Senin, 16 Februari 2015

MY JOURNEY - DANAU LINTING : HIJAU DAN HANGAT

Tahun ini kayaknya judulnya tahun jalan-jalan. Alhamdulillah, baru bulan Februari udah menyambangi beberapa spot cantik di sumatera utara. Padahal kayaknya tahun lalu tuh ngedapetin moment jalan ke mall aja syusyaaah syekalee. Hehe.

Setelah kemaren jiwa petualangku gak muncul-muncul ke permukaan karena memang tidak memungkinkan, akhirnya kali ini ia menyeruak bebas. Akhirnya, bro ! Membolang lagii.. Ya walaupun membolang kali ini pake mobil. Eh, kalo pake mobil bisa disebut membolang gak sih? Bodo amat ah, yang penting jalan-jalan.. !! :D

Well, destinasi kali ini adalah  Danau Linting di Desa Tiga Juhar, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang, Provinsi Sumatera Utara. Perjalanan sekitar 3 jam dari pusat Kota Medan. 

Sebenernya, aku bukan cewe tomboy yang gila jelajah, cinta petualangan. Nggak. Aku malah lebih sering jalan ke mall, makan, nonton, karokean, dan tergila-gila sama heels, bukan sepatu kets. Aku cuma senang jalan-jalan. Kemana aja. Ke mall, oke. Ke alam juga oke. Nah, jadi pas diajakin ikutan ke Danau Linting, aku semangat banget. Walaupun sebenernya aku nggak tahu apa-apa tentang danau itu. Aku cuma beberapa kali lihat fotonya, dan warnanya memang unik. Hijau terang. Jadi aku sama sekali nggak browsing sama sekali tentang destinasi yang bakal kukunjungi kali ini. aku udah pede banget bakal datang ke tempat yang keren.

Kami menempuh perjalanan lebih kurang tiga jam dari pusat Kota medan. Dari jalanan yang aspalnya bagus, sampai yang bopeng-bopeng. Dari yang kiri kanannya gedung-gedung gede, sampai kebun sawit. Dari yang awalnya bising karena klakson, sampai yang senyap. Waktu yang lumayan lama dan cukup bikin mual. Soalnya jalannya berliku-liku banget, *kayak perjalanan cinta kita. eeaaakkk..#gagalfokus* 

Akhirnya lelah perjalanan kami disambut hangat oleh hijaunya Danau Linting. Iya, beneran sambutan hangat. Soalnya air Danau Linting memang hangat, tapi bau belerangnya nggak begitu menyengat. Cantik. Warna airnya itu loh. Hijau memukau. rerimbun pepohonan yang tumbuh di tepi-tepinya juga menambah asri pemandangan. Sayangnya, sekeliling danau dipagari. Pagar itu justru ngebikin danaunya jadi kelihatan kecil. Malah jadi kayak kolam renang. Dan nuansa alamnya berkurang. Mungkin karena alasan keselamatan pengunjung, sih. Tapi, tetap jadi ngebikin danaunya jadi nggak berasa danau alami. Kayak danau buatan jadinya. *Eh, danau Linting bukan danau buatan, kan?*

Apa hal pertama yang aku lakuin? Yap, foto ! Haha.. *ini sih harusnya gak usah ditanya. ^^
Aku bareng buk Alfi langsung dengan pede-nya jemprat jepret. Gak peduli diliatin orang. Wkwkwk. Parah? Gak ah, biasa aja. :p

Yang bikin kecewa adalah, aku gak menemukan air terjun disitu. Padahal yang bikin semangat tuh menurut cerita yang beredar, disana itu ada air terjunnya. Tapi ternyata pemirsa, air terjun itu adanya sekitar tiga puluh menit perjalanan lagi, dan sulit dilalui mobil. Bisanya pake motor doang. Ini part yang ngecewain banget..banget. Kirain bakal puaaaasss kecipratan air terjun, eh, gak taunya.... T_T

Jadilah kami cuman menjelajahi Danau Linting dan seputarannya. Ternyata disini ada yang namanya goa emas, goa perak, dan 7 kolam pemandian putri. Nih, aku ceritain satu-satu.


Konon, sekitar beberapa tahunan yang lalu, salah seorang warga dari Desa Tiga Juhar mimpi, di seputaran Danau Linting ada tempat pemandian 7 orang putri. Dan konon, kolam itu bisa mengobati beberapa jenis penyakit. Nggak tau bener atau cuma mitos. Yang pasti kolam itu punya juru kunci, dan setiap weekend ada aja orang yang datang untuk berobat. Oh iya, kolamnya terpisah-pisah. Setiap kolam juga punya nama sendiri-sendiri. Aku lupa nama-namanya, cuman inget satu, Kolam Beru Ginting. Pengunjung gak boleh menyentuh airnya, sekalipun cuman buat cuci muka atau cuci kaki. Pantang, katanya.

Dinding Goa Emas
Di depan kolam-kolam itu ada tiga buah gua berjejer yang masuknya dikenakan biaya lima ribu per orang. Pertama gua perak. Gua ini dalam dan pengap sekali. di dinding2nya ada kristal-krital yang katanya adalah perak. Makanya namanya juga gua perak. Disebelah gua perak ada gua emas. Nah, ini yang punya banyak cerita. Konon, gua emas ini bentuknya melingkar. Saat kita masuk, kita seolah sedang berada di tengah lingkaran ular yang melingkar, yang mana ekor dan kepalanya hampir menyatu. di pintu masuk gua ada semacam taring, dan kata penjaganya itu adalah taring naga. Gua ini nggak dalam, jadi nggak begitu pengap juga. Di dindingnya ada benda-benda yang berkilau kalo kena blitz kamera. Yap, emas.

Kita sempet ngobrol, soal legenda itu. Beberapa dari kita nggak percaya kalo itu emas beneran. Katanya, kalo itu emang emas beneran, harusnya pemerintah udah bergerak untuk mengeksplorenya. Tapi kalo menurutku, dan beberapa teman yang lain. Itu mungkin beneran emas asli. Hanya, karena masih sedikit banget, biaya operasionalnya malah lebih gede dari pada jumlah emasnya. Makanya masih dibiarin aja sama pemerintah. Wallahu a'lam.

 Menjelang sore, kita bergegas balik. Aku melempar pandang ke hamparan air berwarna hijau terang dan hangat itu. Dalam hati berbisik, terima kasih, Tuhan, engkau teah izinkan aku untuk lebih pandai bersyukur atas alam indah yang Kau ciptakan. Sampai ketemu lagi, Danau Linting. ^^





4 komentar: