Selasa, 12 April 2016

KARENA MASALAH MEMANG HARUS ADA

Masalah membuat kita semakin matang dalam berfikir, semakin bijaksana dalam mengambil keputusan, dan semakin dewasa dalam mereguk hikmah. Masalah ada agar kita berproses. Segala yang dilalui dengan instan, mungkin simple, dan mudah. Tapi tentu melewatkan suatu yang berharga;  proses.

Aku berada di comfort zone sekian lama. Di posisi-ku saat ini aku merasa nyaman dan aman. Kenapa? Karena ternyata tempatku berdiri adalah tempat yang terlindung dari sengatan matahari, dan terhalau dari deru hujan. Aku bisa melakukan apapun sesuka-ku. Hanya, aku adalah seorang yang patuh pada aturan, dan takut pada hukuman. Jadi, sekalipun aku bebas melakukan apa yang aku suka, aku masih mampu meredam kegilaan-kegilaan yang mungkin terbersit difikiran untuk dilakukan.

Awalnya kufikir, tempatku akan menjadi surga dunia. Perasaan nyaman dan aman ini melenakan. Tak pernah terfikirkan aku akan melewati masa sulit saat aku masih berpijak dan berteduh di tempat yang sama. Kau tau, jika kita sudah terlalu yakin, terlalu percaya dengan posisi aman, kita tak pernah berfikir sedikitpun untuk mempersiapkan ‘may day.’ Iya, aku terbuai. Keberpihakan dunia terhadap hidupku melenakan, dan membuatku abai terhadap sesuatu di masa depan.

Jika dulu aku tanggap resiko, dan berusaha memanajemen resiko tersebut seminim mungkin. Maka aku yang sekarang adalah orang yang baru sadar untuk me-manaj resiko setelah masalah kadung datang.

Seperti yang kubilang di awal, berada di comfort zone tak lantas membuatku terbebas dari masalah. Karena sejatinya, masalah ada karena aku memang manusia. Inilah hidup. Tidak ada kenyamanan yang selamanya nyaman. Tidak ada jalan yang datar2 saja. Mulus2 saja. Bahkan jalan tol pun punya tikungan tajam.

Ini terjadi baru saja. Baru sekitar beberapa hari lalu, atau mungkin dua minggu lalu. Kejadian ini begitu cepat sampai aku gelagapan. Saat itu, aku tengah mengajar di salah satu kelas. Kelas sudah terkondisi dengan baik dan tertib sebelum akhirnya aku memulai pelajaran. Aku memang amatiran di dunia pendidikan, tapi jujur saja, aku galak di kelas. Kebetulan siswa-siswaku saat itu juga sedang baik budi.  Di saat semua terkondisi dengan baik, kejadian naas itu datang.

Aku yang sedang menulis materi di papan tulis disadarkan seorang siswa kalo ada anak perempuan yang menangis di belakang. Saat kuhampiri dan menanyakan kronologis kenapa dia menangis, aku tertegun. Air matanya berurai. Dan aku bahkan tak tahu harus apa dan bagaimana.

Setelah kejadian itu, aku benar-benar terbeban. Bagiamanapun, aku bertanggung jawab atas kelasku. Support dari beberapa orang teman sedikit membantu, sih. Tapi jelas bukan membuat bebanku berkurang.

Aku memikirkan jalan keluar sendiri. Kutemui kepala sekolah dan menjelaskan semuanya, mulai dari awal hingga akhir tanpa rekayasa. Kujelaskan dan kuakui itu tanggungjawabku, karena saat itu memang aku yang berada di kelas. Diluar dugaan, ternyata beliau sudah dengar kronologinya dari rekan yang lain, dan memaklumi kejadian naas itu. Kau tau, setelah aku selesai melapor, rasanya dadaku ini plooooong banget. Bebanku terurai satu per satu.

Lantas jalan kedua yang kugunakan untuk mengurai beban ini lebih dalam, aku menjenguk siswaku itu. Bersama beberapa teman, kami mengunjungi, membesuk, memberikan semangat, dan menguatkan. Semoga menjadi penawar lukanya. Semoga menjadi pengobat hati orang tua dan keluarganya. Mohon doakan agar ia lekas sembuh ya. J
 
Ini yang kumaksud tadi. Masalah itu mendewasakan.
Sebelumnya, aku gak pernah tau seperti apa aku harus melewati ini semua. Ini hal yang belum pernah kuhadapi sebelumnya. Sama sekali belum pernah. Dan ternyata aku berhasil menghadapinya. I face it. I did it well.

Ternyata, ada perubahan signifikan dari aku yang dulu dan aku yang sekarang. Yang berbeda adalah cara menghadapi masalahnya. Aku bukan tipe orang yang bisa cuek, acuh, dan tak ambil pusing dengan masalah yang ada. Kalau kau mengenalku, kau pasti tahu, aku termasuk manusia labil yang apa-apa menggunakan perasaan. Memang, sebagai perempuan kecenderungan untuk mengambil keputusan menggunakan perasaan adalah hal yang lumrah. Tapi, ternyata, sadar atau tidak, itu merugikan. Harusnya kita bisa menyeimbangkan antara logika dan perasaan.

Jika saja kemarin aku tidak menemui kepala sekolah, jika saja aku tidak tergerak untuk menjenguk, jika saja aku hanya hanyut dalam perasaan bersalah. Atau, aku menjadi pribadi dengan ego tinggi, menganggap itu semua kejadian naas, dan memang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Jadi bukan salahku. Toh, kelasku terkondisi dengan baik. Jika saja semua kalimat dalam paragraph ini benar kulakukan, aku benar2 adalah perempuan lemah, dan bodoh.

Akhir2 ini, aku mulai mendewasa. *eeeaaakk* Mungkin karena efek udah dualima kali ya? Hahaha… Alhamdulillah. Ternyata seiring bertambahnya usia, aku semakin bijaksana. *piwiiiiitt* *Yang mau muntah, silakan. Yang mau nokok aku, tokok aja laptop atau Hp klen. Yang mau traktir aku,  ditungguin yak. Hahaha*

Well, makasi ya wee, yang kemaren udah nasehatin aku, yang kemaren udah bantuin aku nyelesein masalah ini. Yang udah bersedia kurepotkan dengan nganterin aku jenguk. Kalian luar biasaaa… :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar