Jumat, 28 Desember 2012

5 cm. : Lima Senti Meter Di Depan Kening Kamu!



5cm. Aku pernah lihat bukunya di Gramedia. Covernya warna merah tanpa ada ilustrasi apa-apa. Anehnya, aku tidak menyentuhnya sama sekali. Padahal, hampir semua novel yang nyastra pasti gag pernah luput dari tanganku. Minimal untuk membaca sinopsisnya. Novel ini terlewat mungkin karena covernya yang bagi mataku yang amatiran ini kurang menarik atau karena judulnya yang terlalu ambigu. Entahlah.

Tapi sejak tanggal cantik 12-12-12, peluncuran 5cm. dalam format film, perhatianku sontak tersedot. Dan akhirnya kemarin, keinginan nonton film ini kesampaian juga. Berikut resensinya. ^_^

Film 5cm. yang diadaptasi dari novel best seller karya Donny Dirghantoro yang sudah memasuki cetakan ke 25 pada bulan Desember 2012 ini menceritakan tentang lima sahabat yang sudah sangat dekat selama sepuluh tahun. Tidak pernah melewatkan weekend tanpa nongkrong bareng. Mereka adalah Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji). Kelima sahabat ini punya keunikan masing-masing. Mulai dari Zafran yang puitis, sibuk merayu Dinda, adik Arial, tapi tak pernah bersambut karena sifat Dinda yang terlalu datar. Arial, cowok berbadan oke tapi grogian kalo ketemu cewek dan kebiasaannya membawa kecap kemana-mana hampir melunturkan tingkat ke-macho-annya. Ian, si gendut yang doyan banget makan mi, nonton bokep, sama gag lulus2 kuliahnya. Sampai Genta dan Riani, yang terkena loving friend syndrome, tapi sama2 gag pernah berani untuk ngungkapin karena takut akan kehilangan sosok sahabat itu sendiri.

Ceritanya dimulai waktu Genta ngusulin untuk mereka pisah dulu selama beberapa waktu untuk menghilangkan ‘jenuh’ yang tanpa terasa sudah mengiringi hari-hari mereka. Riani sempat gag setuju, tapi dengan dikuatkan oleh keempat sahabatnya, Riani akhirnya setuju.

Kemudian disepakatilah mereka tidak ada kontak sama sekali selama tiga bulan, dan pada tanggal yang sudah ditentukan, mereka bertemu di stasiun kereta. Menuju suatu destinasi yang kata Genta gag akan pernah mereka lupakan seumur hidup. Dan destinasi apakah yang dimaksud Genta? Yup, mendaki gunung tertinggi di daratan Jawa, Gunung Semeru.

Ada satu rasa yang menjalar-jalar dihatiku kala menyaksikan kelima sahabat ini akhirnya bertemu di stasiun kereta. Saling mengungkapkan kangen masing-masing. Chemistry yang mereka ciptakan sangat terasa. Kerenlah pokoknya. Dan kali ini mereka tidak hanya berlima, Dinda, adik Arial turut serta. Jelas saja ini membuat semangat Zafran menggebu-gebu. Di dalam kereta, Zafran sempat beradegan romantic dengan cewek ini. Dengan sok romantic, Zafran mengajak Dinda menyaksikan pemandangan dari pintu kereta. Dengan melongokkan kepala dan separuh badan keluar. Menikmati anak angin yang menampar-nampar wajah.

Well, perjalanan yang sebenarnya dimulai ketika mereka sudah di kaki gunung Semeru. Dengan tekad kuat, mereka mulai mencetuskan semangat masing-masing. “Untuk sampai disana, kita hanya butuh kaki yang lebih lama berjalan dari biasanya, tangan yang bekerja lebih keras dari biasanya, mata yang menatap lebih lama, dan mulut yang senantiasa berdoa.” Untuk yang ini aku gag ingat persis redaksi kalimatnya. Hehehe. Yang jelas waktu mereka mengucapkan, kalimat itu seperti mantra, punya kekuatan yang bisa menghantarkan mereka ke puncak gunung Semeru. Sambil meletakkan jari telunjuk lima senti meter di depan kening masing-masing, mereka mulai menjejak.

Medan yang mereka lewati benar-benar berat. Pasirnya tidak boleh dipijak terlalu kuat, karena di khawatirkan akan bergeser, abu vulkanik yang tebal, sampai kemungkinan batu-batu yang berjatuhan dari atas. Tapi dengan keinginan kuat, dengan tekad yang sudah digantungkan lima senti meter di depan kening, mereka akhirnya bisa menjejakkan kaki di puncak Semeru. Menyaksikan samudra di atas awan dan yang paling penting mengibarkan sang saka merah putih di puncak Semeru.

Di puncak ini, akhirnya mereka menemukan cita dan cinta mereka. Ending yang sulit di tebak. Di awal kisah, Genta dan Riani dibuat seolah menyimpan perassaan berbeda diantara keduanya. Saat Genta mengutarakan, yang dengan penuh perjuangan banget, Riani malah menolak.

“Bukan kamu, Ta. Bukan kamu yang ada di hati Riani. Nama itu Zafran.”

Kalimat Riani sontak membuat Genta kaku. Diam dalam pelukan Riani yang ternyata menyukai Zafran. Serunya, Zafran ternyata mendengar kalimatnya. Dan ternyata Riani-lah alasan Zafran untuk terlahir di dunia. Dan Dinda, ternyata malah menyukai Genta, bukan Zafran. Bingung? Nonton aja deh langsung. :D

Kekurangannya, film ini sedikit lebay saat menggambarkan perjalanan mereka menuju puncak. Mereka berlima berjalan tanpa bantuan tali sama sekali. Padahal jelas, mereka amatir dalam hal mendaki. Jadi kesannya maksa banget. Sampai saat ini, saat aku mengingat-ingat film yang kutonton kemaren itu, baru itu kekurangan yang kutemui.

For The Last, Film ini bagus dan recommended banget buat kamu-kamu yang haus film berkualitas dan sarat pesan. Rizal Mantovani, sang sutradara berhasil membuat film yang memamerkan keindahan alam Indonesia, menciptakan chemistry kecintaan pemuda pada bangsanya, dan menyiratkan bahwa dengan tekad kuat setinggi apapun impian kita, tak ada hal mustahil.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar