin gemash!

Aku gak terlalu punya gambaran yang gimana2 banget tentang film ini. Buat aku Jumanji yang tayang di TV sama yang tayang di XXI sama2 seru, sama2 lucu. Aku gak kecewa sama film ini walopun mereka gak pake papan permainan yang legend itu. Gak masalah sih kalo mereka menggantinya dengan video game biar sesuai sama kids zaman now yang jadi penikmat film ini.


Film ini cukup menghibur. Lucunya dapet, serunya dapet, kita nontonnya santai deh pokoknya. Lumayan lama gak ketawa lepas pas nonton film. Kayaknya terkahir ketawa tekekeh banget pas nonton Single-nya Raditya Dika, atau pas nonton Cek Toko Sebelah-nya Ernest. Aku lupa.

Etapi, abis ketawa2 gitu, kita hampir pesan tiket buat nonton Susah Sinyal, loh. Wkwkwkwkwk. Untung aku bosen nonton, kalo gak mungkin semua film yang lagi tayang ditonton semua. Hahahahaha.

Yaahh, liburan kali ini emang kurang greget, gaes. Ngakunya sih traveller, tapi mainnya ke mall. Gimanaa gitu yaa. Takut jugak aku nanti hastag instagramku jadi #travellermall. Gak betol jugak ni. Seminggu udah dua kali ngeresensi. -_-“


Okelah, sampek ketemu di blogpost selanjutnya. Semoga nanti mosting “My Journey” lagi. T_T