Senin, 04 Mei 2015

EMPAT PULUH LIMA MENIT


Soraya
Kuseret langkahku melewati boarding pass. Ini memuakkan. Sebulan terakhir, sudah tiga kali kulakukan. Mungkin bulan depan empat kali, lantas bulan depannya sepuluh kali. Sampai aku mati bosan.
“Traveling lagi, Miss Soraya,” pramugara yang belakangan kutahu bernama Jean menyapa.
Lagi-lagi, ini memuakkan. Tapi aku hanya tersenyum.
Pandanganku kosong mendengar pramugari yang lain menginformasikan cara penyelamatan jika pesawat dalam keadaan darurat. Aku sampai hapal luar kepala. Meski sebenarnya aku lebih ingin tak tahu apa-apa. Jadi, jika saja pesawat ini meledak, maka aku pasti mati.
***
Ben
“Selamat pagi, Sir Ben.” Sapa Jean. “Sudah lama tidak terbang, pekerjaan sedang padat, Sir?”
“Begitulah.”
“Semoga empat puluh lima menit kedepan menyenangkan, Sir,” Jean menunduk pamit.
“Jean,” sergahku, “Dia ada?”
“Di kursi nomor 47, Sir,” Jean tersenyum, dan berlalu.
Aku tersenyum. Sudah nyaris dua bulan aku tidak dinas keluar, dan sudah pasti aku tidak bertemu dia. Aku rindu wajah dengan senyum sedingin salju itu. Pesonanya mengagumkan meski sebenarnya kami tak pernah bertegur sapa. Beberapa bulan terakhir, sejak aku rutin melakukan perjalanan dinas ke negeri jiran, aku kerap satu pesawat dengannya. Aneh? Ya! tapi aku lebih suka menyebutnya ‘jodoh.’
***
            Soraya
Aku benar-benar akan mati bosan! Ini baru menit ke sepuluh, dari empat puluh lima menit yang panjang. Kenapa sebegitu jauh jarak antara monas dan twin tower, hah?! Kalau aku tidak jadi mati dalam waktu dekat, aku ingin suatu saat nanti empat puluh lima menit bisa dipersingkat jadi sepuluh atau lima belas menit saja.
Disebelahku, seorang gadis duduk tenang, matanya memejam, dan ditelinganya menggantung ear phone. Aku iri! Aku tidak pernah memejam dengan tenang. Saat mataku mengatup, otakku segera me-reka adegan pertengkaran hebat mama papaku soal perselingkuhan papa, tangisan keras adik perempuanku, dan suaraku yang memohon Tuhan mengambilku segera. Tapi entah kenapa sampai detik ini aku masih bernyawa. Padahal, aku tahu dokterku sudah bilang ke mama kalau umurku tak lagi lama. Mungkin Tuhan sedang menghukumku. Menyiksaku dengan kanker darah ini sedikit lebih lama.
            “Sorry,” seorang lelaki menarikku dari lamun. “Kita sering satu pesawat ya?” ia tersenyum.
            “Kebetulan,” sahutku pendek.
            “Dari sekian banyak maskapai, sekian banyak jam keberangkatan, dan kita berkali-kali bertemu. Ini ajaib,” ujarnya antusias. “Namaku Ben.”
            “Soraya.”
            “Senang berkenalan denganmu, Soraya. Travelling?”
            “Kamu ngapain ke KL? Perjalanan dinas?” tanyaku mengalihkan.
            “Menemani kamu.”
            Keningku mengerut. Aku memang hapal dengan wajah tirus, dan bibir tipis itu. Pun aksennya yang melayu kental. Kami sering satu pesawat, tapi aku benar-benar tidak tahu kalau dia yang terlihat tak banyak bicara juga seorang buaya.
***
Ben
Aku menghapus wajah, ternyata salju tidak hanya ada di senyumnya, pun pada sikapnya. Tapi empat puluh lima menit kali ini takkan kubuang percuma. Aku terus  mencari celah agar ia bisa menerimaku menjadi teman seperjalanannya.
 “Aku tahu kenapa kamu tidak pernah melihat keluar jendela, Soraya,” ujarku.
“Kenapa emang?”
“Karena kamu tahu, nggak ada pedagang asongan yang jualan di awan.”
Berhasil! Dia tertawa kecil. Cantik sekali. Tuhan, jika saja empat puluh lima menit ini diperpanjang, aku tidak keberatan!
Berbulan-bulan terakhir aku menganggap empat puluh lima menitku bersama Soraya singkat. Ia sangat dekat, tapi tak sedikitpun keberanianku timbul untuk sekedar menyapanya. Kekagumanku habis dalam bayangan. Aku hanya berani memandangi, dan mencintainya dalam persembunyian. Tapi kali ini, entah bagaimana, aku bernyali menghampiri dan mengajaknya ngobrol. Jean yang melihat aksiku tersenyum lebar. Jempolnya terangkat. Dia tahu saja aku butuh penyemangat.
“Soraya,” panggilku, berusaha membuat ia memandang ke arahku. “Kamu cantik hari ini.”
Soraya mengibaskan tangannya di udara. Tertawa mengejek.
***
Soraya
Aku muak! Semua lelaki sama saja, kan? Mereka semua baik di awalnya. Mempesona di perkenalan pertama. Tapi hanya akan ambil langkah seribu begitu tahu aku ini calon mayat. Ben itu bukan lelaki pertama, sudah ada Ben Ben lain sebelumnya. Dan semuanya sama saja.
Pujian-pujian murahan. Perempuan dengan wajah putih pucat, badan kurus, dan senyum dingin sepertiku dia bilang cantik?! Aku muak dengan omong kosong!
 “Sampai ketemu di empat puluh lima menit selanjutnya, Ben,” ujarku menutup cerita.
“Boleh aku bertemu kamu di bumi, Soraya? Dengan waktu yang lebih panjang dari sekedar empat puluh lima menit di udara?”
Gerakku terhenti. Dia masih ingni menggodaku lebih dalam? Hah, bertemu di bumi, katanya, ya, kalau dia ingin bertemu lagi, memang di bumi lah tempatnya.
“Nanti, kalau kita tak pernah satu pesawat lagi, kamu boleh minta alamatku pada Jean,” aku berusaha tersenyum, lantas segera berlalu.
***
Ben
Aku tidak percaya apa yang kulihat. Senyum dan tawa yang kudapat kemarin, adalah senyum dan tawa terakhir. Secarik alamat dari Jean, menuntunku kesini, ke tempat peristirahatan terakhir gadis pemilik senyum salju yang diam-diam kucintai.
“Sesuai permintaanmu, Ben. Kita bertemu kembali di bumi, untuk waktu yang panjang. Selamanya.”
Tuhan, kumohon, kembalikan empat puluh lima menit kami!
***

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Remaja Medan DiGi Magz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar