Sabtu, 07 Juli 2018

MY LIFE JOURNEY – BRIDE TO BE

Bismillahirrahmaanirrahiim

Waktu lamaran :)
Ini H-1 dari tanggal delapan ke-sebelas semenjak ia memintaku untuk menjadi bagian dari rancangan masa depannya. Dan lebih kurang sebulan lagi mimpi besar itu akan mewujud nyata. Alhamdulillah. Waktu berputar sedemikian cepat. Rasanya baru kemarin acara lamarannya digelar. Sekarang sudah hampir mendekati hari H saja. -,-

Tapi kadang suka gak sabar juga sih. Wkwkwk. Soalnya bulan Syawal inikan emang lagi musim nikahan ya. Bolak balik menghandiri undangan pernikahan kawan, kalo lagi di rumah suara kibotan nikahan sahut menyahut, cemanalah ya kan. Kadang2 terbersit jugak dalam hati, “apa gak silap kemaren itu pas nentukan tanggal nikahnya? Kok lama kali?” Wkwkwkwkw

Di postingan kali ini aku mau cerita tentang foto2 sebelum menikah alias prewed. (Yang sebenarnya sih gak boleh dalam islam). Kalo kata muallim Irhas dulu, sesuatu yang salah harus tetap kita bilang salah, sekalipun kita belum sanggup untuk melepaskannya secara keseluruhan. Contohnya musik, atau interaksi dengan lawan jenis yang intensitasnya sering.

Prewed ini sebenernya terlaksana karena kita butuh foto bagus buat dipajang di acara wedding nanti. Kita juga sempat diskusi ringan tentang prewed. Penting nggak ya kita foto lagi. Sementara kita punya stok foto2 bagus waktu ngetrip2 dulu. Jadilah kita bongkar2 file lama, dan ketemu jugalah foto2 bagus itu. Namun apa hendak dikata, aku adalah perempuan yang banyak maunya. -__-

Dari sekian banyak foto, muka gue polos banget. Ya iyalah yaa.. Secara itu kan foto pas nge-trip, masak iya gue dandanan dan pakek bulu mata palsu segala. Wkwkwk. Biar kate view-nya bagus2, angel fotonya bangus2, tapi karena muka gue polos seada2nya, maka gue pun bilang, “kita kayaknya perlu foto lagi, deh.”

Aku ini pecinta pantai dan dia penyuka hutan, air terjun dan gunung. Coba tebak, lantas dimana kita bakal foto prewed?

Yap! Kita mutusin untuk prewed ke tempat kesukaan gue. Dia gak mendebat aku samsek. Dia menuruti saja kemauanku. (Nanti kamu akan tau seperti apa upah sabar). Kita prewed ke pantai. Kemaren gue disuruh milih mau pantai yang mana. Ada beberapa opsi yang ditawarkannya kemaren, kalo gak salah, Pantai Romantis, PantaiCemara Kembar, Pantai Bali Lestari, dan Pantai Mangrove. Dari semua pantai itu yang paling polos tanpa sentuhan dekor meriah hanya Pantai Mangrove. Masih alami. Gak terlalu banyak ornamen dan spot foto hasil karya tangan manusia. Dan aku memilihnya. Aku lebih suka yang alami. Tapi ya ini sih tergantung selera ya. Hehe.






Jadi pas kesana kita cuman bermodalkan baju couple yang kita beli online dan baju yang kita beli buat acara lamaran. Saat itu aku gak kepikiran sama sekali buat prewed pake selayar. Sumfeh. Yang ada di kepalaku hanya foto prewed outdoor. Dan foto outdoor means baju santai dan make up natural.


Kita ke Pantai Mangrove udah dua kali dan prewed kemaren adalah kali ketiga. Jadi pas nyampek sana, kita langsung nyari spot yang sebelumnya belum kita jamah. Kita emang nyari view pasir dan pepohonan. dan taraaaa... ini dia hasil fotonya. Alhamdulillah, hasil fotonya bagus2 banget dan sama sekali gak mengecewakan. Sepulang dari sana, socmed kita dibanjiri foto2 bagus itu dong pastinya. Tapi mungkin banyak yg gak nyangka kalo itu adalah prewed. Ya kali aja baju kita terlalu santai kali ya? Wkwkwkwk.

Setelah foto prewed di Pantai Mangrove, kita kemudian menjalani hari2 kita seperti biasa. Waktu berlalu, Maret berganti April. April berganti Mei. Mei berganti Juni. Dan finally, Juni berganti Juli. Kita sama sekali gak kepikiran mau bikin prewed sesi dua apalagi tiga. Sampai kita ketemu perias pengantin yang jasanya nanti akan kita pake. Pas ngeliat gaun2nya, aihmak.. ngileeerrr... cantek2 kaleee.. T_T Ku tak kuasa menahan diri dan bilang, “mas, prewed lagi yuks.” T_T

Inilah upah sabar itu, kawan2. Kemaren, beberapa bulan lalu dia legowo untuk prewed di tempat kesenanganku walaupun sebenernya di lubuk hatinya yang paling dalam dia pasti membayangkan betapa indahnya prewed di Hutan Pinus, atau air terjun, atau bahkan Gunung Sibayak. Tapi karena aku suka banget sama pantai, dia menepikan itu semua. Sampai di suatu moment, kita diskusi ringan kembali.

“Yaudah, mau foto prewed dimana lagi adek?”

“Dimana ya mas? Mas mau dimana?”

Langsung dia jawab semangat, “Air terjun Sikulikap.”

Aku agak drama sih pas dengar itu. Karena agak parno-an aja. Kan kata orang2 tuh ye, udah mau dekat2 hari H jangan lasak2, darah manis. Emang sih kita gak boleh percaya2 kali, takut jadinya syirik. Tapi ya itulah dia, aku parno-an orangnya.

Karena dia terus meyakinkan, aku akhirnya berhasil menepikan rasa khawatir dan keragu2anku. Aku setuju, tapi masih dengan “tapi”.

“Tapi kita juga foto prewed di masjid ya, mas.”

You know what? Dia geleng2 kepala. Mungkin dalam hatinya, “ya Allah dek. Mau berapa banyak rupanya fotonya? Mau berapa biji rupanya yang mau dipajang?” Hahahahhahaha... Tapi yang terucap dari bibirnya adalah : “yaudah, iya.”

What a lucky me!

*Intermezzo. Pernah kita ngobrol soal beruntungnya perempuan yang berjodoh dengan lelaki bersuku jawa. Dia bilang, “lelaki jawa itu penurut, suka menghindari perdebatan. Menurut adek gimana?” Ku hanya tersenyum lebar dan berucap, “ayaflu, mas.”*

Kemaren dia juga menawarkan pilihan beberapa masjid, Masjid Al-Musannif Cemara, Masjid Raya Medan, dan Masjid Kuning Al Osmani Labuhan. Awalnya kita kepingin di Masjid Al-Musannif Cemara. Tapi berhubung Masjid Kuning Al Osmani lebih dekat, jadi kita mampir dulu. Pas dipandang2, cantik masjidnya. Langsung deh izin sama BKM-nya. Hehe. Niat awalnya sih, nanti habis dari Masjid Kuning, kita ke masjid Al-Musannif lagi. Tapi pemirsah, foto2 itu capek rupanya. Karena udah lelah dan pas lihat hasilnya udah bagus2 banget, kita jadi males ke Al-Musannif. Udah ah, ini aja. Nanti banyak2 nampak kali congoknya. Wkwkwkwk.




Dan taraaaa... sampailah kita di hari foto prewed di Air Terjun Sikulikap.

Propertinya lengkap, gaes. Ada balon bentol2 warna warni, ada pipa asap, ada bunga cantik. Perasaan pas foto prewed di pantai propertinya yang udah ada aja. Kayak tenda, sofa angin, hammock, payung warna warni, sama si tampan aja. -__- Eh pas ke Sikulikap, kita belanja duluk. wkwkwkwk. :p



Jalur Sikulikap
Dan yang paling oke adalah, kita pake dua kostum. Baju lapangan daaaann gaun selayar serta jas. Apa gak ntap jiwa kali? Pas di pantai kemaren cuman pakek kaos couple dan gamis duyung serta kemeja doang. Lah ini di tempat kesukaannya mas, kita pakek selayar dan jas. What a ....... Inilah yang kusebut upah sabar. :”)

Karena dia sabar, dia dapatkan lebih dari apa yang dia bayangkan. Alhamdulillah. ^_^

Air Terjun Sikulikap itu tepat berada di bawah Penatapan. Sudah masuk ke wilayah Kabupaten Karo. Air terjunnya besar, tinggi, cantik banget. Tracking ke bawah gak jauh. Paling ada dua puluh menitan. Jalurnya gak ekstrim2 banget. Tapi ya gimana juga tetep harus hati2 ya, gaes. Sebelah kirinya jurang soalnya.

Tapi ini cocok banget disinggahi. Aksesnya mudah. Dari Medan paling ada satu setengah jam. Pintu masuknya di tepi jalan. Persis di Penatapan deh pokoknya. Kali2 aja ada yang mau mampir ya kan. Hehe.

Akhirul kalam, kita jadinya foto prewed di tempat2 yang kita sukai. Di pantai, masjid, dan air terjun. Fabiayyi ‘alaa irobbikuma tukadzibaan. Sunggu tidak ada satu pun nikmat yang pantas untuk didustakan. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Kita menyukai alam, dan alam membuat kita saling menyukai. Aku akhirnya jatuh cinta pada air terjun, ia juga akhirnya jatuh cinta pada pantai. Dan kedua tempat itu membuat kami semakin saling jatuh cinta. Semoga semesta menyatukan dalam ikatan yang dirihoi Tuhan. Insya Allah.

*Intermezzo (lagi). Hubungi Pangeran Photograpy kalo kamu butuh moment untuk diabadikan, ya. Hehe.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar